After Darkness

After Darkness
Episode 119



Deru napas Robin begitu lembut, namun keningnya berkerut. Elsa pun memberanikan diri memijat kening Robin dengan sangat lembut hingga perlahan kerutan itu hilang. Robin mengerang lirih dalam tidurnya, ia bergerak tidak nyaman mungkin karena tidak memakai bantal.


Elsa pun mengambil bantal ke kamarnya, kemudian ia mengangkat kepala Robin dengan pelan namun tiba-tiba Robin membuka mata yang membuat Elsa terkejut. Tatapan keduanya bertemu, dengan tangan Elsa yang masih memegang belakang kepala Robin.


Posisi keduanya begitu intim saat ini, membuat detak jantung keduanya berpacu cepat.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Robin dengan suara serak, khas bangun tidur. Elsa gelagapan, ia hendak menjauhkan diri dari Robin namun tiba-tiba Robin menarik tangan Elsa hingga Elsa jatuh di pelukannya, Robin langsung mengunci tubuh Elsa dengan lengannya, ia mendekap Elsa dengan erat menggunakan tangan kanannya.


"Robin, lepaskan aku...." Elsa berkata dengan lirihsembari berusaha memberontak, ia merasa gugup dan jantungnya berdetak kencang, Elsa takut Robin sampai bisa mendengar suara detak jantungnya itu.


"Tutup matamu," tukas Robin tiba-tiba yang membuat Elsa justru melotot bingung. Robin terkekeh, kemudian ia menutup mata Elsa menggunakan tangan kirinya.


Elsa tak memberontak, ia hanya diam seperti menunggu apa yang akan Robin lakukan selanjutnya, bahkan Elsa menahan napas dan dadanya semakin berdebar tidak karuan, bibirnya sedikit terbuka, membuat Robin tergoda. Dengan berani, Robin mendekatkan bibirnya ke bibir Elsa dan memberikan kecupan lembut di bibir Elsa.


Hati Elsa terkesiap merasakan sentuhan bibir Robin, namun anehnya, ia tidak marah, tidak mampu menolak, justru ia merasa suka dengan kecupan itu yang kehangatannya seolah terasa sampai ke relung hatinya yang paling dalam. Bahkan, hanya karena kecupan singkat itu, napas Elsa memburu, gairahnya seperti terpancing, pusat dirinya berkedut, ia begitu sensitif.


Robin yang melihat tak ada penolakan dari Elsa, kembali memberanikan diri mengecup bibir Elsa masih dengan telapak tangannya yang menutup mata Elsa. Robin memberikan ciuman basah, membuat Elsa meremang dan tanpa sadar, Elsa meremas lengan Robin.


Masih tak ada penolakan dari Elsa, Robin semakin berani meng-eksplor setiap inci bibir Elsa, ia menjilatnya, mellumatnya, dan menggigitnya yang membuat Elsa mengerang dan ia membuka mulut tanpa sadar. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Robin, ia langsung menyusupkan lidahnya ke mulut Elsa, membuat seluruh tubuh Elsa panas dingin, darahnya berdesir dan otaknya blank.


Robin mencari-cari lidah Elsa, kemudian lidah panasnya itu membelit lidah Elsa, memanjakannya yang membuat tubuh Elsa terasa lemas dan akhirnya ia menjatuhkan diri di pelukan Robin hingga tubuh keduanya menyatu.


Tangan Robin tak mau tinggal diam, bergerliya nakal di punggung Elsa, menyusup di balik piyama yang Elsa kenakan. Ciuman keduanya begitu lembut namun panas, membakar gairah dalam jiwa muda mereka.


"Acchhh...." Elsa mengerang saat merasakan tangan panas Robin menyentuh kulit punggungnya hingga tiba-tiba bayangan dimana Robin melecehkannya berputar kembali dalam benak Elsa.


Elsa terkejut, ia segera membuka mata dan langsung menjauh dari Robin yang membuat Robin juga terkejut.


Elsa berdiri, napasnya memburu, dadanya naik turun, dan tatapannya sangat sulit di artikan.


Sementara Robin, ia pun baru tersadar atas apa yang ia lakukan. Tadinya, Robin hanya ingin menggoda Elsa karena biasanya Elsa pasti akan melawan dan mengumpat padanya, namun pagi ini Elsa berbeda, ia menurut seperti seorang kekasih yang sedang menahan rindu.


Robin beranjak duduk, ia menatap Elsa dengan sayu, ia takut Elsa marah atas apa yang ia lakukan.


"Els ... tadi aku...."


Elsa langsung berlari masuk ke kamarnya yang membuat Robin langsung menghela napas berat, Robin ingin mengejar namun Robin takut terjadi pertengkaran seperti biasa, Robin hanya bisa memukul kepalanya sendiri. Hatinya merutuki kebodohannya pagi ini.


"Sialan, Robin. Pasti dia marah lagi..."


Tbc....