
"Elsa, kamu sudah bangun?" Bu Isna mengetuk pintu kamar Elsa sembari memanggil Elsa.
"Elsa, ayo bangun!" teriaknya karena tak ada tanggapan dari dalam.
"Sa?" Bu Isna mencoba membuka pintu dan ternyata pintunya tidak terkunci, Bu Isna pun masuk ke kamar Elsa dan ia terkejut saat tak mendapati Elsa disana, bahkan ranjang Elsa masih sangat rapi.
"Elsa!" Bu Isna mencari Elsa ke kamar mandi namun kamar mandi juga kosong, hanya ada baju kotor Elsa dan handuk yang lembab tergeletak di lantai, lantai kamar mandi juga basah.
"Apa Elsa mandi sepagi ini?" Gumam bu Isna. Ia pun mencari Elsa keluar namun ia masih tak menemukan tanda tanda Elsa, membuat ia mulai panik.
.........
Elsa yang tidak tahu bagaimana caranya meminta izin pada orang tuanya akhirnya memilih cara lama untuk pergi dari rumah, menyelinap.
Saat semua orang masih tertidur, Elsa diam-diam keluar dari rumah. Ia memesan taksi online untuk mengantarnya ke bandara, Elsa tahu ini akan membuat orang tuanya khawatir, namun Elsa tidak punya pilihan lain.
Sesampainya di bandara, Elsa masuk dan ia duduk di ruang tunggu karena jam penerbangannya masih satu jam lagi.
"Aku harus bilang apa sama Mama Papa?" Gumam Elsa sembari menatap ponselnya, ia ingin menghubungi orang tuanya namun masih ragu.
Elsa meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas, ia menunduk sedih, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Janin, ada janin yang akan tumbuh di rahimnya dan Elsa benar-benar tidak menginginkan hal itu. Saat meratapi nasibnya, tiba-tiba Elsa merasakan sebuah sentuhan di pundaknya yang membuat Elsa langsung mendongak. Kedua bola mata Elsa langsung melotot sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
Plakkk
"Sialan, kamu benar-benar sialan!" geramnya sambil menangis. "Kamu jahat, dasar bocah tengil! Kamu jahat, kamu kurang ajar, aku benci kamu!" Teriaknya yang tentu saja hal itu menarik perhatian banyak orang, sementara Robin hanya bisa tercengang menerima perlakuan Elsa yang tiba-tiba itu.
"Hey, ada apa?" Tanya Robin tanpa memperdulikan perih di pipinya akibat tamparan Elsa, ia justru perduli pada tangisan Elsa. "Kamu mau kemana, Sa? Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Robin dan seketika Elsa sadar dimana ia berada sekarang. Elsa langsung menatap ke sekelilingnya, kemudian ia menghapus air matanya dan ia menarik napas untuk menenangkan diri.
"Hey..." Robin hendak menyentuh Elsa namun Elsa langsung menepisnya dengan kasar. "Ada apa, Sa? Kamu mau kemana?" Robin mengulangi pertanyaannya lagi.
"Mau menemui kamu, bodoh!" Desis Elsa tajam.
"Jaga bicaramu, Elsa. Ini tempat umum!" Robin pun mendesis tajam kemudian ia menarik paksa tangan Elsa tanpa memeprdulikan Elsa yang mencoba memberontak.
"Aku kesini mau menemui kamu," ucap Robin sembari membawa Elsa keluar gedung bandara.
"Baguslah, dengan begitu masalah ini cepat selesai," jawab Elsa.
Robin memanggil taksi kemudian ia membawa Elsa masuk. "Jadi, kamu mau bicara apa? Masalah apa?" Tanya Robin dan ia menatap mata Elsa, Robin baru menyadari mata Elsa begitu sayu, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, bahkan wajahnya begitu pucat. "Kamu sakit?" Tanyanya cemas.
"Aku hamil, bodoh!"
"Apa?!"