After Darkness

After Darkness
Episode 188



"Sabar, Sayang. Pelan-pelan...." Elsa memperingatkan Robin yang mulai kehilangan kendali, Robin bahkan kembali morobek daster yang Elsa kenakan. Saat ia hendak merobek kain segitiga itu, Elsa langsung mencegahnya.


Malam ini adalah ketiga kalinya ia akan bercinta dengan Robin, pertama kali sebuah pelecehan, kedua kali sangat tidak fokus dan bahkan tidak begitu memuaskan karena si kecil yang rewel, dan yang di ketiga ini, Elsa ingin romantis dan sempurna.


Sementara alasan Robin terburu-buru karena ia takut anaknya terbangun dan kembali menggagalkan menu makan malamnya.


"Nanti si kecil bangun, Els. Ganggu kita seperti waktu itu, nanti aku tersiksa kalau belum selesai," rengek Robin yang membuat Elsa terkekeh.


Ia menangkup pipi suaminya itu, mencium bibirnya dengan lembut sebelum akhirnya ia membawa tangan Robin pada kain segitiga yang menutupi mahkotanya itu.


"Buka pelan-pelan, Sayang. Aku ingin bercinta, bukan hanya melampiaskan hasrat," tukasnya dengan tatapan yang begitu sendu, begitu menyihir Robin.


Robin memegang pinggiran kain mungil itu sebelum akhirnya menarik turun kain itu, Robin menelan ludah dan ia menahan napas saat melihat pusat tubuh sang istri yang seolah memanggilnya.


Elsa mengangkat kakinya, meloloskan benda itu dari tubuhnya. Sementara Robin justru menghirup aroma kain segitiga itu sambil menatap Elsa dengan intens, Elsa salah tingkah, pipinya merona merah, darahnya berdesir.


Robin melempar barang itu kemudian ia menyerang bibir sang istri, awalnya ia mengecupnya dengan lembut, kemudian menciumnya dengan intens hingga akhirnya berakhir dengan saling mellumat dan memainkan lidah mereka.


Perlahan Robin mendorong Elsa hingga kembali jatuh ke ranjang dengan kaki yang tetap menjuntai ke lantai, pemandangan ini hampir membuat Robin kalap namun ia teringat dengan permintaan Elsa.


Ia ingin bercinta malam ini!


Robin menarik Elsa dan mengarahkan tangan Elsa agar membuka pakaiannya, Elsa melakukannya dengan tenang, tidak tergesa dan hal itu justru seperti godaan untuk Robin.


Saat Elsa berhasil menanggalkan seluruh pakain Robin, Robin kembali menidurkan Elsa dengan posisi seperti tadi


Keduanya kembali berciuman dengan lembut namun menuntut, tangan keduanya pun tak bisa tinggal diam, saling menggerayangi dengan nakal, hingga akhirnya tangan mereka menemukan apa yang akan jadi menu utama malam ini.


"Aaccchhh...." Elsa melenguh saat jari Robin memasuki lembahnya yang hangat dan basah di bawah sana.


Robin berseringai puas saat merasakan keadaan di bawah sana, ia mencium rahang Elsa, kemudian menggigit daun telinganya yang membuat Elsa kembali melenguh dan menggelinjang, hal itu justru membuat jari Robin masuk lebih dalam disana.


"Kamu sudah sangat basah, Sayang. Disini licin, kamu sudah siap, eh?" Pipi Elsa langsung memerah mendengar ucapan suaminya itu.


Robin pun menjalankan aksinya, menggoda sang istri sampai membuat sang istri menggeliat seperti cacing kepanasan.


Elsa membekap mulutnya sendiri saat ia tak lagi mampu menahan desahannya, selain tak ingin membuat anaknya terbangun, Elsa juga takut sampai ada yang mendengar suara desahannya itu karena kamarnya tidak kedap suara seperti kamarnya yang di Jakarta.


Robin menarik tangan Elsa yang membekap mulutnya dan Robin menggantinya dengan bibirnya. Robin menutup mulut Elsa dengan mulutnya sementara di bawah sana jarinya bergerak lebih cepat dan dalam, membuat Elsa melayang ke udara hingga akhirnya ia menjemput kenikmatan yang di janjikan sang suami.


Napas Elsa putus-putus dan tatapannya begitu sayu, tubuhnya mulai mengkilap karena keringat, dadanya naik turun, menggoda iman Robin.


"Aagghh"


"Aacchhh..."


Elsa dan Robin mengerang bersamaan saat dua pusaka itu bertemu, tatapan keduanya terkunci, bibir keduanya terbuka dan bernapas dengan berat.


Robin mulai bergerak perlahan dan itu membuat Elsa menahan napas, baru dua kali ia menerima serangan Robin, dan ia belum terbiasa sepenuhnya.


Robin menatap mata Elsa dengan cinta, kerinduan, dan hasrat yang membara.


"Kamu adalah wanita yang memperkenalkanku pada segalanya, Els," gumam Robin sambil terus memacu di bawah sana.


"Pada cinta, kehidupan, dan hasrat. Aku gila, Sayang. Kamu membuatku gila," racau Robin dan ia bergerak lebih cepat, lebih liar hingga tiba-tiba Elsa membalik keadaan hingga kini Robin yang berada di bawah.


"Aku suka saat membuatmu gila, bocah tengil," desis Elsa yang kini bergerak di atas tubuh Robin. Elsa membawa tangan Robin ke bibirnya, mencium buku jari-jarinya dengan lembut.


Hal sederhana itu berhasil membakar gairah Robin lebih membara. "Aku adalah kegilaanmu, bocah tengil. Apa aku benar?" Goda Elsa sembari bergerak lebih cepat dan lebih liar.


"Yeah...." jawab Robin dengan susah payah.


"Aku ingin memegang kendali atas dirimu, bolehkah?" Elsa kembali menggoda sambil bergerak memutar.


Robin tak bisa menjawab, ia justru mengerang, menggeram, melenguh, mendessah dan fokus pada kenikmatan yang di janjikan Elsa.


"Jawab aku, Robin sayang...." desak Elsa.


"Ah, yeah. Lebih cepat, Sayang!" racau Robin namun seketika Elsa justru berhenti bergerak yang membuat Robin menggeram frustasi.


"Jawab dulu pertanyaanku, sayangku." Goda Elsa, ia bergerak, namun sangat lambat, membuat Robin semakin frustasi.


"Yeah, oh yeah..."


"Yeah apa?" Tanya Elsa, ia menunduk, menciumi dada Robin, menghisap kulitnya dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana, membuat otak Robin semakin blank.


"Kau adalah kegilaanku, Sayang. Kau memegang kendali atas diriku!" Robin berkata dengan pasrah sebelum akhirnya ia kembali mengambil kendali.


Robin berguling dan kini Elsa yang di bawah, Elsa terkekeh dan berkata. "Cium aku, Sayang. Aku ingin di cium...."