
Karena keteledorannya saat menyetir, Robin harus berusan dengan polisi di karenakan pemilik mobil yang ia tabrak adalah seorang wanita paruh baya yang sangat cerewet.
Robin sudah berusaha menyelesaikan masalah dengan jalan damai dan bersedia membayar kerugian berapapun yang wanita itu mau, namun wanita itu tetap bersikukuh melapor polisi.
Akhirnya Robin pun menggunakan kekuasaannya untuk menyelesaikan masalah ini karena Robin harus segera ke kampusnya.
Robin menjalankan sidang skripsinya dengan tenang dan semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan.
.........
"Elsa...!"
"Elsa, buka matamu, Nak!"
"Elsa, ayo bangun!"
Bu Yuni menepuk pipi Elsa berkali-kali sembari terus berusaha membangunkan Elsa yang ia temukan pingsan dalam bath tub. Ia semakin panik karena suaminya sudah pergi bekerja dan tak bisa di hubungi, sementara Dokter yang ia panggil belum juga sampai.
Yang bisa ia lakukan hanya bisa menghubungi Arfan dan Arfan memandunya untuk memberikan pertolongan pertama pada Elsa.
"Elsa benar-benar pucat, Fan. Mama takut," lirihnya dengan cemas.
"Mama jangan panik, yang penting pastikan Elsa masih bernapas, hangatkan badan dia dan terus bangunkan dia, Ma. Oh ya, berikan minyak kayu putih di bawah hidungnya, Ma," ucap Arfan dari seberang telfon.
"Ayo bangun, Sa. Mama mohon!" Bu Isna menepuk pipi Elsa lebih keras kemudian ia kembali mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Elsa, hingga akhirnya perlahan kedua mata Elsa mulai terbuka dan bibirnya sedikit terbuka.
"Ma..." panggilnya tanpa bersuara.
"Oh Tuhan, syukurlah kamu sudah sadar, Sa. Mama sudah sangat cemas tadi," ucap Bu Isna yang kini sudah bisa bernapas lega, "Kamu tidak apa-apa, Nak? Kenapa kamu bisa pingsan di buth tub?" Tanyanya.
Elsa memutar kembali ingatannya pada kejadian sebelum ia pingsan, tadinya Elsa hanya ingin menenangkan diri dengan berendam di dalam buth tub, namun Elsa tidak bisa mengendalikan diri saat mengingat bagaimana gelapnya hidup yang ia jalani selama ini.
"Fan, Elsa sudah sadar," Bu Isna segera memberi tahu Arfan yang masih tersambung dalam telfon.
"Iya, Sa. Mama panik tadi karena kamu pingsan dalam buth tub, Mama telfon papa, dia tidak jawab, Mama juga sudah panggil Dokter, tapi belum juga datang," tuturnya panjang lebar yang membuat Elsa langsung panik saat ia mendengar kata Dokter.
"Do-dokter?" Pekiknya dan ia pun langsung beranjak duduk.
"Iya, Sa. Kamu harus di periksa sebelum sakitmu semakin parah," ujar bu Isna namun Elsa langsung menggeleng.
"Ma, aku sehat. Aku pusing karena ... karena kurang minum aja," ujarnya dengan gugup.
"Sudah, Sa. Kamu jangan melawan, Mama tidak mau ambil resiko!" tegasnya.
"Tapi, Ma..."
"Sudah, sebaiknya sekarang kamu istirahat, biar Mama buatkan sup panas untuk kamu," sela Bu Isna yang membuat Elsa hanya bisa menghela napas berat. Bu Isna pun segera bergegas ke dapur, sementara Elsa langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja.
"Dia harus tanggung jawab!" geram Elsa sembari menghubungi Robin, namun setelah beberapa saat menunggu, tak ada jawaban. Elsa mencobanya lagi namun lagi-lagi tak ada jawaban, membuat ia menggeram kesal.
"Dasar bocah!"
.........
Jimmy yang masih galau memikirkan Elsa yang akan menikah dengan Robin, mencoba menghibur diri dengan mengajak wanita panggilan untuk melayaninya di apartementnya. Namun, ternyata hal itu tak bisa membuat ia melupakan Elsa. Saat wanita itu melayaninya, Jimmy, justru membayangkan Elsa dan saat ia mencapai puncak, Jimmy juga menyebut nama Elsa.
Setelah selesai bersenang-senang, Jimmy yang masih galau pun akhirnya menemui pak Andrew dan Pak Andrew menyambut kedatangannya dengan baik.
"Ada apa? Kamu terlihat sedang gundah?" Tanya pak Andrew sembari berjalan menuju ruang tamu.
"Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu sejak dulu, tapi aku sungkan," kata Jimmy kemudian.
"Tentang apa?" pak Andrew pun balik bertanya.
"Tentang hubungan Elsa dan Robin, kenapa bapak mengizinkan Robin menjalin hubungan dengan Elsa sementara pak Andrew tahu aku sudah meniduri Elsa?"