
Elsa dan Robin hanya bisa menunuduk dalam sementara Pak Malik dan Bu Isna sungguh tidak tahu harus berkata apa, lidah mereka terasa kelu, napas mereka tercekat di tenggorokannya.
Marah, kecewa, sedih, semuanya menjadi satu. Kepala mereka seperti mau meledak dan hati mereka seperti tertindih batu besar saat mengetahui putri mereka tengah hamil besar di luar ikatan pernikahan.
Elsa hanya bisa menangis sesegukan tanpa berani menatap mata kedua orang tuanya, bahkan untuk mengucapkan kata maaf saja Elsa tak mampu.
"Kami ingin bertemu dengan orang tuamu, Robin!" Pak Malik mencoba berkata tegas namun suaranya tetap bergetar.
"Mama sudah tahu, Om," jawab Robin dan ia mengangkat wajahnya, menatap kedua orang tua Elsa itu. "Aku mau bertanggung jawab, tapi Elsa yang tidak mau." lanjutnya sambil melirik Elsa dari ekor matanya.
"Kalian membuat kesalahan sebesar ini, dan kalian....."
"Aku, Tante," sela Robin dengan cepat. "Ini salahku, Elsa tidak salah bahkan dia adalah korban dari kejahatanku."
"Maksudnya?" Tanya Bu Isna.
Mendengar cerita Robin tentu saja membuat Bu Isna dan Pak Malik sangat terkejut, perasaan mereka semakin hancur meskipun Robin sudah menjelaskan bahwa dia sangat ingin bertanggung jawab, dan yang membuat kedua orang tua Elsa lebih terkejut lagi adalah Robin yang mengaku jatuh cinta pada Elsa.
Sepasang suami istri itu merasa bingung dan tak tahu harus menanggapi masalah ini seperti apa, sementara Elsa sejak tadi hanya bungkam dengan air mata yang berlinang tanpa henti.
"Jadi, apakah kalian akan menikah?" Tanya Pak Malik setelah sekian lama ia juga hanya diam demi mencerna cerita Robin.
"Aku ingin menikahi Elsa, Om. Tapi Elsa menolaknya berkali-kali," jawab Robin. "Jadi aku tidak akan memaksa, Elsa juga tidak menginginkan bayi itu, jadi aku akan merawatnya sendiri."
Pak Malik dan Bu Isna semakin bingung mendengar ucapan Robin, apalagi setahu mereka, kebanyakan kasus yang terjadi seperti ini pasti pria yang kabur, tidak menginginkan bayinya bahkan bisa membunuh bayi itu sementara Robin justru bersikap sebaliknya.
"Sebnarnya hubungan seperti apa yang terjadi di antara kalian?" Tanya Pak Malik dengan suara lantang dan emosi yang memulai memuncak karena ia sungguh bingung dengan hubungan dua anak muda di depannya ini.
"Kamu Robin! Kamu memperkosa putri kami sampai dia hamil, dan kamu Elsa! Kamu di lecehkan, masa depan kamu hancur! Tapi kalian tinggal bersama bahkan pergi liburan?"
Elsa duduk merenung dengan tatapan yang lurus keluar sana, jendela kamarnya ia buka lebar-lebar, membiarkan angin masuk dan membelai kulitnya.
Sementara kedua orang tuanya duduk di tepi ranjang, memandangi Elsa dari belakang yang kini terlihat jauh lebih gemuk dari sebelumnya.
Setelah perbincangan yang penuh emosi tadi, Robin mempersilahkan kedua orang tua Elsa untuk istirahat karena mereka pasti lelah, Robin merasa ia sudah melakukan semua yang harus ia lakukan termasuk menyatakan keinginannya untuk bertanggung jawab namun juga tak memaksa Elsa, sekarang Robin akan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau.
"Kenapa kamu menolak saat dia mau bertanggung jawab, Sa?" Tanya sang ayah kemudian yang membuat Elsa tersenyum masam, matanya sembab karena ia terus menangis.
"Awalnya aku menolak karena aku takut kalian kecewa dan malu karena aku hamil duluan, aku tidak ingin mencoreng nama keluarga kita lagi," jawab Elsa dengan suara parau.
"Tapi kenapa kamu tinggal bersama pria yang sudah memperkosa kamu, Sa? Kamu tidak takut sama dia?" Tanya sang ibu, Elsa tersenyum samar dan menggeleng.
"Apa yang terjadi tidak sepenuhnya salah Robin," kata Elsa dan ia mengingat kembali kejadian masa lalu, sebelum tragedi pemerkosaan itu.
Kini Elsa menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Robin, bagaimana Robin dan Mamanya salah faham, hingga ancaman Robin agar bekerja di rumahnya menjadi seorang pelayan.
Orang tua Elsa sangat terkejut mendengar cerita itu, mereka tak pernah tahu penderitaan yang di alami sang putri selama ini. Elsa juga memberi tahu orang mereka bahwa Robin adalah pria dengan emosi yang masih labil tapi bukan berarti dia pria jahat. Elsa lah yang memancing emosi Robin, membuat Robin sangat marah hingga berakhir pemerkosaan itu. Namun seiring berjalannya waktu yang mereka lewati bersama, Elsa sadar betapa lembutnya hati Robin. Berkali-kali dia mengalah pada ke egoisan Elsa dan itu membuat hati Elsa tersentuh hingga akhirnya ia jatuh cinta pada pria yang ia anggap bocah tengil itu.
Tbc....
Terus gimana dong? Hem, masih penasaran?
sambil nunggu episode selanjutnya, mampir dulu di novel Defri Yantihermawan17 Yang berjudul Jerat Cinta Sang Player. Cerita ini bagus banget loh, mampir ya.. 😘