
Bu Anita tentu sangat bahagia karena Robin dan Elsa mau pulang ke rumahnya, lebh tepatnya, rumah mereka.
Walaupun cucunya itu masih bayi, Bu Anita sudah memanjakannya dengan memberikan berbagai macam barang yang bahkan bayi itu belum butuh. Bahkan, kini ia dan Elsa harus kembali beradu argumen hanya karena pemilihan warna kamar Baby Arjun.
"Hijau itu jauh lebih bagus, fresh. Cocok untuk bayi, nanti kasih gambar rumput dan hewan, ada langitnya juga," kata Bu Anita.
"Aku tidak mau, aku mau warna biru dan putih saja. Langit juga biru, bisa kasih gambar awan, pelangi, bulan, bintang," balas Elsa yang tak mau kalah.
Bi Sum yang sejak tadi menjadi penonton hanya bisa memijat kepalanya, sejak Elsa kembali ke rumah ini, ia jadi sering sakit kepala.
Bukan karena apa, tapi karena Nyonya besar dan Nyonya mudanya itu beradu argumen hampir setiap hari. Bi Sum dan kedua dayangnya sampai bingung, bagaimana bisa mereka menemukan topik untuk di perdebatkan?
"Bintang dan bulan tidak terlihat di langit yang biru, karena mereka hanya muncul di malam hari saat langit gelap," kata Bu Anita yang masih tak mau mengalah pada Elsa.
Bi Sum melirik jam dinding dan ia menghela napas lega karena sebentar lagi Robin akan pulang, dan biasanya Robin selalu mampu melerai kedua ratunya itu.
"Sama seperti Mama," gumam Elsa kemudian yang membuat Bu Anita langsung menatap tajam menantunya itu.
"Sama? Sama apanya? Sama-sama gelap atau bagaiamana?" Tanyanya.
"Mama itu seperti bintang dan bulan, bersinar dalam kegelapan, kasian deh, butuh gelap untuk bersinar" goda Elsa dan di saat yang bersamaan, terdengar suara klakson mobil Robin. Elsa segera berlari keluar dan Bu Anita pun mengejar menantunya yang durhaka itu.
Robin yang baru turun dari mobilnya di buat bingung karena Elsa dan Bu Anita main kejar-kejaran.
"Masih bobo," jawab Elsa sambil bersembunyi di balik badan Robin. Sementara Bu Anita berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.
"Tema apalagi hari ini?" Tanya Robin.
"Kamar baby Arjun," tukas Bu Anita dengan cepat. "Mama mau warna hijau, warna itu sangat cantik, segar, bagus, cocok untuk anak-anak." lanjutnya.
"Baby Arjun masih bayi, belum anak-anak," sambung Elsa yang membuat ibu mertuanya itu mendelik.
"Jadi? Dimana masalahnya?" Tanya Robin, ia menarik tangan Elsa dan membawanya berjalan di sampingnya.
"Elsa mau warna biru putih," jawab Bu Anita dengan malas.
"Baiklah, kita buat kamarnya berwarna putih, hijau dan biru. Bagaimana?" Tanya Robin, ia juga menarik tangan Mamanya itu dan membawanya masuk ke dalam.
"Di bagian bawah kasih hijau, bisa di gambar apapun yang berwarna hijau, atasnya kasih warna biru langit, warna putihnya bisa di gambar awan. Bagaimana? Perfect?"
Bu Anita dan Elsa saling menatap tajam sebelum akhirnya mereka mengangguk, Robin hanya bisa geleng-geleng kepala. Kadang ia jenuh dengan pertengkaran dua wanita beda genarasi ini, namun tak dapat ia pungkiri, yang membuat harinya berwarna dan tidak membosankan tentu karena keanehan dari istri dan ibunya itu.
"Baiklah, Sayang. Aku mau mandi, bisa kau siapkan air hangat untukku?" Tanya Robin dan Elsa mengangguk sambil tersenyum.
"Ma, siapkan bubur Baby Arjun ya! Sebentar lagi dia pasti bangun," Seru Elsa pada ibu mertuanya itu sang mertua pun mengangguk saja.