
Robin dan Bu Anita memantau para tukang yang kini membuat kebun bunga dadakan di samping halaman rumah mereka.
"Kamu apain Elsa tadi?" tanya Bu Anita pada Robin yang sejak tadi hanya diam dengan ekspresi yang cukup berbeda.
"Kenapa?" tanya Robin tanpa menatap Mamanya.
"Wajahmu memerah," kata Bu Anita yang membuat Robin langsung mengernyit bingung.
"Memerah bagaimana? Dimana?"
"Itu, seperti seseorang yang sedang merona." Robin sedikit terkejut mendengar ucapan Mamanya itu namun kemudian ia terkekeh santai.
"Mama ada-ada saja, memangnya aku mau merona karena apa?"
.........
Sementara itu, Elsa segera bergegas ke kamar mandi dan ia mengguyur tubuhnya dengan air dari bak mandi. Elsa menangis sesegukan sambil terus menyiram tubuhnya. Elsa teringat pada Jimmy, Bagaiamana Jimmy merayunya hingga Elsa terbuai seolah Jimmy adalah sosok yang pantas untuknya. Sementara bersama Arfan, Elsa bahkan tidak pernah berciuman bibir lalu bagaimana bisa Elsa tidur dengan beberapa pria?
"Awas saja nanti kamu, Robin." ucap Elsa kemudian ia menggosok bibirnya dengan kuat.
.........
"Jadi sekarang Mama punya aktifitas baru, kalau cuma menyiram bunga, bisa 'kan?" tanya Robin dan tentu Mamanya mengangguk sambil tersenyum "Anggap saja ini hadiah ulang tahun dari aku ya, Ma. Aku tidak tahu mau ngasih hadiah apa, Mama sudah punya segalanya."
"Tapi Mama tidak bisa hidup bebas seperti orang lain," ucap Bu Anita yang membuat hati Robin terenyuh.
"Nanti aku akan carikan dokter terbaik untuk Mama, supaya Mama bisa jalan lagi. Mama jangan sedih ya," kata Robin menyemangati sang Ibu.
"Dia bisa jalan tanpa Dokter sebenarnya." Robin langsung menoleh saat mendengar suara Elsa dari belakangnya.
Elsa tampak lebih segar, rambutnya setengah basah dan di biarkan terurai bebas. Elsa memakai daster tanpa lengan dengan panjang hanya selutut. Daster itu berwarna pink dan bergambar kartun yang lucu, bahkan bagian bawahnya lebar seperti baju anak-anak. Membuat Robin merasa aneh karena biasanya Elsa mamakai kaos dan celana meskipun dirumah.
"Pengobatannya cuma satu kok, ada kemauan dan jangan terpuruk," kata Elsa lagi yang kini berjalan mendekati Bu Anita.
"Kenapa kamu pakai dress seperti anak-anak begitu?" tanya Robin yang merasa heran.
"Kamu fikir aku tidak ada pekerjaan lain?"
"Ya siapa tahu, mungkin diam diam kamu tertarik sama aku."
"Najis."
"Tadi di cicipi."
"Elsa!"
"Apa?"
Robin menatap tajam Elsa sementara Bu Anita tampak bingung dengan apa yang di bicarakan kedua anak muda ini.
"Apanya yang di cicipi?" tanya Bu Anita.
"Tadi Robin..."
"Bawa Mama ke dalam, Els!" seru Robin yang tak ingin ketahuan jika tadi ia mencium Elsa.
"Baik, Tuan." jawab Elsa dengan santai kemudian ia mendorong kursi-roda Bu Anita masuk ke dalam rumah. Sementara Robin hanya menatap punggung Elsa dengan perasaan yang bergemuruh.
"Apa sebenarnya maksudmu tadi, Els?" tanya Bu Anita sembari menoleh pada Elsa.
"Bukan apa-apa," jawab Elsa tenang.
"Kamu tidak merayu putra ku, kan?" tanya Bu Anita yang membuat Elsa terkekeh.
"Tidak sama sekali, dia masih kecil dan bukan selera ku," jawab Elsa.
"Oh ya, Nyonya mau makan apa siang ini?" tanya Elsa yang membuat Bu Anita kembali menoleh dan menatap Elsa dengan curiga.
"Aku tidak punya niat terselubung, jangan khawatir. Lagipula bukannya ini yang kalian semua mau? Aku menjadi pelayan untuk menebus kesalahanku? Aku tidak masalah, aku akan melayani kalian tapi jika nanti terbukti aku tidak bersalah. Kalian yang harus melayaniku,"