
Sesampainya di apartement Robin langsung menyalakan semua lampu dan seketika apartement yang awalnya gelap itu kini terang benderang, Robin semakin cemas karena sepertinya memang benar Elsa dan kedua orang tuanya pergi. Robin langsung berlari ke kamar Elsa namun ia melihat koper Elsa masih ada di atas lemari, Robin memeriksa isi lemari dan pakaian Elsa masih sangat lengkap, ia juga memeriksa kamar mandi dan tak ada satupun barang Elsa yang hilang.
"Lalu kemana mereka pergi? Apa Elsa sengaja tidak membawa apapun?" Gumam Robin yang masih merasa cemas. Ia pun segera memeriksa kamar tamu dan ia melihat koper orang tua Elsa masih ada disana. Robin semakin bingung, kemana mereka?
Sekali lagi Robin mencoba menghubungi Elsa namun masih tak ada jawaban. "Kamu kemana sih, Els?" geram Robin antara kesal dan marah.
Namun tak berselang lama ponsel Robin berdering dan tertera nama Elsa di sana, dengan cepat ia menjawab panggilan itu. "Dimana kamu, Els? Kamu pergi dari rumah, huh?" teriak Robin.
"Aku di rumah sakit," jawab Elsa dengan suara yang terdengar lemah dan Robin yang mendengar kabar itu tentu saja langsung panik, ia langsung bergegas keluar dari apartement.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu tidak menghubungiku tadi, Els?" Ia bertanya dengan sangat panik, bahkan raut wajahnya pun berubah. Tak ada jawaban dari Elsa. "Kamu di rumah sakit mana? Aku kesana sekarang!"
...
Sesampainya di rumah sakit, Robin langsung menghampiri Elsa di ruang rawat nya dan wanita itu sedang makan bubur ayam. Robin langsung masuk dan mencecar Elsa dengan segala pertanyaan.
"Apa kata Dokter? Kamu tidak apa-apa, kan? Anak kita baik-baik saja, kan?"
"Aku baik-baik saja, tadi cuma kram sedikit," jawab Elsa tanpa berani menatap Robin.
"Oh Tuhan, syukurlah!" Gumam Robin dan ia langsung duduk di samping Elsa, ia menatap Elsa yang justru memalingkan wajah darinya itu. Robin menghela napas panjang, ia mengusap wajahnya dan teringat dengan apa yang ia katakan tadi pagi pada Elsa.
"Apa semua ini karena aku?" Tanya Robin lirih dan terselip nada luka di suaranya, Elsa langsung menatap Robin dan menggeleng.
"Bukan!" jawabnya dengan cepat "Kata Dokter ini sudah biasa kok." lanjutnya.
Orang tua Elsa menatap mereka berdua dengan aneh, karena kedua pemuda itu terkadang seperti air dan api, namun juga terkadang seperti pasangan yang serasi dan saling melengkapi.
"Hanya sampai besok pagi, kalau aku tidak mengalami kram lagi, aku boleh pulang."
"Baiklah, biar aku urus registrasi dulu."
"Sudah tadi, sama Mayra."
"Apa?"
...
"Lagian kamu aneh, masak pergi menemui Robin dengan baju seperti itu? Ya marah lah anak itu, memangnya kamu tidak tahu? Robin itu benci dengan wanita centil, itu akan mengingatkan dia pada papanya," tukas Bu Vany setelah Mayra menceritakan apa yang terjadi tadi pagi di kantor Robin.
"Aku di suruh Joanna, Mama. Kata dia Robin itu suka wanita seksi," jawab Mayra yang membuat sang ibu melongo.
"Dan kamu percaya begitu saja?" Pekiknya.
"Dia kan asisten pribadi Robin, Ma. Aku fikir dia tahu semua tentang Robin."
"Astaga, Mayra. Sejak kapan kamu seolah menghalalkan segala cara termasuk percaya saja pada orang asing hanya demi mendekati Robin? Huh?"
"Aku benar-benar sudah jatuh hati sama Robin, Ma," jawab Mayra dengan wajah masam. " Tapi setelah apa yang terjadi tadi pagi, aku rasa aku tidak akan mau mendekati dia lagi, harga diriku di injak-injak begitu saja."
"Kenapa kamu mau mundur? Jangan begitulah! Nanti kita temui Robin bersama-sama dan menjelaskan kalau kamu tidak seperti yang dia fikirkan."
Tbc....