
"Hey, bagaimana perasaanmu?" Tanya Robin dengan lembut.
"Kepalaku benar-benar sakit, pusing, mataku berkunang-kunang," jawab Elsa tanpa sedikitpun memperlihatkan tatapan permusuhannya pada Robin.
Robin pun duduk di sisi Elsa. "Makanya, kamu makan dulu setelah itu minum obat, ya?" Ujarnya dengan lembut, Elsa hanya mengangguk patuh.
Robin menyuapi Elsa memakan rotinya namun Elsa langsung melepeh roti itu. "Kenapa?" Tanya Robin.
"Pahit," ringis Elsa.
"Terus, kamu mau makan apa?" Tanya Robin.
"Entahlah, tapi aku lapar," rengek Elsa sembari memegang perutnya.
"Mau aku belikan bubur?" Tawar Robin namun Elsa menggeleng.
"Terus, kamu mau makan apa? Kamu harus makan, Els. Habis ini harus minum obat," bujuk nya dengan lembut.
"Ya sudah, bubur," ucap Elsa dengan lemas.
"Okey, aku pergi beli sebentar. Kamu istirahat ya," ujar Robin dan lagi-lagi Elsa mengangguk.
Robin pun segera bergegas keluar untuk membeli bubur di tempat yang biasa ia beli untuk mamanya.
Selama dalam perjalanan, Robin terus memikirkan Elsa karena ia sangat mencemaskan keadaan Elsa. Bahkan, saat ia membeli bubur, Robin mendesak pelayan itu supaya cepat.
Dan sekarang, Robin sudah kembali ke apartment, ia langsung memindahkan bubur itu ke mangkuk dan membawanya ke kamar Elsa.
"Lama banget," gerutu Elsa sembari berusaha duduk.
"Maaf, tadi rame, jadi antri," ucap Robin. "Kamu bisa makan sendiri? Atau mau aku suapi?" Tawarnya dan entah mengapa, Elsa justru menganggukan kepalanya, membuat Robin mengernyit bingung. "Mau di suapi apa mau di ambil sendiri?" Tanya Robin sekali lagi yang membuat Elsa berdecak kesal.
"Ck, di suapi, aku lemas, gara-gara Bayimu," gerutunya.
Robin hanya geleng-geleng kepala sebelum akhirnya ia mulai menyuapi Elsa. "Bagaiamana? Enak?" Tanyanya dan Elsa menganggukan kepalanya. "Mama juga suka bubur ini, kalau mama sakit dan tidak selera makan, biasanya aku belikan bubur ini," ujar Robin dan kembali ia menyuapi Elsa.
"Bagaiamana kabar mamamu?" Tanya Elsa yang membuat Robin langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu tanya kabar mama?" Elsa tersenyum miring karena Robin justru balik bertanya.
"Apa kamu menjadi tuli setelah jadi CEO?" Tanyanya dan sekarang Robin yang tersenyum.
"Aku kasihan sebenarnya sama dia, bertahan di atas nama cinta padadal cintanya itu hanya pembodohan," tukas Elsa dengan entengnya.
"Mereka sudah bercerai," lirih Robin kemudian yang membuat pupil mata Elsa langsung melebar, tampak terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Seperti kata kamu, itu hanya pembododohan, bukan cinta," jawab Robin. "Aaaa..." Robin kembali menyuapkan satu sendok bubur ke mulut Elsa dan Elsa tentu langsung membuka mulutnya.
Keduanya pun terdiam, Robin masih setia menyuapi Elsa sampai buburnya habis, setelah itu ia juga membantu Elsa meminum obatnya.
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat, ya!" Robin membaringkan Elsa kemudian ia menyelimuti Elsa. "Kalau kamu butuh sesuatu, telfon saja, aku akan menginap disini malam ini," ujarnya dan Elsa hanya menggumam.
...
"Ma, malam ini aku tidak pulang, aku ada urusan di luar."
"Tidak apa-apa, Rob. Jangan lupa makan malam, ya!"
"Iya, Ma. Mama juga, jangan begadang, mungkin besok aku akan pulang kerumah,"
"Iya, tidak apa-apa."
Robin menghela napas berat, entah harus berapa banyak lagi kebohongan yang harus ia ucapkan demi menutupi kebohongan yang lain. Setelah berbicara dengan sang ibu, Robin meletakkan ponselnya di atas nakas dan ia naik ke atas ranjangnya.
"Sekarang mungkin aku bisa menyembunyikan kehamilan Elsa, tapi saat bayi itu lahir? Aku tidak mungkin bisa menyembunyikannya," gumamnya .
"Apa aku ajak Elsa menikah saja?"
Tbc...
...Mau engga tuh si Elsa menikah sama bocah tengil?...
...Sambil menunggu jawabannya, mampir sini dulu yuk ah....
Yang suka cerita After Darkness, pasti akan suka My Possessive Boss Is My Husband. Kenapa?
Jawabannya akan kamu ketahui setelah kamu membaca cerita ini.