After Darkness

After Darkness
Episode 150



Sesuai janji Robin, saat akhir pekan ia membawa Elsa ke Villa milik keluarganya. Mereka akan tinggal disana selama 3 hari dan itu membuat Elsa merasa sangat senang karena dalam 3 hari ini Robin akan selalu berada di sisinya tanpa harus pergi bekerja seperti biasa.


Sementara Bu Anita yang mendengar kabar itu sempat kesal namun ia mencoba tenang karena ia yakin Elsa dan Robin tidak akan memiliki hubungan yang lebih serius setelah apa yang ia katakan pada Elsa.


Saat Mayra menanyakan keberadaan Robin pada Bu Anita, Bu Anita terpaksa mengatakan Robin tidak bisa di temui karena ada pekerjaan penting di luar kota, karena ia tak mau calon menantunya itu tahu Robin pergi berlibur bersama wanita lain yang akan membuat image Robin rusak di mata Mayra.


Sementara sesampainya di Villa, Elsa tampak sangat bersemangat apalagi suasana disana begitu sejuk.


"Kamu mandi gih, aku mau cari makan dulu," kata Robin sembari meletakkan barang-barang Elsa di kamar Elsa.


"Aku ikut, ya...." rengek Elsa dengan manja. Robin berkacak pinggang, menatap Elsa dengan mata yang menyipit. Sudah beberapa hari ini Elsa sangat manja, sering merengek, namun tidak pernah memaksakan kehendak.


"Kamu pasti capek, Els. Kamu istirahat saja di sini, ya." Robin berkata dengan lembut karena ia tak ingin Elsa kelelahan. Elsa terdiam sejenak dengan bibir yang mengerucut namun kemudian ia mengangguk sambil tersenyum pasrah.


"Kalau kamu mau jalan-jalan, nanti pasti aku bawa kamu kemanapun yang kamu mau, tujuan kita kesini kan memang untuk liburan," kata Robin berharap menyenangkan hati Elsa dan sepertinya itu berhasil.


"Iya ... iya." Elsa menjawab sambil terkekeh.


.........


Sementara di rumah Elsa, orang tuanya sedang membicarakan rencana untuk mendatangi Elsa ke Jakarta karena mereka sudah sangat merindukan Elsa. Apalagi saat acara 7 bulanan Elnaz, Elsa hanya datang sebentar dan itu tidak mengobati kerinduan mereka.


"Mas, kata Elnaz, Arfan yang akan membelikan kita tiket," kata Bu Isna memberi tahu sang suami.


"Loh, kenapa? Bilangin tidak usah, sebentar lagi Elnaz melahirkan, mereka harus menabung untuk biaya kelahiran Elnaz nanti," tukas Pak Malik dengan serius.


"Iya sih, Mas," jawab Bu Isna kemudian. Ia pun segera menghubungi Elnaz dan memberi tahu bahwa mereka akan membeli tiket sendiri, ia meminta Elnaz agar menyimpan uang itu untuk biaya kelahiran Elnaz nanti.


Hubungan Elnaz dan ibunya kini jauh lebih baik, entah karena ibunya yang menyadari kesalahannya ataupun karena Elnaz yang mulai dewasa dan mengerti bagaimana harus bersikap pada sang Ibu.


Keadaan keluarga itu perlahan membaik dari satu anggota ke anggota keluarga yang lain, Bu Isna berharap tak ada lagi masalah yang datang dalam hidup mereka setelah ini.


.........


Elsa menggenggam tangan Robin tanpa melepasnya sedikitpun sejak saat ia sampai di sungai ini, bahkan sekarang ia sedang bersender manja di pundak Robin.


"Rob, kalau nanti anak ini lahir, kamu akan kasih nama siapa?" Tanya Elsa sambil mendongak, menatap Robin yang juga menatapnya. Robin tersenyum kemudian ia mengelus kepala Elsa dengan lembut, Elsa ingin menangis rasanya merasakan sikap lembut Robin padanya, matanya bahkan sudah berkaca-kaca dan dadanya terasa sesak.


"Aku belum memikirkan kesana, tapi aku janji, aku akan mencari nama yang paling bagus untuk anak kita nanti," jawab Robin.


"Aku juga belum memikirkan nama sih," balas Elsa kemudian ia semakin bergelenyut manja di lengan Robin. "Nanti kita fikirkan bersama namanya ya, setelah kita tahu anak kita laki-laki atau perempuan."


Anak kita?


Hati Robin menghangat, dan ia merasa begitu bahagia mendengar Elsa mengucapkan dua kata ajaib itu dengan sangat tulus, anak kita. Semakin besar harapan Robin untuk bisa menikahi Elsa, menjadi orang tua yang sempurna untuk anak mereka kelak.


"Els, apa kamu sudah punya jawaban atas pertanyaanku? Maukah kamu menikah denganku?"


Tbc...


Oke, sambil nunggu jawaban Elsa. Kita mampir ke Novelnya Kak Aisy dulu.


Judul : Sekedar Istri Siri


Penulis :Aisy Arbia


Sekadar Istri Siri


Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.


Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.


Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri***?