
"Mama benar-benar tidak menyangka, kalian sangat egois pada putra kalian." Bu Anita menggerutu sembari membantu Bi Sum menyusun makan malam di meja. Sementara Elsa dan Robin sudah duduk manis di kursinya masing-masing, begitu juga Arjun.
Robin dan Elsa juga memakai shal yang menutupi leher mereka karena banyak tanda merah disana.
"Anak kalian itu ingin minum susu, dia pasti haus setelah bermain. Tapi seperti biasa, kalian tidak perduli." Bu Anita setengah membanting mangkuk yang berisi sup, ia sungguh kesal pada anak dan menantunya itu yang tak memperdulikan Arjun tadi siang.
"Bikin susu 'kan cuma 5 menit, apa susah berhenti sebentar saja?" Ia masih menggerutu sembari menarik kursi. Robin dan Elsa hanya bisa meringis, karena sepertinya Omanya Arjun itu akan terus mengeluh soal tadi siang. "Untung saja kalian tinggal sama Mama, akan jadi apa Arjun kalau tidak ada Mama? Kalian pasti akan membiarkan dia keharusan, menelantarkannya." lanjutnya.
"Ya tidak akan, Ma," jawab Elsa kemudian. "Tadi aku tidak buatkan dia susu karena sudah ada Mama, ada Bi Sum juga." kilahnya.
"Nanggung juga, Ma," sambung Robin yang langsung mendapatkan tabokan dari mamanya itu.
"Apakah Mama sakit?" Tanya Arjun tiba-tiba, bahkan ia menatap mamanya itu dengan sendu.
"Tidak, Sayang. Mama sehat," jawab Elsa.
"Tapi kenapa Mama dan Papa memakai shall? Disini 'kan tidak ada salju, Mama," ucap Arjun penasaran. Robin dan Elsa pun saling pandang, bingung harus memberi jawaban apa pada anak mereka yang selalu penasaran itu.
"Em, iya, Sayang. Mama dan Papa sedang sakit," ucap Elsa terpaksa berbohong.
"Apa kalena itu tadi Mama ah uh?" Tanya Arjun tiba-tiba yang membuat orang-orang disana langsung melotot terkejut dan saling pandang.
"A-Arjun kapan dengar itu?" Tanya Bu Anita dengan panik, takut telinga cucu kesayangannya ternoda.
Elsa dan Robin pun tampak cemas, mereka menatap putra mereka itu dengan kening yang berkerut, berharap sang anak salah dengar atau apapun itu, asal tidak mendengarkan suara percintaan mereka.
"Benar, Nyonya," sambung Bi Sum tiba-tiba sambil cengengesan. "Saya juga mendengarnya, saat pintu belum di tutup rapat, mereka sudah ehem itu." lanjutnya yang langsung membuat kedua pipi Elsa merah padam. "Den Arjun memang tadinya mau ikut mereka masuk ke kamar, tapi saya langsung bawa dia pergi main."
"Kalian itu!" geram Bu Anita. "Apa tidak bisa tutup pintu dulu, kunci, baru setelah itu bisa mulai acaranya!"
"Maaf, Ma," lirih Robin. "Tadi kami benar-benar sudah sangat saling merindukan." kilahnya.
"Ada apa?" Tanya Arjun dengan suara cemprengnya. "Apakah kalena Mama dan Papa sakit telus kunci pintu dan tidak kasih Aljun cucu?" Tanyanya lagi.
Elsa dan Robin saling pandang sebelum akhirnya mengangguk secara bersamaan dengan raut wajah yang meringis.
"Oh, begitu. Apakah kita pellu pelgi ke Om Alfan dan belobat?" Tanyanya dengan perhatian sepenuh hati, bahkan kecemasan terlihat di matanya karena mengira kedua orang tuanya sedang sakit dan hal itu membuat Robin dan Elsa tersentuh, putra tersayang mereka, buah hati mereka yang begitu pintar dan menggemaskan.
"Iya, Sayang. Nanti kita ke rumah Om Arfan, sekalian Arjun main sama Kak Ara," tukas Elsa. "Arjun pasti kangen dengan Kak Ara, 'kan?"
Arjun langsung mengangguk dengan mata berbinar. "Baiklah, sekarang lanjutkan makannya!" Seru Bu Anita kemudian ia melirik Robin dan Elsa dengan tajam.
"Lihatlah! Anak kalian begitu sayang, perhatian, dan perduli pada kalian, tapi kalian malah membohonginya," sindir Bu Anita.
"Ya masak kami harus jujur kalau kami sedang bercinta, Ma?" Tukas Elsa sekenanya yang langsung di tampol mulutnya dengan ayam goreng oleh Bu Anita.
"Ih, kamu tuh, ya! Ngomong tidak hati-hati di depan anak!"
"Astaga, salah lagi!"