After Darkness

After Darkness
Episode 169



Setelah memarkirkan mobilnya, Elnaz berlari mengejar Elsa. Elnaz melihat Elsa memasuki sebuah kamar dan saat ia hendak memasuki kamar itu, Elnaz langsung melangkah mundur saat melihat apa yang kakaknya itu lakukan.


"Kak Elsa sudah gila kali ya, masak cium calon suami orang?" Gumam Elnaz, ia hendak menghampiri kakaknya itu guna mengingatkannya bahwa kedatangan mereka hanya untuk mengambil keponakan Elnaz, namun saat ia melihat Elsa menyudahi ciumannya, Elnaz menghentikan langkahnya dan langsung menutup pintu kamar itu dengan hati-hati karena ia melihat Elsa menyusui anaknya.


Elnaz berjaga di depan pintu dan ia menguping semua pembicaraan mereka, tak lama kemudian ponsel Elnaz berdering. Elnaz segera menjawab panggilan dari suaminya itu. "Ya, Kak?"


"Sudah sampai, Sayang?"


"Iya, Kak. Ini El lagi nguping pembicaraan Kak Elsa dan Robin, ish, mereka benar-benar kacau deh, Kak."


"Kacau kenapa? Mereka bertengkar?"


"Sepertinya bertengkar tapi nggak kelahi kok." terdengar suara kekehan Arfan dari seberang telfon setelah mendengar jawaban Elnaz.


"Ya udah, kamu tunggu saja dulu. Biarkan mereka bicara," kata Arfan.


"Baiklah," jawab Elnaz dan tak lama kemudian ia melihat seorang wanita yang sangat cantik berjalan ke arahnya. Wanita itu menggunakan gaun berwarna merah muda dengan potongan sederhana dan panjang hingga menjuntai ke lantai, membuat dia terlihat sangat cantik dan anggun.


"Maaf, mau kemana ya?" Tanya Elnaz karena wanita itu benar-benar menuju arahnya.


"Mau menemui Robin, acaranya sudah mau di mulai, kamu Elnaz ya?" Elnaz mengernyit bingung karena wanita itu mengenali dirinya.


"I-iya..." Elnaz menjawab dengan ragu. "Kamu siapa?"


"Aku Mayra, rekan bisnis Robin. Robin banyak bercerita tentang kamu dan Elsa," kata Mayra yang membuat Elnaz melongo.


Mayra? Jadi apakah dia calon istri Robin?


"Benarkah?" Gumam Elnaz tak percaya.


"Iya, malam ini acara peresmian aku sebagai CEO baru di perusahaan Mama, yang artinya aku dan Robin akan bekerja sama secara langsung. Oh ya, kamu datang sama siapa? Sama Elsa? Gabung yuk!" ajak Mayra dengan tenangnya yang justru membuat Elnaz melongo bodoh.


"Bukannya malam ini pernikahan kalian?" Tanya Elnaz penasaran.


"Pernikahan? Pernikahan apa?" Tanya Mayra mengernyit bingung, ia tampak memikirkan sesuatu dan seketika ia tertawa.


"Oooh, jadi Robin menjalankan rencananya? Gila sekali anak itu," tukas Mayra sambil terkekeh


"Rencana apa?" Tanya Elnaz yang masih bingung.


"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, emm tapi karena kamu ada disini, sebaiknya gabung ke acaraku yuk!" ajak Mayra lagi namun tentu saja Elnaz menolak.


"Oh begitu...." gumam Mayra. "Okey, nanti bilang saja sama Robin, tidak apa-apa kali dia tidak bisa datang ke acaranya. Aku akan memberi tahu Tante Anita dan Om Andrew kalau Robin sedang sibuk," kata Mayra dan Elnaz lagi-lagi hanya bisa melongo, ia tak mengerti apa yang terjadi sebenernya.


...... ...


Sementara di dalam kamar hotel, Elsa menatap Robin dengan tajam kemudian ia mengambil bantal dan menyerang Robin dengan membabi buta. Robin hanya terkekeh dan berusaha menangkis serangan Elsa, namun Elsa sepertinya benar-benar kesal.


Seminggu yang lalu, setelah Mayra melihat bagaimana terlukanya Robin berpisah dari Elsa, Mayra mundur dan ia membatalkan pernikahannya dengan Robin secara sepihak. Mama Mayra marah karena itu bisa mempermalukan keluarga mereka dan ia juga takut persahabatannya dengan Bu Anita rusak, namun Bu Anita justru setuju dengan keputusan Mayra.


Jika ia memaksa Robin menikah dengan Mayra, ia takut mereka tidak akan bahagia sama seperti dirinya.


Sementara Robin, tentu ia juga bersyukur karena pernikahan yang tak di inginkan takkan pernah terjadi.


Robin memang memisahkan putra meraka dari Elsa, ia ingin membuat Elsa merasakan sakitnya berpisah dengan orang yang di cintai. Tak hanya itu, saat Mayra mengundangnya ke acara peresmiannya sebagai CEO dari perusahaan keluarganya. Robin justru memiliki ide yang menurutnya sangat cemerlang.


Ia membuat undangan pernikahan dan mengirimkannya pada Elsa, ia sengaja membuat seolah pernikahannya di percepat supaya Elsa tidak punya banyak waktu untuk berfikir.


Setelah berpisah satu minggu dengan anak yang baru di lahirkannya, tentu yang ada dalam benak Elsa hanyalah anak dan anak, sehingga itu yang akan jadi keputusannya.


Dan rencananya sangat berhasil.


"Sialan...."


"Dasar bocah tengil!"


"Jadi kamu tidak jadi menikah sama Mayra, huh?"


"Terus undangan itu apa?"


Elsa terus memukul Robin dengan bantal dengan emosi yang menggebu. "Aku menangis seminggu ini, sialan!"


"Tuh kan...."


"Katanya tidak akan berkata kasar di depan Baby Arjun ... aduh, Elsa!"


"Sudah!" Robin mencoba menghentikan Elsa namun Elsa tak perduli hingga akhirnya Robin menangkap tangan Elsa dan memerangkap Elsa dalam kungkungannya.


"Berhenti atau aku cium kamu!"