
Saat mengingat wajah Elsa yang begitu sendu serta tatapannya yang sayu, hati Robin menjadi tidak tenang dan merasa bersalah atas sikap dinginnya selama ini. Bagaimanapun Elsa sedang hamil, moodnya seperti rollercoaster, dan hal itu juga di luar kendali Elsa.
"Sebaiknya aku minta maaf padanya," gumam Robin. Ia pun berganti pakaian sebelum akhirnya keluar untuk menemui Elsa.
Robin mengetuk pintu kamar Elsa namun tak ada jawaban, ia pun mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu.
"Els...." panggil Robin. Tatapannya menyusuri kamar Elsa namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Elsa disana. "Apa dia keluar?" Robin kembali menggumam, mengingat Elsa selalu keluar tanpa izinnya.
Tanpa membuang Waktu Robin langsung menyusul Elsa, dan benar saja, ia melihat Elsa yang sudah adal di lift namun Robin tak bisa mengejarnya karena lift sudah tertutup.
Robin pun masuk ke lift yang lain.
.........
Robin mengikuti Elsa yang kini berjalan santai di trotoar, ia mengawasinya dalam diam, namun saat melihat ada Rion yang menghampiri Elsa, Robin terbakar api cemburu apalagi ketika ia melihat mereka tampak mengbrol. Robin melangkah cepat dan lebar menghampiri Elsa.
Bahkan, fikiran buruk berkelebat dalam benak Robin, berfikir mungkinkah Elsa memang sengaja menemui Rion?
"Elsa...." panggil Robin. Yang di panggil pun menoleh dan Elsa tampak terkejut melihat keberadaan Robin
"Robin," gumam Elsa.
"Pak Robin?" Rion pun juga tampak terkejut melihat bosnya itu.
"Ayo kita pulang," kata Robin kemudian ia menarik tangan Elsa.
"Pulang?" gumam Rion bingung, namun baik Robin maupun Elsa tak memperdulikan hal itu.
Robin terus menarik tangan Elsa, tatapannya tajam, rahangnya mengetat dan hatinya terasa panas membayangkan Elsa menemui pria lain.
Robin membawa Elsa kembali ke apartment dan Elsa hanya menurut tanpa membantah sedikitpun.
Sesampainya di apartement, Robin melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang tangan Elsa.
"Aku keluar cuma ingin menghirup udara," jawab Elsa.
"Terus, Rion tadi?" Robin kembali bertanya dengan ketus.
"Aku tidak tahu, tadi dia tiba-tiba datang, itu saja," jawab Elsa juga ketus.
"Terus, kalian membicarakan apa?" Robin kembali bertanya dengan ketus, namun alih-alih menjawab pertanyaan Robin, Elsa justru mengajukan pertanyaan juga.
"Kamu cemburu?"
"Apa?" Pekik Robin. Namun hatinya tentu menjawab iya tanpa ragu.
"Kamu seperti orang cemburu," kata Elsa dengan tenang.
"Untuk apa aku cemburu?" Robin mengelak sambil tersenyum sinis, berusaha menutup perasaannya.
"Ya siapa tahu karena keseringan bersama, kamu jadi jatuh cinta sama aku," ujar Elsa sekenanya namun pertanyaan itu justru tepat sasaran, seperti anak panah yang menancap tepat di hati Robin. Robin bahkan seketika gelagapan, gugup, dan salah tingkah. Elsa memicingkan matanya, seolah menatap Robin dengan curiga apalagi karena Robin tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Hem, jadi beneran kamu sudah jatuh cinta sama aku?" Godanya lagi.
"Tidak mungkin aku jatuh cinta sama kamu yang bukan siapa-siapa, apalagi di surat kontrak kerja kamu itu cuma asisten ku," jawab Robin asal untuk karena gugup namun jawaban itu justru membuat Elsa tercubit, dadanya terasa sesak menyadari selama ini Robin menganggapnya bukan siapa-siapa, bahkan cuma bawahan katanya.
Elsa tersenyum masam, lalu apa masalahnya jika Robin menganggapnya demikian? Bukankah itu memang faktanya?
***Tbc...
Yang nunggu Varian, maaf karena hari ini tidak update, soalnya tadi ikut seminar.
In Shaa Allah malam ini up jika bisa***.