After Darkness

After Darkness
Episode 88



"Janinnya baik-baik saja, hanya saja karena masih berusia 3 minggu, jadi janinnya masih sangat lemah dan sebaiknya Bu Elsa lebih banyak istirahat, jangan setres dan perhatikan asupan gizinya ya, Bu. Karena itu sangat penting untuk pertumbuhan janinnya."


Elsa yang mendengar apa yang di katakan Dokter bukannya cemas atau antusias, ia justru menatap tajam pada Robin yang hanya bisa tercengang.


Mendengar pengakuan Elsa tentang kehamilannya tentu saja membuat Robin seperti di sambar petir di siang bolong, ia bahkan menolak percaya dan mengira Elsa hanya bercanda hingga akhirnya Elsa mengajaknya ke Dokter untuk memeriksakan kebenaran itu.


"Bagaiamana? Sudah percaya, huh?" Elsa mendesis tajam dan tentu saja hal itu membuat Dokter bingung dengan apa yang di maksud Elsa.


"Terus?" Tanya Robin yang masih bingung dan belum bisa berfikir jernih.


"Ya terus, kamu harus tanggung jawab, bocah tengil!" Seru Elsa tanpa memperdulikan tatapan heran Dokter.


"Kamu mau aku menikahimu?" Tanya Robin sekenanya.


"Najis aku menikah sama kamu," desis Elsa yang membuat dokter di depannya langsung menganga lebar dengan mata yang melotot sempurna. "kasih aku uang, aku mau menggugurkan kandungan ini!" Kedua bola mata Robin juga langsung melotot sempurna mendengar apa yang di katakan Elsa dengan tenangnya, begitu juga dengan dokter.


"Kamu gila, huh?" Geram Robin.


"Justru karena aku waras aku mau menggugurkan kandungan ini, bodoh!"


"Berhenti memanggil ku bodoh, sialan!"


"Memang kamu itu bodoh, sudah aku bilang jangan di dalam!"


"Aku tidak sadar!"


"Tentu saja kamu tidak sadar karena kamu itu bodoh, sialan, jahat, kurang ajar!"


"STOP!!!" Seru si Dokter yang sudah tidak tahan dengan perdebatan Robin dan Elsa. "Jika kalian mau saling mengumpat, saling menyalahkan atas hadirnya janin ini, jangan lakukan disini. Kalian boleh pergi dan temui orang tua kalian!" Robin dan Elsa tentu menganga lebar mendengar apa yang di katakan Dokter itu dan seketika Elsa teringat dengan orang tuanya.


Ia pun beranjak dari kursinya dan segera keluar dari ruangan Dokter kandungan itu.


"Sialan, semua ini gara-gara bocah itu," geram Elsa sembari mencoba menghubungi ibunya namun tiba-tiba Robin menyambar ponsel Elsa. "Hey! Kembalikan, sialan!" Geramnya kesal. Namun bersamaan dengan itu, Mamanya Elsa sudah menjawab panggilan Elsa dan tanpa ragu, Robin justru berbicara dengannya.


"Elsa,, kamu dimana?"


"Halo, Tante. Ini aku, teman Elsa," ucap Robin sembari melirik Elsa yang membuat Elsa semakin terlihat kesal.


"Teman? Terus Elsa dimana sekarang? Kenapa kamu yang menjawab telfonnya?" Tampak sekali kecemasan yang terdengar di suara bu Isna.


"Kami hanya jogging, Tante. Elsa sedang di toilet saat ini," jawab Robin dengan tenangnya yang membuat Elsa melongo.


"Benar-benar bocah psycho!" Geramnya kemdian ia merebut ponselnya dari tangan Robin.


"Halo, Ma!"


"Astaga, Sa! Kamu kenapa pergi tanpa pamit? Mama kira kamu kemana, kami cemas, Sa. Apalagi kamu itu masih sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan keluyuran!"


"Iya, Ma. Maaf, tadi aku cuma cari udara segar."


"Pulang sekarang ya, Sa!"


"Iya, Ma. Ini sudah mau pulang kok."


Setelah memutuskan sambungan telfonnya, Elsa langsung melotot tajam pada Robin kemudian berkata dengan tegas sembari mengacungkan jarinya tepat di depan hidung Robin. "Ingat, kamu harus tanggung jawab dan aku mau secepatnya masalah ini selesai!"


"Kamu fikir aku mau membunuh janin itu?" Desis Robin. "Jangan mimpi kamu, Els! Janin itu tidak bersalah!"


"Tapi aku juga tidak mau ada janin ini, lagi pula dia masih darah, belum bernyawa."


"Aku tidak mau tahu, aku mau janin itu tumbuh, aku mau bayi itu lahir dan kamu harus melahirkannya!"