
"Anak manja itu tidak akan jadi apa-apa, Mama. Sama seperti Mama yang belajar dari kehidupan Mama supaya Robin tidak mengalami hal yang sama, akupun belajar dari kehidupanku supaya anakku tidak mengalami hal yang sama."
Bu Anita tersenyum mendengar apa yang di katakan menantunya itu, dan ia membenarkan apa yang di katakan Elsa.
Saat ini mereka sedang dalam penerbangan ke Surabaya, tempat mereka akan liburan sekaligus Elsa akan pulang ke rumah orang tuanya karena sudah satu tahun lebih ia tidak pulang.
Awalnya Elsa takut untuk pulang ke kampungnya, takut dengan pandangan orang lain akan dirinya, namun orang tua Elsa sendiri yang meminta Elsa pulang, apalagi ternyata Elnaz juga pulang dan sudah di rumah sejak dua hari yang lalu.
"Dulu, apapun yang aku mau, Mama dan Papa selalu memberikannya tanpa perduli apakah aku benar-benar membutuhkannya atau tidak. Yang mereka inginkan hanya membuatku senang, sebenarnya itu bagus tapi jika di lakukan terus menerus, itu akan membentuk sebuah karakter yang mengerikan. Aku menjadi anak yang egois dan ambisius karena aku sudah terbiasa mendapatkan semuanya sejak kecil. Dan karena keegoisanku, aku menyakiti adik yang seharusnya aku jaga. "
Bu Anita menepuk pundak Elsa sambil tersenyum samar. "Mama faham, Sa. Mama janji tidak akan memanjakan si kecil, kita akan merawat dia sebaik yang kita bisa."
Robin memperhatikan kedua wanitanya itu sambil tersenyum haru, Robin tak pernah menyangka karena kini ia berada di titik dimana seluruh kebahagiaan seolah terlimpah padanya sementara sejak kecil ia hidup dalam kebencian dengan latar belakang keluarga yang sangat tidak harmonis.
"Terima kasih, Mama," kata Elsa.
"Sama-sama," jawab Bu Anita yang membuat Robin terkekeh.
Kehadiran Elsa bukan hanya merubah hidupnya tapi juga hidup Mamanya, terutama keberadaan si kecil yang benar-benar menyempurnakan keluarga mereka.
Tak lama kemudian pesawat landing, hal itu membuat Elsa bahagia sekaligus cemas, pernikahannya belum lama tapi ia pulang dengan seorang bayi. Entah apa yang akan di katakan orang nanti tentangnya.
"Apapun kata orang, abaikan selama itu tidak merugikan kamu, Sa!" Ucap Bu Anita yang seolah mengerti apa yang di fikirkan Elsa. "Tapi jika mereka merugikan kamu, Mama yakin kamu tahu cara menghadapi mereka." Elsa tersenyum dan mengangguk pasti.
Seharusnya memang seperti itu.
"Sama-sama wanita powerful," ejek Robin yang benar-benar tidak mengerti jalan fikiran kedua wanitanya itu, yang terkadang bersebrangan tapi terkadang juga seolah saling merangkul.
Saat di Bandara, Elnaz dan Arfan sudah menunggu meraka. "Aku fikir Papa yang jemput," kata Elsa.
"Papa encok katanya," tukas Elnaz sekenanya yang membuat Elsa tertawa kecil. "Halo, keponakan!" Elnaz mencubit pipi keponakannya itu dengan gemas.
"Jangan, El! Nanti bangun," tegur Robin sambil memukul tangan Elnaz apalagi putranya itu memang baru tidur.
"Kamu memukul tangan istriku?" Arfan menatap Robin dengan tajam, sejak dulu Arfan memang tak suka pada Robin yang dekat dengan Elnaz, dan siapa yang sangka sekarang mereka justru jadi keluarga?
"Istrimu mengganggu anakku, Pak Dokter!" Balas Robin.
"Ck, dia cuma gemas, Rob. Kadang aku juga cubit pipi Aurora kalau gemas," kata Elsa.
"Biasalah! Papa baru, masih lebay," sambung Elnaz.
Mereka pun berjalan menuju mobil Arfan, tak lupa Elnaz juga menyapa mertua kakaknya itu dengan sangat ramah, manis dan sopan. Bu Anita bahkan meresa sepertinya meraka bukan suadara kandung karena karakter keduanya sang berbeda.
"Kalian benar-benar saudara kandung, 'kan?" Tanya Bu Anita yang membuat Elnaz mengerutkan keningnya sementara Elsa yang mengerti kenapa Bu Anita bertanya seperti itu hanya bisa tertawa.
"Iya, Tante. Mereka suadara kandung, aku tidak ingat saat Elsa di lahirkan tapi aku ingat saat Elnaz di lahirkan. Jadi sudah di pastikan mereka saudara kandung, jika pun tidak, berarti Elsa yang anak angkat. " Arfan berkata panjang lebar sambil bercanda dan itu membuat Elsa dan Elnaz tertawa dengan guraun Arfan.
Jika di lihat lagi, Elsa tidak berasal dari keluarga yang hancur seperti Robin tapi keduanya sama-sama pernah tersesat dalam kegelapan.
Bu Anita tersenyum tipis, karena memang sangat benar apa yang di katakan Elsa, yang membuatnya seperti ini karena didikan yang salah.
Tbc...
...Ada yang suka genre islami? Cocok banget neh sama novelnya Kak Ramanda....
Judul : Kisah Cinta Si Gadis Tomboi
Penulis : Ramanda
Cuplikan di Bab: Punya Suami Tua.
"Dhita! Kamu bikin kaget saya saja! Mau ngapain kamu turun disini hah? Sekolah kamukan masih lumayan jauh dari sini!" tegur Adnan terlihat kesal karena mendengar teriakkan Kirana.
"Maaf Pak sudah bikin Pak Guru kaget, tapi saya ingin turun disini saja Pak, karena saya nggak mau teman-teman melihat saya turun dari mobilnya Pak Guru."
Adnan mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan Kirana. "Kenapa emangnya kalau mereka tahu hm? Apakah kamu malu, turun dari mobilnya saya hm?"
"Bukan malu Pak, saya hanya males saja, menjawab pertanyaan mereka, kalau mereka tahu saya turun dari mobilnya Pak Guru," jelas Kirana, yang sebenarnya ia memang tak ingin teman-temannya tahu kalau sebenarnya ia telah menikah dengan idolanya mereka.
"Ya kamu tinggal jawab saja kok susah sih! Bilang sama mereka, kalau kamu diantar oleh suami kamu, bereskan?"
"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya Saya tidak mau mereka tahu kalau saya istrinya Pak Guru titik!"
"Kenapa emangnya kalau kamu istrinya saya hm?"
"Malulah Pak, masa saya menikah sama orang yang sudah tua sih! Apa kata mereka nanti? Pasti mereka akan meledek saya, punya suami tua!" jawab Kirana dengan spontan. Tanpa memikirkan perasaan Adnan.
Adnan tersenyum miris mendengar perkataan Kirana, lalu ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Kirana seraya berkata.
"Apakah wajahku sudah terlihat tua dimatamu hm?"
Kirana amat kaget, saat melihat wajah tampan Adnan yang begitu dekat dengannya. Dan dengan spontan jantungnya berdetak begitu kencang. Membuat tubuhnya seketika membeku, bahkan nafasnya seakan ikut berhenti. Dan tatapan matanya terkunci pada wajah Adnan yang begitu dekat dengannya, yang hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya.
"Kenapa Diam hm? Apakah Suami kamu ini sudah terlihat tua Kana?" tanya Adnan kembali. Dan seketika Kirana pun tersadar, wajahnya langsung memerah saat menyadari mereka begitu dekat. Dan dengan spontan ia mendorong wajahnya Adnan.
"Aaaah..! Pak Guru! Sanaaa!" pekik Kirana sambil menyorong wajah Adnan dengan lima jarinya. Lalu dengan cepat ia pun keluar dari mobilnya Adnan dan langsung berlari tunggang langgang, menuju ke sekolahnya yang masih lumayan jauh dari tempat mobil Adnan terparkir.
"Hahahaha.. lucu sekali sih, wajah Istri kecilku kalau sudah memerah begitu, bikin gemas saja, hahaha,"