
Elsa memang meminta bahkan membujuk Robin dengan sangat lembut agar mau menemui Bu Anita dan meminta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi.
Yang membuat Robin tersentuh, saat Elsa mengatakan bahwa ia memang membenci Bu Anita atas segala tuduhan yang di layangkan padanya juga perlakuan kasar lainnya, namun kebenciannya itu bersifat pribadi dan bukan berarti Elsa mau Robin membenci Bu Anita juga apalagi jika Elsa lah yang menjadi alasan benci itu.
"Kebencianku pada Mamamu adalah urusan hatiku begitu juga sebaliknya, kamu tidak berhak ikut campur di antara kami selama dia tidak menyakiti anakmu dan aku tidak menyakiti mamamu." begitulah kata Elsa.
Elsa bahkan menjelaskan, seperti Robin yang takut kehilangan calon anaknya, seperti itulah Bu Anita takut kehilangan Robin. Dan disini lah Robin sekarang, Elsa meminta agar Robin mencoba mengerti posisi Mamanya sebagai orang tua.
"Apa maksud kamu, Rob?" Tanya Bu Anita.
"Elsa yang memintaku datang kesini, Ma. Dia yang membuat aku bisa mengerti perasaan Mama." Robin menjawab dengan tegas dan ia menjelaskan apa saja yang di katakan Elsa padanya dengan begitu serius, tatapannya menatap mata sang Mama dengan dalam.
Sementara Bu Anita justru tersenyum kecut, ia berjalan melewati Robin, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa.
"Jadi, kamu datang kesini bukan karena Mama tapi karena Elsa? Apa dia lebih berarti bagimu dari pada Mama?" Tanya Bu Anita tajam yang membuat Robin tersenyum masam karena hati sang Mama seolah sudah sekeras batu dan sedingin es.
"Ma...." Robin duduk bersimpuh di depan Mamanya. "Elsa tidak seburuk yang Mama fikir, aku sudah menjelaskan semuanya tentang Elsa tapi sepertinya Mama memang sengaja tetap mengolah fikiran buruk Mama tentang Elsa, aku tidak tahu kenapa Mama tidak mau membuka hati dan mencoba membersihkan fikiran Mama. Tapi yang jelas, Elsa tidak pernah melakukan dosa apapun pada kita, Ma," tegasnya, Robin menarik napas kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Dan wajar jika Elsa sangat marah pada Mama atas apa yang Mama lakukan di rumah sakit. Seperti Mama yang takut kehilangan aku, anak Mama. Begitu juga dengan aku dan Elsa, Ma. Kami juga takut kehilangan anak kami terlepas dari bagaimana anak itu bisa ada, kami juga memiliki perasaan sebagai orang tua." Robin berkata dengan begitu lirih dan dalam.
Hati Bu Anita tersentuh sebenarnya mendengar ucapan panjang lebar Robin yang terdengar begitu bijak dan dewasa, apalagi saat Bu Anita menatap mata Robin, hanya terlihat ketulusan dan harapan disana.
"Please, Mama... " Robin mengecup tangan Mamanya itu dengan lembut, ia seolah memohon. "Tolong biarkan kami memiliki anak kami dan lupakan semua kesalah pahaman itu karena Elsa benar-benar tidak bersalah sedikitpun pada kita." mohonnya.
"Lalu bagaimana dengan masa depan kamu, Rob? Apa kata orang nanti kalau kamu punya anak sebelum menikah?" Tanya Bu Anita penuh penekanan.
"Yang bertanggung jawab atas hidupku dan kebahagiaanku itu diriku sendiri, Ma. Bukan orang lain," jawab Robin dengan yakin.
"Memangnya kamu mau menikahi wanita itu? Dia juga jauh lebih tua dari kamu, Rob!" Desis Bu Anita lagi, Robin menunduk sembari menjilati bibirnya yang terasa kerang.
Menikahi Elsa?
.........
Di apartement, Elsa menghubungi kedua orang taunya dan ia sudah berbicara hampir satu jam dengan mereka.
Entah kenapa, hari ini mood Elsa seperti sangat bagus. Ia merasakan perasaan lega, hangat dan ringan setelah Robin mau mengikuti permintaannya untuk menemui orang tuanya.
Sambil mengobrol bersama Mamanya, Elsa membersihkan apartement karena ia mulai merasa bosan tanpa ada kegiatan apapun.
"Memangnya kamu tidak bekerja, Sa? Bukannya menjadi asisten pribadi bos besar itu pasti sangat sibuk ya, Sa?" Elsa terkekeh mendengar pertanyaan ibunya itu.
"Iya sih, Ma. Sibuk, tapi pasti ada waktu libur dan istirahatnya kok. Robin itu juga punya asisten yang lain, namanya Joanna," kata Elsa yang saat ini sedang membersihkan beberapa pajangan di apartementnya.
"Robin? Kok kamu panggil dia dengan nama, Sa? Dia kan bos kamu," Elsa kembali tertawa renyah mendengar ucapan ibunya. Hari ini, Elsa banyak tersenyum dan tertawa, wajahnya berbinar, berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Kan dia tidak ada di sini, Ma. Lagi pula dia lebih muda dari aku," ujarnya sambil terkekeh yang membuat sang ibu juga tertawa.
"Enak ya, Sa. Jadi orang kaya, baru usia segitu sudah jadi bos." lagi-lagi Elsa tertawa mendengar ucapan ibunya itu.
"Iya, enak, Ma," jawabnya.
Obrolan meraka terus berlanjut seiring berlanjutnya kegiatan Elsa yang membersihkan apartement.
Dan kini, ia masuk ke kamar Robin, Elsa membersihkan kamar itu dan lagi-lagi indera penciuman Elsa tergoda dengan aroma Robin yang masih tertinggal di selimutnnya.
"Apa ini yang namanya bawaan bayi seperti yang sering orang katakan?"
Tbc...