
"Uff, mereka kemana ya?" gumam Elsa. Ia pun meletakkan kembali gagang telfon itu namun kemudian ia teringat dengan adiknya. Elsa sangat penasaran dengan kondisi Elnaz, tapi ia benar-benar merasa malu untuk berbicara dengan Elnaz.
"Coba deh" gumam Elsa sembari mencoba menghubungi nomor ponsel adik yang sempat ia benci itu.
Elsa menunggu dengan harap harap cemas, kakinya bahkan terus bergerak seolah ia tidak merasa nyaman di tempatnya berdiri saat ini. Hingga kemudian terdengar suara seorang wanita dari seberang telfon yang membuat Elsa terpaku.
"Halo..." Elsa langsung terdiam mematung hingga suara itu kembali "Halo, ini siapa?"
"El..." lirih Elsa dan entah mengapa kini matanya berkaca-kaca, seolah ia merindukan seseorang dan kini rasa rindu itu terbayar.
"Kak Elsa, ini beneran Kak Elsa?" tanya adiknya dari seberang telfon dan Elsa mengangguk sambil tersenyum, ia bahkan lupa kalau saat ini Elnaz tidak bisa melihat anggukan nya apalagi senyumnya.
"Kak Elsa kemana saja? Papa Mama tadi telfon, katanya tidak bisa menghubungi Kak Elsa tadi malam"
"Ponsel ku rusak, El. Belum sempat beli yang baru" jawab Elsa dengan suara rendah.
"Oh begitu? Memang rusak kenapa? Terus El dengar Kak Elsa sudah bekerja, di ajak teman. Teman yang mana, Kak? Kak Elsa jangan kecewakan kami lagi ya, kami khawatir lho sama Kak Elsa. Temannya Kak Elsa baik 'kan? Bisa di percaya?" Elsa terenyuh mendengar pertanyaan panjang lebar Elnaz yang masih sangat perduli padanya.
"Teman kakak baik kok, El. Bisa di percaya juga" jawab Elsa.
"Kamu masih di rumah sakit ya, El? keadaan kamu dan janin kamu bagaimana, Dek?" tanya Elsa.
"Kami baik baik saja, hanya saja kata Dokter untuk sementara El tidak bisa jalan. Tulang kakinya patah, leher El juga cidera" Elsa hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan adiknya yang terdengar sedih itu, membuat Elsa semakin merasa bersalah.
...
Sementara itu, Robin sudah sampai di rumah dengan membawa beberapa jenis bunga yang siap di tanam.
Saat melihat toko bunga tadi, Robin langsung teringat dengan Mamanya yang setiap hari tak bisa melakukan apapun. Dan Robin juga ingat dulu Mamanya suka sekali bunga.
"Rob, kamu sudah pulang? Ada apa?" tanya Bu Anita heran.
"Aku mau ngasih hadiah ulang tahun buat Mama" kata Robin antusias.
"Oh ya? Hadiah apa?" Bu Anita bertanya dengan antusias.
"Bunga, Mama masih suka bunga 'kan? Aku beli bunga, Bagaiamana kalau kita buat kebun bunga di halaman samping rumah itu?" tanya Robin yang tentu saja membuat Mamanya senang dan langsung mengangguk setuju.
"Mama mau lihat bunganya?" tanya Robin lagi.
"Boleh, memang bunga nya kamu bawa atau di kirim?"
"Di kirim, Ma. Tapi Sudah datang kok, sudah ada tukang juga jadi semuanya bisa di tanam sekarang" kata Robin.
"Ya sudah, bantu Mama..." kata Bu Anita dan ia mengulurkan tangannya pada Robin seperti anak kecil yang minta gendong.
Sementara di sisi lain, Elsa masih berbicara dengan Elnaz dan itu membuat perasaan Elsa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Elsa bahkan seolah lupa dimana ia sekarang saat ia berbicara dengan Elnaz.
"El, sudah dulu ya. Nanti kakak telfon kamu lagi kalau sudah beli hp baru" ujar Elsa karena ia mendengar suara Robin, ia sendiri juga merasa heran kenapa Robin bisa pulang jam segini.
"Iya, Kak. Jangan lupa telfon Mama Papa, mereka khawatir"
"Iya, Dek"
"Adek siapa?" Elsa tersentak saat tiba tiba Robin sudah ada di belakangnya dan ia menatap Elsa dengan tajam.