After Darkness

After Darkness
Episode 86



Saat Elsa mengajaknya bertemu, tanpa berfikir panjang Robin langsung membeli tiket pesawat. Entah kenapa ia merasa begitu terpanggil, seolah ia takut Elsa membutuhkannya saat ini karena selama tiga minggu berpisah, tak pernah sekalipun Elsa menghubunginya.


Sementara di sisi lain, Elsa justru berniat pergi ke Jakarta untuk menemui Robin. Bukan pertanggungjawaban yang Elsa inginkan, melainkan sejumlah uang untuk menggugurkan kandungannya.


.........


"Bagaiamana keadaanmu, Sa?" tanya pak Malik saat ia melihat Elsa yang datang untuk makan malam.


"Jauh lebih baik, Pa," jawab Elsa sambil tersenyum samar.


"Kamu yakin? Kamu masih pucat, memangnya kamu mikirin apa sih, Sa? Mikirin pekerjaan?" Tanya pak Malik dengan cemas.


"Bukan begitu, ya sudah waktunya sakit aja kali, Pa," ucap Elsa sembari menarik kursi di sisi mamanya.


"Makan yang banyak, Sa. Biar cepat sehat, jangan terlalu memikirkan pekerjaan juga," sambung ibunya sembari mengambilkan nasi untuk Elsa.


Elsa yang melihat nasi dan mencium aromanya seketika merasa mual, ia mencoba menahannya dan berusaha bersikap tenang, namun saat ibunya menambahkan lauk pauk kemudian meletakkan piring itu di depan Elsa, Elsa tak sanggup lagi menahannya.


Elsa segera berlari ke kamarnya membuat kedua orang tuanya menjadi bingung, mereka saling menatap. "Ada apa dengan Elsa?" Tanya pak Malik.


"Tidak tahu, Mas. Biar aku periksa dulu," jawab Bu Isna.


"Dokter bilang apa tadi? Elsa benar-benar tidak apa-apa?" Tanya pak Malik yang merasa semakin cemas.


"Tidak apa-apa kok, akhir-akhir ini Elsa memang telat makan, makanya kesehatannya jadi menurun," jawab bu Isna meyakinkan sebelum akhirnya ia menyusul Elsa.


Di kamar mandi, Elsa kembali muntah-muntah yang membuat ia semakin merasa pusing apalagi perutnya masih kosong.


"Sialan!" geram Elsa kesal. "Aku harus segera berangkat ke Jakarta, dan menggugurkan kandungan ini secepatnya sebelum janinnya semakin tumbuh," gumamnya kemudian.


"Janin apa?" Elsa terlonjak dan ia langsung menoleh saat mendengar suara ibunya yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Kamu bicara sama siapa tadi, Sa? Terus janin apa yang kamu maksud?" Tanya Bu Isna sembari melangkah masuk mendekati Elsa.


"I-itu, Ma. Em tadi teman aku katanya ingin memiliki janin..." ucap Elsa gelagapan.


"Ingin memiliki janin? Maksudnya? Bayi?" Tanya Bu Isna yang merasa bingung.


"Eh, iya. Iya, itu ... bayi," ucap Elsa kemudian dengan terbata-bata.


"Terus apa hubungannya sama kamu, Sa? Kamu muntah lagi?"


"Iya, biasa lah, Ma. Namanya juga masuk angin," elak Elsa yang membuat ibunya menghela napas berat.


"Ya sudah, kalau begitu ayo makan, biar tidak semakin masuk angin!"


"Ma, aku mau makan di kamar saja, ya. Aku lemes, Ma," rengek Elsa kemudian.


"Ya sudah, biar Mama bawakan makanan mu ke kamar," ujar mamanya yang tentu saja membuat Elsa senang.


Bu Isna pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan Elsa, sementara Elsa segera mengambil ponselnya dan ia memesan tiket untuk besok pagi.


Tak lama kemudian, Bu Isna kembali datang dengan membawa makanan Elsa, ia meletakkannya di ranjang, di depan Elsa yang kini duduk bersila.


"Terima kasih, Ma," ucap Elsa dengan tulus.


"Sama-sama, makan yang banyak, habis itu istirahat!" Tukas mamanya dan Elsa hanya menganggukan kepalanya.


Setelah Mamanya keluar kamar, bukannya makan, Elsa justru membuang makanan itu karena ia benar-benar mual saat melihat dan mencium aroma makanan itu.