
Awalnya, Elsa berfikir Robin marah hanya karena di ganggu tidurnya, kemudian ia akan kembali bersikap lembut nan perhatian pada Elsa seperti biasa. Namun rupanya harapan tinggal harapan, Robin bersikap sangat dingin bahkan dia enggan menyapa atau menanyakan keadaan Elsa.
Membuat Elsa bertanya-tanya, sebenarnya salahnya apa? Dimana?
Sementara Robin, ia benar-benar masih kesal dengan Elsa, apalagi jika mengingat tingkah laku Elsa yang benar-benar menyebalkan dan selalu bertindak semaunya sendiri tanpa memikirkan perasaan Robin sedikitpun.
Robin mendiamkan Elsa selama beberapa hari, membuat Elsa benar-benar merasa sedih sekaligus kesal namun Elsa tidak tahu harus melakukan apa untuk meluluhkan hati Robin.
Dan tanpa terasa, hari yang Elsa tunggu kini tiba. Yaitu kembali ke kampung halamanya demi menghadiri acara 7 bulanan kehamilan sang adik.
Elsa sangat antusias untuk menemui Elnaz apalagi setelah kecelakaan itu, Elsa ingin tahu keadaan Elnaz, ingin melihatnya secara langsung meskipun masih ada bagian dalam hatinya yang merasa takut, karena ia hampir saja membuat adiknya itu meregang nyawa.
Hari sudah malam, Elsa menunggu Robin pulang untuk membicarakan kepulangannya besok pagi karena acaranya Elnaz besok malam.
Dan saat terdengar suara pintu yang terbuka, Elsa langsung berdiri dan ia menampilkan senyum manisnya untuk menyambut Robin. Namun seperti biasa, Robin justru menampilkan wajah dinginnya.
"Robin..." panggil Elsa lembut.
"Aku capek, mau tidur," kata Robin kemudian ia berjalan melewati Elsa tanpa memperdulikan wajah memelas Elsa.
" Kamu kenapa sih?" tanya Elsa akhirnya, ia sudah tidak tahan di abaikan seperti ini, elsa mengikuti Robin yang kini hendak naik ke kamarnya.
"Aku tidak apa-apa, ada apa?" tanya robin tanpa menoleh.
"Besok pagi aku mau pulang," tukas Elsa kemudian yang membuat langkah Robin langsung terhenti dan ia pun menoleh, menatap Elsa.
"Pulang?" Tanyanya dengan satu alis yang terangkat.
"Oh, Ya sudah, pulang saja," kata Robin dengan dingin yang membuat Elsa melongo. Entah mengapa, seperti ada yang sesuatu yang menggores hatinya saat mendengar ucapan Robin itu, apalagi setelah itu Robin langsung naik ke kamarnya, meninggalkan Elsa terpaku di tempatnya dengan dada yang terasa sesak.
Elsa mencoba menahan rasa itu dan ia kembali ke kamarnya, Elsa duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang sayu. "Dia marah karena apa sebenarnya?" Gumam Elsa bingung.
Elsa melirik jam dinding yang menunjukan pukul 8 malam, ia pun mengambil jaketnya, memasang sepatunya dan keluar dari apartemen tanpa sepengetahun Robin.
Elsa hanya ingin menghirup udara bebas, berharap itu bisa menenangkan perasaannya.
Elsa berjalan di trotoar sembari mendengarkan musik, namun tiba-tiba ia di kejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti di depannya. Elsa melepas earphone yang ia pakai.
"Kamu...." Elsa menaikkan sebelah alisnya saat melihat Rion keluar dari mobil sambil tersenyum manis.
"Hai, miss arrogant...." sapa Rion dengan senyum yang mengembang lebar. Sementara Elsa hanya mendelik mendengar nama panggilan itu.
Ia pun hendak berjalan melewati Rion namun Rion justru mencekal pergelangan tangan Elsa. "mau kemana malam-malam begini?" tanya Rion.
"Bukan urusanmu, Pak Manager," jawab Elsa dingin namun Rion justru terkekeh, selalu merasa gemas dengan tingkah Elsa.
"Jadi kamu masih ingat dengan pekerjaanku, ya? Ngomong - ngomong, bagaimana hubunganmu dengan pak Robin? Apa kalian benar-benar akan menikah?"
"Aku rasa itu bukan urusanmu," jawab Elsa walaupun sekali lagi ia merasa bingun apalagi kini sudah ada dua orang yang membicarakan tentang pernikahannya dan Robin.
Rion terkekeh, ia menatap mata Elsa kemudian berkata. "Kalau saja aku punya kesempatan, aku akan merebutmu dari Robin."
"Elsa...!"