
Sakit, itulah yang di rasakan Elsa atas apa yang di katakan Robin. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, termasuk tak bisa menyalahkan Robin karena apa yang Robin katakan adalah fakta.
Dan pagi ini, Elsa sudah siap pulang ke kampung halamanya, ia juga sudah memesan tiket tadi malam. Setelah memastikan semua barang yang mau ia bawa sudah siap, Elsa pun keluar dari kamarnya namun ia terkejut karena ternyata Robin ada di depan kamarnya.
"Ada apa?" tanya Elsa yang berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu mau pergi sekarang?" Robin justru balik bertanya, Elsa hanya mengangguk pelan.
"Cancel! Nanti kita pergi bersama." Robin berkata dengan tenang, namun terselip nada perintah dalam ucapannya itu.
"Aku sudah pesan tiket, aku juga sudah pesan taksi yang mau ke bandara," jawab Elsa kesal.
"Ya makanya aku bilang cancel!" Tegas Robin penuh penekanan.
"Kalau kamu juga mau menghadiri acara Elnaz, ya kamu nyusul aja. Tidak mungkin aku cancel tiket yang aku beli, sayang uangnya," jawab Elsa sambil mendelik kesal.
"Aku ganti uangmu," kata Robin, Elsa menaikkan sebelah alisnya. "Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja, apalagi kamu sedang hamil." lanjutnya. Elsa pun akhirnya mengangguk, ia sudah tidak bergairah untuk melawan kata-kata Robin.
"Jadi, kapan kita berangkat?" Tanyanya kemudian.
"Nanti sore, siang ini aku masih ada pekerjaan penting. Kamu tunggu saja di sini!"
"Hem," jawab Elsa pasrah.
Setelah Robin berangkat ke kantor, Elsa hanya berdiam diri di kamarnya sembari membaca beberapa artikel tentang kehamilan, bayi dan yang lainnya. Elsa juga membaca beberapa curahan wanita saat menjadi ibu baru, ada yang bilang antusias, capek, namun ada juga yang mengatakan rasanya luar biasa.
Asyik dengan aktivitas santainya itu, Elsa baru menyadari bahwa hari sudah menjelang sore. Ia panik, apalagi Robin belum pulang.
Elsa pun mencoba menghubungi Robin namun ponsel pria itu tidak aktif.
"Astaga, dimana sih tuh anak?" geram Elsa kesal. Ia terus melirik jam di dinding kamarnya. Karena Robin masih tak bisa di hubungi, Elsa pun memberanikan diri pergi ke kantor Robin dengan naik taksi.
Dan sesampainya di kantor itu, Elsa langsung menanyakan keberadaan Robin pada resepsionis.
"Tadi pak Robin pergi keluar bersama pak Andrew, Bu. Apa Ibu sudah membuat janji dengan pak Robin?" tanya si resepsionis yang membuat Elsa semakin kesal.
"Iya, dia yang sudah janji sama aku tapi dia juga yang ingkar!" Ketus Elsa yang membuat resepsionis itu tampak bingung, apalagi Elsa terlihat sangat kesal.
"Baik, Ibu. Mungkin Ibu bisa menunggu sebentar," kata resepsionis itu.
Elsa hanya memutar bola matanya, dan ia pun menunggu Robin di lobi.
Lagi-lagi dan lagi Elsa mencoba menghampiri Robin, namun hasilnya sama saja. Dan tak lama kemudian, ia di sapa dengan sangat sinis oleh seseorang yang tak asing baginya.
"Sedang apa kau di sini? Mencari mangsa baru?" Elsa menatap wanita itu yang tak lain adalah Hannah. Elsa tersenyum miring dan menatap Hannah dengan sinis.
"Kalau iya, kenapa?" Tanya Elsa dengan santai. Hannah tampak geram dan tiba-tiba ia berteriak.
"Apa kalian tahu siapa wanita itu? Simpanan pak Andrew dan Jimmy!"