
"Apa? Mau pindah ke kamar bawah?" tanya Robin setelah Bu Anita mengutarakan keinginannya untuk pindah kamar. Saat ini keduanya sedang berada di kamar Bu Anita.
"Iya, Rob. Biar Mama bebas kalau mau keluar masuk rumah, tidak perlu di gotong setiap hari," kata Bu Anita dengan suara lirih "Mama capek begini terus, mau ambil air minum saja tidak bisa, Rob. Masih harus menunggu orang lain, apalagi sekarang sudah ada taman bunga, biar Mama bisa kesana setiap hari dan merawat bunga-bunga itu." lanjutnya yang membuat hati Robin terenyuh. Selama ini, Robin hanya sibuk dengan kebencian pada ayahnya tanpa menyadari bahwa Mamanya jauh lebih sakit dan jauh lebih menderita.
"Baiklah, besok aku akan menyuruh orang merenovasi kamar tamu di bawah, biar bisa jadi kamar yang nyaman untuk Mama," ucap Robin kemudian yang tentu saja membuat Bu Anita sangat senang.
"Terima kasih ya, Rob. Kamu sudah mau memenuhi keinginan Mama," kata Bu Anita dan ia merentangkan tangannya, Robin pun menyambut dan ia mameluk Mamanya itu.
"Hem, bau asem," kata Bu Anita sambil terkekeh yang membuat Robin merengut. Robin memang baru saja sampai di rumah setelah seharian sibuk mengurus pekerjaan, bisnis dan kuliahnya yang membuat Robin terasa akan pingsan.
"Ya sudah, aku mandi dulu, nanti kita makan malam bersama," ucap Robin dan Bu Anita pun mengangguk senang.
Setelah itu, Robin menghampiri Ayahnya yang hanya diam seperti biasa. Pak Andrew menatap Robin dengan begitu sayu, memohon agar ia kembali di sembuhkan namun Robin justru membalas tatapan Pak Andrew dengan begitu dingin.
"Kalau kamu mau bebas, kamu harus sadari dulu kesalahanmu. Apa kamu tahu betapa sakitnya kami melihat kamu keluyuran di luar sana dengan wanita yang berbeda setiap harinya? Berfoya-foya, bersenang-senang sedangkan kami menunggumu dirumah" desis Robin marah.
"Sekarang saatnya kamu yang menyaksikan kami bebas dan bahagia sementara kamu terkapar tak berdaya disini," ujar Robin yang membuat Pak Andrew langsung meneteskan air matanya.
Setelah itu, Robin segera keluar dari kamar Papa mamanya.
"Kamu tahu, Mas. Yang dapat hukuman seperti ini bukan hanya kamu, tapi juga semua wanita simpanan kamu. Robin menghancurkan hidup mereka semua, membuat mereka di blacklist dari semua perusahaan." Bu Anita berkata sambil tersenyum puas, sementara Pak Andrew justru mengernyit bingung.
"Dan sekarang, Elsa pun akan mendapatkan hukumannya, kamu senang 'kan melihat wanita simpananmu ada dirumah ini? Tapi sayangnya dia sekarang jadi pelayanku, Mas." Pak Andrew terperangah mendengar ucapan istrinya itu karena Elsa sama sekali tak pernah menjadi simpanannya meskipun Pak Andrew memang sangat menginginkan Elsa. Namun Pak Andrew masih menghargai Jimmy karena itulah ia hanya pernah meminta melakukan pemotretan bersama Elsa.
Sekarang Pak Andrew mengerti mengapa Elsa bisa ada dirumah ini dan bekerja seperti ini.
"Aku harus memberi tahu mereka kalau Elsa bukan wanita simpananku"
.........
Elsa memasak menu makan malam yang sangat berbeda dari biasanya yang di siapkan oleh Bi Sum.
"Hem, ini enak, Sa," kata Bi Sum yang mencicipi masakan Elsa.
"Harus dong, Bi. Biar Tuan, Nyonya dan Den Robin mu itu betah dirumah," kata Elsa dengan percaya diri "Kata mendiang Nenekku, keluarga kita akan betah dirumah kalau kita menyajikan menu yang enak dan sehat." lanjutnya sambil tersenyum samar dan nampak kesedihan dimata Elsa saat ia teringat dengan mendiang Neneknya, apalagi saat sang Nenek menghembuskan nafas terakhirnya, Elsa tak ada di sampingnya.
"Nenekmu pasti wanita yang hebat ya, Sa," Ujar Bi Sum lagi.
"Kamu punya adik, Sa?" tanya Bi Sum.
"Pu..."
"Punya dan adiknya menikahi tunangan Elsa!" Elsa dan Bi Sum langsung menoleh pada asal suara yang menyela ucapan Elsa itu. Mereka melihat Robin yang bersender di pintu sambil tersenyum miring.
"Eh, Don Robin sudah pulang?" seru Bi Sum karena ia melihat Robin masih memakai kemejanya dengan beberapa kancing atas yang sudah di buka, lengannya pun di gulung hingga siku dan jasnya ia sampirkan di lengan, penampilan acak-acakan itu sebenernya tampak seksi apalagi tatanan rambut Robin yang juga berantakan. Robin juga memiliki bentuk tubuh yang atletis, wajahnya pun tampak dewasa dan sangat tampan, sekilas ia tidak terlihat seperti pemuda berusia 22 tahun. Namun bagi Elsa, Robin lebih muda darinya dan ia masih bocah sehingga Elsa menepis fakta bahwa Robin terlihat sangat tampan dan keren.
"Itu omongan di jaga!" seru Elsa kemudian ia kembali fokus berkutat dengan bahan-bahan masakannya.
"Memangnya aku salah ngomong apa? Aku rasa itu fakta bahwa pria yang kamu cintai selama 8 tahun akhirnya menikahi adikmu sendiri," ujar Robin sambil berseringai licik.
"Sebaiknya Den Robin mandi saja sana," sambung Bi Sum yang melihat sinyal perdebatan akan di mulai antar dua insan beda usia ini.
Bi Sum dan Elsa memang tidak tahu jika Robin sudah pulang, yang membuka gerbang tadi Siti dan entah kemana wanita itu sekarang. Dan setelah dari kamar Mamanya, Robin memang tadinya ingin mandi namun entah mengapa ia masih memikirkan Elsa dan Rion. Robin pun turun dan mengecek kamar Elsa, setelah ia mengetahui tak ada Elsa disana, Robin pun mencarinya ke dapur.
"Itu memang fakta dan aku tidak menyagkalnya sama sekali!" seru Elsa "Lagi pula apa salahnya jika mantan tunanganku menikahi adikku? Yang penting mereka tidak selingkuh seperti Papamu 'kan?"
"Elsa!" geram Robin marah "Jaga omongan kamu, ya!"
"Memangnya aku salah ngomong apa? Bukannya itu fakta kalau Papamu memang selingkuh?" Elsa berkata sambil tersenyum miring "Dan bukannya menurut kamu, aku ini selingkuhan Papamu? ya sudah, ini ada bukti nyatanya kalau Papamu memang selingkuh." lanjut Elsa yang membuat Robin langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Terus kamu ada hubungan apa sama Rion?" tanya Robin kemudian yang membuat Elsa mengernyit bingung.
"Rion siapa?" tanya Elsa masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Elsa. Atau kamu punya banyak pria simpanan yang bernama Rion?" desis Robin yang membuat Elsa semakin marah namun ia mencoba menahan diri.
"Aku tidak tahu Rion yang mana yang kamu maksud, bocah tengil!" desis Elsa.
"Berhenti memanggilku bocah tengil. Els!" geram Robin dan ia mendekati Elsa.
"Jangan mendekat!" seru Elsa "Kamu tidak lihat aku mau masak, huh? Kalau kamu mau berdebat, ya sudah, nanti. Setelah aku masak!"