
Hari sudah semakin larut, semua orang sudah tertidur namun tidak dengan Bi Sum yang masih memikirkan Elsa "Rasanya tidak mungkin Elsa pergi dari rumah begitu saja, Den Robin juga tidak akan membiarkannya." Bi Sum menggumam lirih hingga pada akhirnya Bi Sum pun beranjak dari ranjangnya dan ia bergegas keluar dari kamarnya untuk mencari Elsa.
Bi Sum kembali mendatangi kamar Elsa yang tertutup rapat, Bi Sum mencoba membukanya namun pintunya terkunci membuat Bi Sum bernapas lega karena itu artinya Elsa ada di dalam, Bi Sum pun mengetuknya beberapa kali sembari memanggil nama Elsa.
"Sa, kamu di dalam?"
"Ini Bibi, Sa."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Elsa...!"
Bi Sum kembali cemas saat tak mendapatkan respon apapun dari Elsa, Bi Sum pun mengetuk pintu kamar Elsa lebih keras.
"Elsa, buka pintunya. Kamu di dalam 'kan? Bibi khawatir sama kamu, Sa. Apa kamu sakit?"
Sementara di dalam, Elsa duduk melamun di pojokan kamarnya, ia memeluk lututnya dan pandangannya tampak kosong. Elsa sudah berganti pakaian, namun ia belum mandi karena Elsa tak ingin melangkah keluar dari kamarnya. Elsa juga mendengar suara Bi Sum yang terus memanggilnya, namun Elsa seperti tak punya tenaga untuk menyahut panggilan Bi Sum.
Air mata Elsa kembali jatuh membasahi pipinya tanpa bisa di cegah.
"Hiks... Hiks..." akhirnya Elsa kembali terisak, ia langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Punggung Elsa pun bergetar, semakin lama isak tangisnya semakin menjadi dan itu terdengar sampai keluar kamar.
Membuat Bi Sum yang masih berada di luar kamar Elsa semakin cemas.
"Sa, kamu kenapa?" tanya Bi Sum panik "Kamu sakit, Sa? Buka pintunya, Nak! " seru Bi Sum namun yang ia dengar hanya suara tangis Elsa yang semakin nyaring.
"Elsa, kalau kamu tidak mau buka pintu, Bibi akan dobrak pintunya, Sa."
"Sa, ayo buka pintunya, Nak. Kamu kenapa?" Bi Sum merasa frustasi karena Elsa yang terdengar hanya suara tangis Elsa sejak tadi.
"Sa!!!" seru Bi Sum hingga kemudian terdengar suara ceklekan pintu, Bi Sum mendorong pintu itu hingga terbuka dan Elsa pun langsung berhambur ke pelukan Bi Sum. Tangis Elsa kembali pecah, sementara Bi Sum langsung mendekap Elsa, ia mengusap punggung Elsa dengan lembut, berusaha membuat Elsa tenang walaupun Bi Sum tidak tahu masalah apa yang terjadi pada Elsa.
Selama beberapa menit Elsa masih menangis di pelukan Bi Sum dan Bi Sum pun membiarkannya ssja, sampai akhirnya perlahan tangisan Elsa pun mereda.
"Ada ap..." ucapan Bi Sum terhenti saat ia tatapannya tak sengaja melihat leher Elsa yang memiliki banyak bercak merah, Bi Sum ingin bertanya lagi namun suaranya seperti terhenti di tenggorokannya.
"Aku mau pergi dari sini, Bi." kata Elsa dengan suara yang bergetar, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Bi Sum, seolah Elsa sedang ketakutan dan ia butuh kekuatan.
"Ada apa? Siapa yang melakukan ini sama kamu, Sa?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Bi Sum.
"Robin, Bi. Hiks... Robin yang melakukannya, hiks..." Bi Sum sangat terkejut mendengar apa yang di katakan Elsa, kedua bola matanya melotot sempurna. Bi Sum seperti tersambar petir di siang bolong mendengar apa yang tak pernah ia duga.
"Dia melecehkanku, Bi. Dia menghancurkan hidupku, semuanya sudah hancur. Hiks... Hiks..." tubuh Elsa melorot ke lantai, sementara Bi Sum masih terdiam dan tubuhnya langsung teras begitu lemas.
"Hiks... Hiks..." isak tangis Elsa masih terdengar begitu memilukan, membuat hati Bi Sum ikut merasakan sakit. Ia pun kembali menarik Elsa kedalam pelukannya, dan Bi Sum kembali berusaha memberikan pelukan yang menenangkan.
"Bibi tidak menyangka Den Robin bisa melakukan hal seperti ini, Sa." Bi Sum berkata dengan lirih, hatinya juga sakit dan kecewa. Kecewa pada Robin yang padahal selama ini ia anggap anak baik, dan sakit karena sebagai wanita, Bi Sum bisa mengerti bagaimana perasaan Elsa sekarang.
"Aku mau pergi, Bi. Aku mohon..." lirih Elsa memelas dan Bi Sum pun menganggukan kepalanya.
"Malam ini Bibi akan bantu kamu keluar dari rumah ini, Sa," kata Bi Sum "Tapi kita tunggu dulu sampai semua orang tidur, ya..." bujuk Bi Sum dan Elsa mengangguk lemah.
"Kamu siapkan barang-barang kamu, Sa."
.........
Sementara di kamarnya, Robin pun tak bisa tidur meskipun sudah beberapa kali ia mencoba memejamkan mata. Namun saat menutup mata, yang ia lihat hanyalah Elsa yang sedang menangis di bawahnya.
"Aghh... Sial!" geram Robin kemudian ia duduk tegak, Robin menatap lengan dan punggung jarinya yang sudah ia obati.
Robin tahu, rasa sakit fisiknya ini tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit yang di torehkan di hati Elsa.
"Saat aku tahu kamu bukan wanita yang seperti aku duga, kenapa aku justru melukai harga dirimu, Els?"
.........
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Bi Sum menepati janjinya untuk membantu Elsa melarikan diri. Tak hanya menantu Elsa, Bi Sum juga memberikan beberapa lembar uang untuk Elsa.
"Tidak udah, Bi. Kalau hanya soal uang, aku masih punya," ucap Elsa. Ia berpakaian sangat tebal, dan juga memastikan lehernya tertutupi karena Elsa tidak mau ada orang lain yang melihat tanda itu. Yang sangat menjijikan bagi Elsa.
"Tidak apa-apa, Sa. Simpan saja, bukannya kamu tidak punya uang cash? Kalau naik bis, harus pakai uang cash, tidak bisa gesek." Bi Sum berkata sambil terkekeh, Elsa pun hanya bisa tersenyum samar, setidaknya di saat seperti ini, masih ada yang bisa sedikit menghiburnya.
Elsa tidak membawa semua barang-barangnya karena Elsa tidak mau kerepotan di tengah jalan, apalagi ia akan naik bis.
Bi Sum membawa Elsa keluar lewat pintu belakang dan Elsa sangat bersyukur karena kunci rumah di pegang Bi Sum, namun sayangnya Bi Sum tak bisa mengantar Elsa lebih jauh lebih lagi.
"Hati-hati ya, Sa. Kabari Bibi kalau kamu sampai, atau ada apa-apa," ucap Bi Sum dan Elsa mengangguk. Ia memeluk Bi Sum dengan erat.
"Terimakasih banyak karena sudah mau membantuku, Bi," ucap Elsa tulus.
"Tapi bagaimana kalau Robin tahu Bi Sum yang membantuku? Dia bisa marah, Bi."
"Jangan fikirkan itu, Sa. Yang penting kamu berhasil meloloskan diri, dan Bibi menyesal tidak membantu kamu sejak dulu, Sa."
"Itu salah ku karena aku tidak meminta bantuanmu, Bi. Aku terlalu sombong, menganggap aku bisa melawan Robin." Elsa berkata lirih.
Keduanya pun kembali berpelukan sebelum akhirnya Elsa dengan berat hati meninggalkan Bi Sum.