After Darkness

After Darkness
Episode 175



Seperti kata Robin, tak kan ada malam pertama layaknya sepasang pengantin baru karena mereka bukanlah pengantin biasa. Namun setidaknya, malam ini mereka tak harus rempong dengan si kecil dan mereka bisa melepas rindu yang tertahan selama ini.


Robin tak bisa berhenti mencumbu istrinya yang saat ini masih bergelinjang manja di bawah guyuran air shower.


Ia mencium setiap inci kulit Elsa yang begitu lembut dan halus. "Kamu benar-benar seksi, Els." Robin memuji ketika Elsa melenguh lirih.


Robin mencium bagian inti Elsa yang begitu ia rindukan rasanya itu, ciumannya beralih ke pangkal paha Elsa, ia menghisap kulit Elsa disana yang seketika membuat Elsa melenguh lebih keras dan sudah di pastikan Robin akan meninggalkan jejak disana.


"Oh, Sayang. Aku ingin sekali memasukimu, aku merindukan ini...."


"Ahhh....."Elsa mengerang saat Robin mengusap belahan bibir pusat intinya di bawah sana dengan lembut.


Elsa tersenyum, ia menarik Robin agar berdiri dan Elsa langsung menyerang bibir Robin dengan tidak sabar.


Keduanya terus bertciuman, saling mencumbu dengan begitu menggebu seolah tak kan ada hari esok.


Tangan Robin meraba seluruh tubuh sang istri dan pada akhirnya ia berhenti di kedua benda yang selama seminggu ini selalu Robin lihat dengan jelas namun tak bisa Robin sentuh.


Kini Robin bisa menyentuhnya, dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Robin memindahkan tangannya ke punggung Elsa, menelusuri punggung istrinya itu ke bawah dan berhenti di bokong Elsa hingga pada akhirnya Robin mengangkat tubuh Elsa ke dalam gendongannya.


Elsa memekik terkejut dan secara spontan ia langsung melingkarkan tangannya di leher Robin dan kedua kakinya di pinggang Robin.


Robin mengerang saat pusat dirinya bergesekan dengan pusat diri Elsa, begitu pun Elsa yang hanya bisa mendesis lirih.


Robin melangkah keluar dari kamar mandi, kemudian ia menidurkan Elsa di ranjang tanpa perduli jika ranjang itu akan basah karena tubuh mereka yang belum di keringkan.


"Kita belum selesai mandi," kata Elsa dengan suara serak, Robin enggan menanggapi, ia hanya tersenyum samar kemudian ia ikut merebahkan diri di samping Elsa dan berkata.


"Aku seperti sekarat menahan hasrat ini, Els." suaranya begitu serak, Robin menarik tangan Elsa, mengecup jari jemari istrinya itu dengan lembut sebelum akhirnya membawanya ke pusat tubuhnya yang telah berdiri kokoh, kuat, dan gagah.


Elsa menahan napas, bibirnya terbuka dan pandangannya matanya tidak fokus. "Please...." Robin berkata dengan suara berat dan napas yang mulai terputus-putus, dadanya naik turun, tatapannya gelap, sarat akan gairah yang tertahan.


Walaupun ragu, Elsa menaik turunkan tangannya disana, memijat, dan terkadang mengocoknya dengan pelan dan tatapan mata Elsa tak pernah lepas dari raut wajah Robin yang tampak sangat seksi, apalagi ketika berondongnya itu mengerang nikmat.


Elsa seperti di semangati dan ia merasa di apresiasi, membuatnya senang dan bangga. Elsa semakin mempercepat pergerakan tangannya sementara mulut Robin kini mencari sumber kehidupan putranya itu, ia juga ingin merasakannya.


Dan saat menemukannya, Robin langsung melahapnya, ia menyusu dengan rakus, seperti baby Arjun saat kelaparan. Elsa terkikik melihat kelakuan suaminya ini namun ia juga mengerang tertahan, darahnya seperti mendidih, hasratnya melambung tinggi.


"Aku sudah menginginkannya sejak pertama kali kamu menyusui si kecil, Sayang. Emmm...." Robin mengoceh sebelum akhirnya ia menyusu pada sumber kehidupan yang satunya, dan kini tangannya meremas yang lain, memainkan ujung merah muda muda itu yang besar, keras, dan menggemaskan.


Elsa merasakan benda di genggamannya semakin membesar dan berkedut, ia pun mempercepat pergerakan tangannya dan itu membuat Robin menggila, ia melepaskan mulutnya dari benda kenyal itu, Robin mengerang dan kepalanya terhempas ke belakang.


"Lebih cepat, Els...." racaunya saat ia merasakan pusat dirinya akan meledak. "Yeah, begitu Sayang. Aku sudah deket."


Elsa menatap Robin dengan gairah yang sama besarnya, dan bibirnya tersenyum puas melihat Robin seakan menggila hanya karena permainan tangannya.


Elsa mendekatkan mulutnya ke telinga Robin, ia mencium dan menjilat daun telinga suaminya itu yang begitu sensitif, membuat Robin semakin hilang akal, kemudian Elsa berbisik. "Keluarkan, Sayang. Aku menunggu...."


Robin mengerang panjang dan seluruh tubuhnya menegang saat ia menyemburkan cairan cintanya yang memenuhi tangan Elsa, Elsa tersenyum puas kemudian ia menyapukan bibirnya di bibir Robin.


"Ini hanya permainan tangan, dan kamu sudah hampir gila, eh?" ejeknya. Robin tersenyum lemas, dan apa yang di katakan Elsa memang benar adanya.


"Bahkan hanya dengan menatap wajahmu, aku sudah gila, Sayang. Aku sudah berdiri tegak, dan dia menggeliat memanggilmu." Elsa tersipu mendengar ucapan Robin itu, Robin menangkup pipi Elsa dan keduanya kembali berciuaman dengan lembut.


Tbc...