
"Jadi sekretaris pribadi saya, Tante."
"APA?" pekik Elsa dan Bu Isna secara bersamaan yang membuat Robin terkekeh.
Elsa langsung menatap Robin penuh tanda tanya, sementara Bu Isna justru tampak ragu apalagi ia belum terlalu mengenal teman Elsa yang satu ini.
"Memangnya kamu bekerja dimana?" Tanya Bu Isna akhirnya, Robin pun menyerahkan surat kontrak kerjanya pada Bu Isna.
"Bukannya ini perusahaan agensi tempat Elsa bekerja dulu?" Tanya Bu Isna saat melihat nama dan logo perusahaan Robin.
"Benar, Tante. Dulu Elsa bekerja untuk ayah saya, dan karena ayah saya lagi sakit, jadi sekarang saya yang memimpin perusahaan," jawab Robin dengan lancar yang membuat Bu Isna terlihat bingung, apalagi Robin masih terlihat sangat muda.
"Oh ya, saya juga mengenal Elnaz," tukas Robin kemudian untuk menarik kepercayaan Bu Isna, Elsa yang mendengar Robin membawa-bawa Elnaz langsung memelototinya namun tentu Robin tak perduli dengan hal itu.
"Kok bisa?" Tanya Bu Isna penasaran.
"Tentu saja bisa, Tante. Elnaz junior saya di kampus, kami berteman dan sangat dekat, saya juga mengenal suaminya," jawab Robin meyakinkan.
"Wah, dunia sempit sekali. Elnaz pasti senang kalau kakaknya bekerja dengan temannya," ucap bu Isna yang membuat Elsa tersenyum getir. Karena Robin tak sebaik yang mamanya kira.
"Jadi, kapan kamu bisa mulai bekerja, Sa?" Tanya Robin kemudian.
"Elsa masih sakit," jawab Bu Isna mendahului Elsa.
"Iya, Tante. Saya juga tahu itu, saya tidak memaksa Elsa bekerja secepatnya, saya hanya ingin memastikan, jika Elsa sudah sembuh, apakah dia bersedia langsung bekerja dengan saya?"
"Aku akan bekerja, aku butuh pekerjaan," jawab Elsa dengan cepat dan tentu hal itu langsung membuat Robin tersenyum penuh kemenangan.
.........
Elsa menciparatkan air ke wajahnya, kemudian ia mengusapnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh setiap kali mengingat bagaimana Robin semena-mena terhadapnya.
Elsa keluar dari kamar mandi, ia menatap surat kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani dengan berat hati. Elsa mengambil surat itu kemudian membaca setiap poinnya karena tadi ia tidak membacanya sama sekali, tentu saja karena Robin yang terus mengalihkan perhatiannya membuat Elsa sangat kesal dan akhirnya langsung menandatangani surat itu.
Kening Elsa mengkerut saat membaca lembar kedua isi surat kontrak itu. Dimana disana tertulis bahwa Elsa akan bersama Robin selama satu tahun, Elsa harus memastikan kandungannya baik-baik saja dan bersedia melahirkan bayinya.
"Gila, seharusnya aku membaca isi surat ini baik-baik, sialan!" geram Elsa sembari meremas kertas itu hingga kertas itu kusut.
.........
Robin yang tak ingin membuat mamanya khawatir memilih pulang setelah menemui Elsa dan memberikan surat kontrak kerjanya, Robin sengaja membuat perjanjian seperti itu karena Robin takut Elsa melakukan sesuatu yang membuat ia kehilangan calon bayinya.
Robin juga tidak mendesak Elsa untuk segera ke Jakarta, karena surat itu ditandatanagani di atas matrei dan Elsa tahu jika ia melanggar, Robin akan membawanya ke jalur hukum.
"Semoga secepatnya kamu menyusul, Sa. Karena aku harus memastikan calon bayiku tumbuh dengan baik."
.........
"Ke Jakarta?" Pekik Pak Malik setelah istrinya bercerita tentang Robin dan tawaran kerjanya.
"Aku rasa jangan, jangan biarkan Elsa ke Jakarta lagi, ada Elnaz dan Arfan disana!" Tegas Pak Malik yang masih trauma dengan masalah sebelumnya.
"Mas, Elsa kesana untuk bekerja, bukan mengganggu rumah tangga Elnaz. Lagi pula hubungan mereka berdua sudah baikan, dan Robin ternyata juga teman Elnaz, Robin pasti orang baik," bujuk Bu Isna yang membuat Pak Malik menghela napas berat.
"Ayolah, Mas. Izinkan saja, lagipula Elsa juga sudah tanda tangan surat kontrak. Dari pada Elsa di rumah, stres dia, Mas."
"Apa Elsa tidak bisa mencari pekerjaan yang lain? Dia berpendidikan, kenapa harus bekerja sama teman Elnaz?"
"Memang apa salahnya sih, Mas? Kita harus belajar melepas Elsa lagi dan mempercayai dia lagi, dia bukan anak kecil, Mas. Dia sudah dewasa."