
Yang di takutkan Elsa benar terjadi, saat ia turun dari mobil sambil menggendong anaknya, para tetangganya langsung berbisik satu sama lain dan memandang Elsa dengan sinis. Hati Elsa seperti di remas, untuk yang kedua kalinya ia akan menjadi bulan-bulanan para tetangganya namun tiba-tiba Robin merangkul pundak sang istri, tersenyum padanya dan berkata.
"Sayang, ayo masuk!" Elsa tersenyum kaku dan hatinya kini lebih tenang.
Tak lama kemudian pintu terbuka, Bu Isna langsung menyambut Elsa dengan pelukan hangat begitu juga pada besannya.
Dan disana, ada Tante Elsa sekaligus mertua Elnaz, Bu Yuni. Elsa kembali merasa takut dan cemas, namun Bu Yuni justru menyambut Elsa dan ia mencium Baby Arjun dengan gemas.
"Dia tampan sekali, tidak salah kamu memilih ayah dari anakmu, Sa," kata Bu Yuni yang membuat Elsa tertawa kecil.
Bu Yuni juga menyapa Bu Anita dengan ramah, dan itu membuat Elsa benar-benar bisa bernapas lega, sekarang ia tak mau perduli dengan omongan ataupun tatapan sinis tetangga selama keluarganya mau menerima dirinya dan keluarga kecilnya.
Meraka semua masuk ke rumah, dan disana sudah ada Pak Malik yang bermain dengan Aurora yang kini merangkak di lantai.
"Sudah bisa merangkak, El?" Tanya Elsa yang tampak antusias.
"Sudah, Kak," jawab Elnaz kemudian ia menggendong anaknya itu, namun Aurora menangis dan menggeliat dari gendongan Elnaz.
Elnaz pun mengembalikan anaknya itu ke lantai supaya merangkak sepuas hati. "Kata Elnaz Papa encok, beneran?" Tanya Elsa dan ayahnya itu mengangguk.
"Habis jatuh dari motor, Sa. Jadi sakit punggung, maaf ya Papa tidak bisa jemput." Pak Malik memeluk Elsa sebelum akhirnya ia mencium cucu keduanya itu.
"Cucu Kakek, nyenyak sekali tidurnya. Pasti lelah ya?" Pak Malik bertanya sembari mencubit gemas pipi baby Arjun.
"Jangan di cubit, Pa. Nanti Bapaknya marah! " kata Arfan sambil melirik Robin.
"Papa cuma nyapa," jawab pak Malik. "Oh ya, kalian pasti lelah. Kalian bisa istirahat dulu, Elnaz sudah menyiapkan kamar kalian. Dan maaf juga ya, rumah kami kecil, cuma segini." lanjutnya apalagi mengingat rumah Robin sangat besar dan mereka orang yang sangat kaya.
"Yang penting nyaman di tempati," kata Bu Anita.
Elnaz pun mengantar Bu Anita ke ruang tamu, sementara Elsa dan Robin masuk ke kamar Elsa.
Bu Anita duduk di tepi ranjang, sambil tersenyum dia berkata. "Aku banyak mendengar tentangmu dari Elsa dan Robin, El. Kamu sepertinya lebih baik dari yang mereka ceritakan," ucapnya.
"Maksudnya?" Tanya Elnaz.
"Mereka bilang kamu cantik, manis, baik, tapi sepertinya kamu lebih baik dari itu semua. Kamu tipe wanita yang dewasa di usia muda." Elnaz terkekeh mendengar ucapan mertua kakaknya itu.
"keadaan yang memaksa El dewasa secepat ini, Tante."
"Dan kamu berhasil menaklukan keadaan itu? Sama seperti Elsa, kalian wanita yang luar biasa."
.........
Sementara di kamarnya, Elsa menidurkan baby Arjun di tengah ranjang. Dan saat anaknya itu merengek, Elsa langsung menyusuinya seperti biasa. Pemandangan itu membuat Robin selalu tidak fokus, selalu bergairah, dan selalu menyiksa.
"Mandi gih!" Seru Elsa pada suaminya yang justru menatapnya seperti orang lapar.
"Aku boleh ikutan, Sayang? Sebentar saja."
"Ikutan apa?"
"Nysusu!"
"Hish, bocah ini!"
Tbc...