After Darkness

After Darkness
Episode 135



Kesabaran Elsa rasanya benar-benar sudah semakin menipis, apalagi jadwal penerbangan yang tiba-tiba delay padahal hari sudah petang. Sementara Robin justru terlihat sangat santai, bahkan sesekali ia tersenyum samar mengingat kelakuan Elsa di kantor tadi.


Jika saja Elsa mau menjadi istrinya, Robin pasti akan sangat bangga karena memiliki istri secerdas dan sekuat Elsa, tahan banting, dan tidak mudah emosi menghadapi apapun, yang ada dia membuat orang emosi.


"Gara-gara kamu sih, bisa telat kita ke acara Elnaz," gerutu Elsa kesal.


"Ya sabar saja, penerbangan juga cuma sejam," kata Robin dengan tenang. Elsa kembali cemberut, dan Robin justru tampak gemas, saat melihat bibir Elsa yang mengerucut lucu, Robin langsung terbayang kembali dengan mimpi indahnya.


Bibir itu, pasti rasanya kenyal, manis, bikin candu. Robin ingin sekali merasakan lembutnya bibir Elsa sekali lagi, dan bagaimana jika Robin menggigit bibir itu? Pasti rasanya....


"Robin, aku...." khayalan Robin langsung menguap saat tiba-tiba Elsa menoel lengannya.


"Hem?" Robin menatap Elsa yang tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu, sungguh perubahan yang sangat cepat.


"Sebenarnya aku...."


"Perhatian, para penumpang pesawat ...."


Ucapan Elsa terpotong saat ia mendengar pengumuman itu, ia pun dengan antusias berdiri dan saat hendak membawa tasnya, Robin malah mencegahnya dan mengatakan dia akan membawakannya. Tentu saja ia sangat senang dengan hal itu, setidaknya Elsa kembali merasakan perhatian Robin.


.........


Setelah hampir satu jam penerbangan, kini Elsa dan Robin akhirnya sudah mendarat dengan selamat dan Elsa ingin langsung ke rumahnya karena sebentar lagi acara pasti pasti di mulai.


Robin pun tentu menurut saja, karena hari ini ia sudah sangat memancing emosi Elsa.


Namun di tengah perjalanan, taksi yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan yang cukup sepi.


"Ada apa, Pak?" Tanya Robin.


"Maaf, Pak. Sepertinya ada masalah," jawab sopir itu kemudian ia turun dari taksi.


Awalnya, baik Robin maupun Elsa tak merasa ada yang salah, namun setelah beberapa menit menunggu, sopir itu seperti tidak melakukan apapun, hanya celingukan kesana kemari yang membuat Robin langsung merasa curiga. Robin mengintip ke depan dan kunci mobilnya di bawa oleh sopir itu.


"Elsa, ada yang tidak beres. Sebaiknya kita keluar!" kata Robin dengan cemas, Elsa bingung namun Robin tak memberinya kesempatan bertanya.


Saat mereka keluar dari mobil, tiba-tiba ada dua orang yang memakai topeng dan membawa senjata menghadang mereka. Robin dan Elsa pun mengerti bahwa kini mereka dalam bahaya, ini pasti perampokan, fikir Elsa.


Robin langsung melindungi Elsa, menarik Elsa bersembunyi ke belakang tubuhnya. "kalian salah memilih korban!" Tegas Robin namun kedua pria itu langsung menodongkan senjata tajamnya pada Robin.


"Serahkan semua barang kalian dan pergi dari sini secara baik-baik atau kalian akan habis!" Gertak pria itu. Elsa sudah tampak ketakutan, apalagi saat ia melirik ke sekelilingnya, begitu sepi.


"Kasih saja yang mereka mau," bisik Elsa dengan suara bergetar, ia meremas lengan Robin.


Robin pun mengeluarkan dompet dan ponselnya kemudian melemparnya pada ketiga pria itu. Namun pria itu tidak puas, mereka juga meminta barang-barang Elsa, Elsa pun memberikan semua barangnya tanpa berfikir panjang. Bahkan kalung yang Elsa kenakan juga di minta.


"Serahkan atau kami habisi kalian berdua!" ancam salah satu pria yang memakai topeng, Robin langsung melirik tajam sopir taksi badungan yang kini justru merokok santai sembari menghitung uang dalam dompet Robin.


Dalam hati Robin bersumpah akan membalas orang itu nanti!


"Berikan saja, Els!" lirih Robin karena ia tak ingin mengundang kemarahan para perampok ini, bukan karena apa, tapi karena Robin takut mereka mereka sampai melukai Elsa.


"Tapi ini hadiah terakhir dari mendiang Nenek, Rob." Elsa memelas. Robin menoleh, ia menatap mata Elsa kemudian berkata dengan setengah berbisik.


"Berikan saja dulu, aku janji akan mendapkannya lagi nanti!" ujarnya meyakinkan. "ini demi keselamatan kita, Els. Ingat! kamu sedang hamil."


Elsa terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mau melepas kalung nya dengan berat.


Tbc...


Hai, sambil menunggu bocah tengil up lagi. Yuk, mampir kesini yaaa.


Judul : The Magic Face Brush


Penulis : Dini Ratna


"Hei, OB kau becus gak sih kerja, gara-gara lo, gue jatuh tahu gak!" hardik Sharon.


"Anda yang jatuh bukan salah saya, sepertinya anda tidak melihat peringatan itu, bahwa lantai ini sedang di bersihkan," bantah Meisie. Karena tak terima di salahkan Sharon pun melepas paksa masker yang Meisie gunakan untuk menutup codetnya. Sharon begitu terkejut ketika melihat wajah Meisie yang mengerikan, begitu pun dengan karyawan yang lain, mereka semua saling berbisik.


"Jadi, masker ini untuk menutupi wajah burukmu, dasar gadis buruk rupa." Ucap Sharon, yang tersenyum sinis. Meisie hanya diam, tapi Sharon terus menghinanya tanpa henti.


"Hey, lihatlah wajahnya begitu menyeramkan, untuk apa kau tutupi pakai masker ini, tetap saja wajahmu terlihat," ejek Sharon, seraya menginjak masker Meisie dengan kakinya.


"Ada apa ini?" ucapan seseorang mengejutkannya, dan mampu membuat diam semua orang yang saling berbisik. Siapa lagi kalau bukan Elo, pria dingin dan cuek yang di takuti semua orang.


Elo, melirik ke arah Meisie yang terus menunduk, namun Sharon dengan sengaja mencengkram dagunya, dan menariknya ke atas membuat Meisie mendongak, dan Elo, harus melihat codet di wajahnya.


"Elo, lihatlah wajahnya apa kau tidak malu memperkerjakan gadis cacat seperti dia," cibir Sharon, berharap Meisie dapat hinaan dari Elo.


"Siapapun boleh bekerja disini, fisik bagi saya tidak penting, yang penting adalah orang itu punya kemampuan dan bekerja dengan baik. Seharusnya kamu yang malu, kau orang terpelajar tapi tingkah mu seperti tidak berpendidikan," Telgas Elo, namun menusuk di hati Sharon. Sharon pun langsung melepaskan cengkraman tangannya, wajahnya begitu merah karena menahan malu, akhirnya Sharon pun pergi.


"Bubar kalian semua, kembali bekerja." Tegas Elo pada semua karyawannya. Elo kembali menatap Meisie, Elo terus menatap luka codetnya, entah kenapa Elo, teringat seseorang di masa kecilnya. Meisie hanya menunduk hormat pada Elo. Elo pun akhirnya melangkah pergi.


****


Meisie Callia, seorang gadis buruk rupa karena codet di wajahnya. Yang selalu di hina dan d ejek. Namun kehidupannya berubah setelah menemukan sebuah brush ajaib..