After Darkness

After Darkness
Episode 129



Elsa terbangun dengan perut yang keroncongan, bahkan ia seperti akan pingsan karena kelaparan. Tentu saja, semalam ia tidak makan malam karena Elsa ketiduran.


Elsa duduk di atas ranjangnya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapaknya. "Dasar bodoh!" Elsa merutuki dirinya sendiri saat mengingat kejadian semalam.


Ia memeluk Robin dengan setengah sadar, bergelenyut manja di leher pria itu, menghrip aromanya, mengendus bahkan mencium lehernya dengan intens. Tak hanya itu, Elsa juga mengungkapkan kerinduannya pada Robin, sebuah ungkapan yang berasal dari hatinya dan terlontar begitu saja dari bibirnya tanpa bisa di cegah.


Elsa tidak bisa menghentikan dirinya, seperti ada sisi lain dalam dirinya yang mengambil kendali. "Pasti karena jabang bayi ini." Elsa menggumam kesal.


Setelah ia mengendus bahkan mencium leher Robin, Elsa justru kembali sangat mengantuk, apalagi aroma Robin seperti aroma terapi yang menenangkan dan sangat mudah membawanya ke alam mimpi, dan bodohnya Elsa karena setelah itu ia benar-benar tenggelam di alam mimpi.


Karena sudah tak tahan dengan kelaparan yang melandanya, Elsa pun pergi ke dapur dan berharap Robin sudah menyiapkan sarapan seperti biasa, namun Robin sepertinya masih tidur. Tanpa fikir panjang, Elsa bergegas membangunkan Robin.


Awalnya ia mengetuk pintu dengan pelan dan memanggil nama Robin dengan lembut, namun tak ada tanggapan. Beberapa kali Elsa memanggil ayah dari bayinya itu, namun Robin seperti orang pingsan yang tak juga me respon panggilannya. Elsa kesal dan ia pun langsung mengedor pintu kamar Robin sambil berteriak seperti orang gila.


"Robin....!"


"Aku lapar....!" "


"Robin, bangun!!!"


"Anakmu lapar, woy!!!"


Di dalam, Robin menggeram kesal, ia menyingkirkan guling yang ia peluk dan membantingnya ke lantai dengan kasar.


Bagaiamana tidak kesal? Sentuhan bibir Elsa di lehernya benar-benar membangunkan jiwa lelakinya, mengusik hasrat nya, apalagi dengan untaian kerinduan dan akan ungkapan akan di kebutuhannya pada Robin yang terucap dari bibir Elsa terus mendayu di telinga Robin.


Namun, saat hasratnya terusik dan ingin di puaskan, wanita itu malah tidur dengan tenangnya, bahkan mendengkur di leher Robin, belum lagi rangkulan tangan Elsa di lehernya, seolah Elsa tak mau Robin pergi.


Saat Elsa mau melepas diri dari Robin, Robin langsung berlari ke kamarnya, dan satu-satunya cara untuk meredakan hasratnya yang memuncak, menidurkan kembali pusat dirinya yang tegak adalah dengan mandi air dingin. Rasanya tidak enak, sakit, berdenyut, membuat kepala Robin pening dan ia pun tak bisa tidur semalaman.


Saat ia tidur, ia bermimpi yang sangat indah, bahkan membuatnya enggan bangun, namun lagi-lagi Elsa mengacuakannya. Membuat kepalanya sakit dan berdenyut atas bawah.


Robin membuka pintu dengan kasar, tatapannya tajam, rahangnya mengetat.


"Apalagi?" Bentaknya yang memmbuat Elsa terkesiap.


"Aku ... aku lapar," cicitnya sambil memegang perutnya, nyali Elsa menciut saat menatap wajah garang Robin.


"Terus? Aku harus masakin kamu, begitu? kamu fikir aku pembantu kamu? Huh ? Masak sendiri sana!" ia kembali membentak, tampak sangat marah, yang membuat Elsa terperangah, ia hanya bisa diam mematung, apalagi saat Robin membanting pintu, membuat elsa terlonjak.


Bibir Elsa sudah bergetar, matanya memerah dan berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Kenapa rasanya sakit sekali di bentak seperti ini oleh Robin?


Air mata Elsa sudah mengalir begitu saja dari sudut matanya namun Elsa dengan cepat menghapusnya, ia pun kembali ke dapur untuk membuat sarapannya sendiri, sambil memasak, Elsa menangis terisak.


"Memangnya aku salah apa? kenapa dia marah-marah? Hiks ... Hiks...."


Tbc...


Ehem ehem, ciye.... Yang kena prank othor. 🤭


Jangan marah ya, Mak.