
Karena kelakuan bar-bar Elsa, Rion harus kembali menghadapi sikap dingin sang boss, padahal tadi semuanya sudah menghangat dan mereka membicarakan bisnis layaknya teman.
Tapi sekarang? Robin seperti memusuhi Rion, sementara Elsa hanya terkekeh, seolah mengejek Rion.
Setelah memantau jalannya restaurant malam ini, Robin mengajak Elsa pulang apalagi ia teringat dengan pesan mamanya.
"Harus sudah ada di rumah sebelum jam 9!"
Rion mengantar Robin dan Elsa sampai ke mobil, dan sebelum masuk mobil, Elsa masih sekali lagi menggoda Rion dengan berkata. "Alasan aku benar-benar bisa menikah sama Robin karena ini, dia bayar di muka!" Elsa menunjuk sang bayi yang masih di gendongannya dan hal itu berhasil membuat Rion tertawa.
"Jadi secara otomatis sudah terikat ya," ucap Rion.
"Masuk, Els!" Tegas Robin yang tampak tak menyukai sang istri berbicara dengan Rion.
"Punya suami kok sempurna banget, selain muda, tampan, posesif lagi, bentuk cinta ya? Besar banget cintanya." kini Elsa menggoda suaminya itu sambil terkekeh namun Robin tetap memasang wajah dinginnya.
"Bye, Om Rion. Kami pulang dulu!" Elsa melambaikan tangan Baby Arjun pada Rion yang membuat Rion tertawa dan membalas lambaian tangan baby Arjun itu.
.........
Robin sampai di rumah tepat jam 9, dan hal itu membuat mamanya mengomel tanpa henti.
"Bayi itu seharusnya tidak di bawa jalan malam-malam begini, nanti masuk angin!"
"Kalian sebagai orang tua seharusnya memperhatikan kesehatan anak kalian! Nanti dia sakit!"
"Cepat kasih minyak kayu putih yang banyak, biar badannya hangat!"
"Cek juga popoknya," tukasnya.
Elsa memutar bola mata jengah mendengar ocehan ibu mertuanya itu yang bahkan sampai mengikutinya ke kamar. Sementara Robin hanya bisa meringis, ia ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya.
"Iya, Mama. Iya...." seru Elsa sembari menidurkan bayinya itu. "Ya sudah, aku mau mandi dulu." lanjutnya, Bu Anita pun mengecek popok Baby Arjun dan ia menggantinya.
"Kenapa sudah di ganti, Ma? Kan belum penuh," kata Robin sembari mengganti pakaiannya dengan piyama kemudian ia merangkak naik ke atas ranjang.
Robin memperhatikan Mamanya yang tampak benar-benar menyayangi Baby Arjun, dan itu mengingatkan Robin akan apa yang terjadi di masa lalu. Bagaimana mamanya hampir saja membunuh bayi tak berdosa itu, bukan hanya Bu Anita, tapi juga Elsa.
Hanya Robin yang benar-benar menginginkan anak itu, namun saat anak itu lahir, justru Elsa dan Bu Anita lah yang sangat sayang padanya dan bahkan terlihat memanjakannya.
"Dia sudah di susui tadi?" Tanya Bu Anita kemudian dan Robin hanya mengangguk. "Ya sudah, kalau begitu Mama ke kamar dulu. Kalian istirahat saja."
.........
Keesokan harinya, Elsa dan Robin di kejutkan dengan kedatangan orang yang mengantar berbagai macam mainan.
"Kamu yang beli mainan sebanyak ini, Rob?" Tanya Elsa.
"Aku rasa Mama deh, mana mungkin aku memesan mainan sebanyak ini? Baby Arjun bahkan tidak belum bisa duduk," jawab Elsa.
Dan benar saja, tak lama kemudian Bu Anita turun dan ia tampak senang melihat mainan pesanannya yang sudah datang.
"Mama yang pesan ini?" Tanya Elsa
"Iya dong, ini import semua. Khusus untuk si kecil," kata Bu Anita dengan bangganya.
"Ma, si kecil ini masih bayi. Masak Mama sudah belikan mainan sebanyak ini? Tidak akan terpakai, Ma," tukas Elsa.
"Ini mainan tidak ada tanggal expirednya, Sa. Tidak akan basi juga, jadi bisa di simpan sampai baby Arjun besar."
"Tapi, Ma...."
"Tidak ada tapi-tapi! Mama beli pakai uang Mama sendiri kok."
Elsa mendelik mendengar ucapan ibu mertuanya itu, sementara Robin harus bersiap dengan perbedabatan selanjutnya.
Tbc...