
Rion pergi ke hotel tempat Elsa menginap, untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. Dan Rion memang sengaja lebih memilih pulang ke apartmentnya karena ia tidak mau Elsa berfikir yang tidak-tidak tentangnya. Tadinya Rion ingin menghampiri Elsa saat pagi hari, namun hari ini Rion sangat sibuk sehingga baru sempat ke hotel malam ini.
Namun sesampainya di hotel, Rion terkejut saat mendapatkan pemberitahuan dari resepsionis kalau Elsa sudah check out tadi siang.
"Apa dia di jemput seseorang atau pergi sendiri?" tanya Rion.
"Dia di jemput seseorang, Pak," jawab resepsionis itu.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Rion lagi.
"Em, laki-laki tapi sedikit gemulai," jawab resepsionis itu yang membuat Rion langung mengerutkan keningnya.
...
Elsa keluar dari gedung apartement itu dan entah kemana tujuannya sekarang, apalagi dompet dan ponselnya masih ada di apartement Olga. Elsa hanya ingin menghindar dari Jimmy, rasanya ia sangat jijik melihat pria itu, mengingatkan Elsa pada kebodohannya dulu.
Saat Elsa berjalan tanpa arah, Elsa di kejutkan dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di dekatnya bahkan seolah mobil itu ingin menabrak Elsa, membuat jantung Elsa seolah akan melompat dari tempatnya.
"Kamu tidak punya ma..." ucapan Elsa terhenti saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu "Robin?" gumam Elsa dan seketika bayangan bagaiamana Robin melecehkannya berputar kembali dalam benaknya, Elsa terlihat takut dan marah secara bersamaan.
Sementara Robin, ia pun terlihat bernafas lega karena akhirnya menemukan Elsa. Jangan tanya bagaimana Robin menemukan wanita itu, tentu saja Robin melacak ponsel Elsa.
"Pulang!" tegas Robin namun tatapannya begitu sayu dan terdapat lingkaran hitam yang sangat jelas di bawah matanya.
"Tidak mau!" Elsa berkata lebih tegas lagi meskipun suaranya sedikit bergetar.
"Terus kamu mau kemana?" tanya Robin dengan nada dingin "Mau pulang ke Surabaya? Naik apa?" Elsa hanya menelan ludah mendengar pertanyaan Robin karena ia pun masih bingung.
"Dimana barang-barang kamu?" tanya Robin kemudian tanpa memperdulikan tatapan Elsa yang tampak muak padanya.
"Ayo, kita ambil!" Robin menarik lengan Elsa langsung Elsa menghempaskan tangan Robin dengan kasar.
"Kamu belum puas menghancurkan hidupku?" desis Elsa tajam "Masih mau di hancurkan Bagaiamana lagi, hm?" tanyanya dan kini tatapan kemarahan itu perlahan menjadi tatapan yang begitu sendu nan penuh luka
"Aku harus membuktikan apa supaya kamu percaya, aku bukan wanita simpanan ayah kamu, kamu belum puas juga?" tanya nya dengan suara tercekat.
"Sudahlah, jangan bahas ini," ucap Robin dengan suara rendah "Aku cuma mau kamu pulang dulu, kalau kamu memang mau pulang ke Surabaya, aku akan memesankan tiket." lanjutnya yang membuat Elsa tercengang, ia menyipitkan matanya pada Robin, memandang Robin penuh curiga kemudian Elsa berkata.
"Jadi setelah kamu melecehkan aku, kamu akan mengembalikan aku ke orang tuaku, begitu?" desis Elsa tajam tepat di depan wajah Robin, dan pertanyaan yang terlontar dari mulut Elsa itu justru membuat Robin mengerutkan keningnya.
"Jadi maksudnya kamu tidak mau pulang kerumah orang tua kamu?" tanya Robin kemudian dan sekarang Elsa yang mengerutkan keningnya dalam.
"Pertanyaan bodoh apa itu? Tentu saja aku ingin pulang, bocah tengil!" geramnya.
"Ya sudah, ayo pulang ke rumahku dulu, biar aku urus kepulanganmu ke Surabaya," tukas Robin kemudian namun Elsa menggeleng tegas.
"Aku tidak mau pulang ke rumah pria sepertimu, monster!" desisnya tajam dan sepertinya itu mulai memancing emosi Robin.
"Pulang secara baik-baik, atau aku paksa!" gertaknya yang tentu saja membuat nyali Elsa langsung menciut mengingat bagaimana Robin memperlakukannya selama ini.
"Elsa!" Robin dan Elsa menoleh secara bersamaan pada asal suara itu, tak jauh dari mereka, terlihat Jimmy yang sedang berlari menghampiri Elsa.
"Jadi kamu kesini mau menemui dia, huh?" geram Robin marah saat melihat Jimmy.
"Aku, menemui dia?" tanya Elsa sambil menunjuk Jimmy yang sudah sangat dekat dengannya "Najis!" desis Elsa kemudian tanpa di suruh, ia masuk ke dalam mobil Robin dan menutup pintunya dengan kasar. Membuat Robin dan Jimmy sama-sama melongo.