After Darkness

After Darkness
Episode 104



Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, namun Elsa masih tak bisa menutup matanya, rasa kantuk tak sedikitpun menyapanya padahal Elsa ingin tidur nyenyak.


Karena tak bisa tidur di tambah perutnya yang keroncongan, Elsa pun keluar dari kamarnya. Ia ingin memeriksa ada apa saja di dapur, namun saat menuruni tangga, Elsa mengernyit saat ia mencium aroma asap rokok.


Elsa mempercepat langkahnya menuruni tangga dan ia melihat Robin yang duduk di kaki sofa, ia meroko dan itu membuat Elsa terkejut. Elsa mendekati Robin dan ia melihat pria itu yang tampak kacau.


"Robin..." lirih Elsa namun Robin seolah tak mendengar suara Elsa. Elsa pun melangkah lebih dekat, ia menyentuh Robin pundak Robin dan itu membuat Robin terlonjak. "Kenapa kamu merokok disini?" Tanya Elsa dan ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya saat merasakan asap rokok yang terasa begitu menganggu.


"Kembali ke kamar mu, Els!" Perintah Robin setengah membentak yang membuat Elsa terkesiap.


"Aku turun karena aku lapar," cicit Elsa.


"Kalau begitu pergi ambil makanan dan kembali ke kamar mu, Sakarang!" Bentak Robin yang membuat Elsa kesal. Ia pun bergegas ke dapur sambil menghentakan kakinya.


"Dasar, pria stres!" Geramnya.


Sementara Robin, ia menyugar rokoknya, kemudian ia menyugar rambutnya dengan frustasi. Setelah itu ia pergi dari apartemen Elsa dengan perasaan yang tak karuan.


Elsa yang menyadari kepergian Robin hanya mendengus, namun hati kecilnya merasa cemas dengan keadaan Robin apalagi pria itu terlihat sangat kacau.


"Paling juga cuma masalah orang tuanya yang sama-sama depresi itu," gumam Elsa, mencoba menekan rasa cemasnya.


Elsa pun memanaskan sisa pizzanya, menikmatinya sampai kenyang sebelum akhirnya ia kembali tidur.


.........


Keesokan harinya, Robin tak kembali ke apartment Elsa sama sekali. Membuat Elsa semakin merasa cemas, ia ingin menghubungi Robin namun ia selalu mengurungkan niatnya itu. Berfikir mungkin Robin sibuk dengan pekerjaannya dan ia tak ingin menunjukkan kecemasannya.


Di sisi lain, Bu Anita pun menunggu kepulangan sang putra, namun yang di tunggu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, membuat Bu Anita begitu cemas apalagi Robin pergi dalam keadaan marah, ponsel Robin juga tidak aktif.


"Sebaiknya aku hubungi Joanna, mungkin Robin di kantor," gumam Bu Anita sembari mencoba menghubungi Joanna.


Sementara di kantor, Joanna pun di buat kelimpungan mencari Robin yang tak bisa ia hubungi sejak semalam.


"Gini neh, kalau jadi bos masih di bawah umur," gumam Joanna karena ia harus meng-handle pekerjaan Robin lagi dan ia pun harus mengatur ulang jadwal Robin.


Saat Joanna sedang sibuk bekerja, ponselnya berdering yang membuat Joanna berdecak kesal, tanpa melihat siapa yang menelfon, Joanna menjawabnya panggilan itu. "Halo...." ketusnya.


"Joanna, apa Robin ada di kantor?" Pupil mata Joanna melebar saat mendengar suara Bu Anita.


"Eh, iya, Bu Anita? Kenapa?" Tanya Joanna gelagapan.


"Robin ada di kantor apa tidak?" Tanya Bu Anita lagi.


"Tidak ada, Bu. Sejak tadi saya juga berusaha menghubungi pak Robin tapi tidak bisa, semua jadwalnya jadi berantakan," keluh Joanna.


"Baiklah, Jo. Terima kasih informasinya," ujar Bu Anita kemudian ia memutuskan sambungan telfon nya yang membuat Joanna mendengus.


.........


Bu Anita juga teringat saat pertama kali Robin memutuskan keluar dari rumah, karena saat itu Bu Anita dan pak Andrew bertengkar hebat untuk yang ke sekian kalinya, Robin yang marah atas kelakuan ayahnya memilih meninggalkan rumah.


"Kamu tidak berubah rupanya, Rob. Selalu pergi dari rumah saat kamu marah pada kami."


*Tbc...


Kira kira Robin kemana neh? Benar-benar bocah ya, main ilang-ilangan.


Btw, sambil nunggu Robin balik, mampir ke cerita ini, yuk!


Judul: perjalanan mistis si kembar


penulis: Meidina


Eps14 (mengenali bau).


dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.


sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.


bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.


pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.


"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.


sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.


Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.


"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.


"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.


"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.


"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.


tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu*.