
Sepertinya Elsa harus mengadakan syukuran karena pagi ini, Robin benar-benar mengantarnya ke bandara.
Semua barang-barang Elsa sudah di kembalikan dan bahkan, Robin mengirimkan sejumlah uang ke rekening Elsa, yang tentu saja membuat Elsa sangat terkejut.
"Jika orang tuamu bertanya dimana gajimu, katakan saja itu semua gajimu," ucap Robin yang tentu saja membuat Elsa tercengang.
Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan ke Bandara, Robin sendiri yang mengantar Elsa.
"Terimakasih," ucap Elsa kemudian.
Keduanya pun diam selama dalam perjalanan, hingga akhirnya mereka sampai di bandara. Sama seperti saat berangkat, saat pulang pun Elsa tak membawa banyak barang.
"Terima kasih," ucap Elsa sembari membuka seat belt-nya, namun tiba-tiba Robin ikut turun dari mobilnya dan ia membawakan barang-barang Elsa yang membuat Elsa terkejut.
"Kamu mau kemana?" tanya Elsa.
"Mengantarmu," jawab Robin yang kembali membuat Elsa tercengang.
"Aku bisa sendiri," ujar Elsa kemudian namun Robin melangkah masuk ke dalam, Elsa pun segera mengekorinya dan ia tak lagi berkata-kata.
Robin mengantar Elsa hingga check in, dan Robin tak beranjak di tempatnya sampai Elsa tak terlihat lagi.
"Apakah ini akhir dari segalanya?" gumam Robin sembari memegang dadanya yang berdebar.
"Semuanya sudah berakhir, aku dan dia tidak akan punya urusan lagi."
Bu Anita duduk memandangi bunga-bunganya yang mulai tumbuh, fikirannya berkelana, mengingat kembali pernikahannya yang telah berjalan selama puluhan tahun. Dari sekian lama pernikahan itu, kebahagiaannya hanya sedikit, di bandingkan dengan penderitaannya selama ini. Disaat ia tahu suaminya sering bermain perempuan di luar sana. Air mata Bu Anita mennnetes begitu saja, rasanya begitu sesak. Satu-satunya alasannya bertahan adalah cinta, namun sepertinya apa yang Elsa katakan benar, itu bukan cinta, tapi kebodohan.
"Bagaiamana jika Robin benar? Sebaiknya aku bercerai?" gumam Bu Anita.
"Cerai saja, Ma." Bu Anita langsung menoleh dan ia mendapati Robin yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kamu benar-benar mengantar dia ke bandara?" tanya Bu Anita dengan dingin.
"Iya, aku hanya berusaha bertanggung jawab, Ma," jawab Robin lirih.
"Kamu masih percaya sama wanita itu? Apa dia merayu mu?" tanya Bu Anita lagi yang kembali membuat Robin menghela nafas berat.
"Aku mau mengakhiri semuanya, Ma. Dia tidak salah. Dan jika memang Elsa benar-benar selingkuhan Papa, apa Mama mau satu atap sama selingkuhan papa?" tanya Robin dan Bu Anita hanya bisa menundukan kepalanya.
"Sudahlah, Ma. Aku mohon, cerai sama Papa, percuma juga bertahan setelah semua luka yang Papa torehkan," ucap Robin meyakinkan sang Mama.
"Kamu tidak tahu tentang cinta, Rob. Makanya kamu minta Mama berpisah sama orang Mama cintai," lirih Bu Anita.
"Aku mungkin tidak tahu tentang cinta, Ma. Tapi setidaknya aku tahu bagaimana cara melindungi hati dan jiwa kita, kalau kita bertahan di atas cinta yang menyakitkan, bukan hanya hati, jiwa kita pun akan hancur, Ma." Bu Anita kembali meneteskan air matanya mendengar apa yang di katakan Robin, karena semuanya benar, hati dan jiwanya benar-benar hancur.
"Percaya sama aku, kita akan baik-baik saja tanpa Papa, kita akan tetap bahagia tanpa dia, ya?" bujuknya dengan lembut. Robin berlutut di depan sang Mama, menggengam tangannya dengan lembut dan menatap tepat di kedua matanya.
"Pleas!" pinta Robin penuh harap dan Bu Anita pun mengangguk lemah.