
LRobin melayang, otaknya blank, dan tanpa fikir panjang, ia mendorong tubuh Elsa hingga terlentang di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
Robin mengungkung tubuh Elsa, dan kembali ia memanjakan bibir Elsa dengan bibirnya, perlahan bibir Robin turun menyusuri garis rahang Elsa dan terus turun ke leher Elsa, Elsa mendongak, memberikan akses lebih pada Robin untuk mencumbu lehernya. Hati Elsa berbunga-bunga menerima cumbuan Robin yang begitu memabukan, membuatnya melayang, dan Elsa tak ingin saat ini berlalu, saat dimana ia merasakan sesuatu yang membuatnya menggila.
Saat membaca artikel tentang orang hamil, Robin juga menemukan bahwa ternyata orang hamil itu sensitif dalam segala hal dan gairah seksualnya pun meningkat. Robin bisa merasakan betapa Elsa menyukai dan mendamba sentuhannya.
Tangan Robin pun tak tinggal diam, ia mengangkat gaun Elsa dari bawah, menggulungnya hingga ke perut, Robin menggeram saat matanya tertuju pada kain segitiga yang menutup mahkota Elsa. Napas Robin memburu, dadanya naik turun dan desiran darahnya terasa begitu panas.
Di tatapan penuh gairah seperti itu membuat wajah Elsa memerah, ia malu, namun ia juga menginginkan hal ini, ia menyukai tatapan Robin yang seolah ingin menelanjanginya dan memakannya dengan rakus.
Tangan hangat Robin meraba paha dalam Elsa yang seketika membuat Elsa terkesiap dan ia pun melenguh "Ahh...." Robin tersenyum mendengar lenguhan Elsa namun kemudian ia kembali menurunkan gaun Elsa yang membuat kening Elsa mengkerut bahkan alisnya hingga menyatu, Robin mengangkat tubuh Elsa dan menidurkannya dengan benar di ranjang.
Elsa terdiam dan menatap Robin seolah bertanya kenapa berhenti, namun Robin justru menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Elsa yang membuat wajah Elsa langsung cemberut.
"Kenapa berhenti?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Hasrat Elsa sudah di puncak, dan ia benar-benar ingin merasakan pelepasan sekarang.
"Tidak, Elsa. Aku tidak mau kamu marah setelah ini," kata Robin dengan lembut.
"Please....!" Elsa bahkan mendesah saat mengucapkan kalimat permohonan itu, tentu saja pusat tubuh Robin langsung merespon, apalagi tatapan Elsa begitu sendu, benar-benar seperti wanita yang haus belaian. Elsa menyentuh tangan Robin, dan membawanya ke dadanya yang membusung.
"Please...!" Elsa memohon dengan tidak tahu malu, ia sendiri bingung kenapa ini terjadi, namun Elsa benar-benar membutuhkan sentuhan Robin sekarang.
"Oh Tuhan, apa yang kamu lakukan, Els?" geram Robin dan pada akhirnya ia meremas gemas dada Elsa, membuat Elsa kembali mengerang dan bibirnya pun tersenyum senang.
"Ahh...." ia kembalinya mengerang saat pergerakan tangan Robin begitu intens, memijat, bahkan menarik benda yang masih terbungkus dengan sempurna itu.
Pertahanan Robin runtuh, ia menarik selimut Elsa dan melemparnya ke lantai, kemudian ia kembali menaikan gaun Elsa hingga tertumpuk di pinggangnya. Tangan Robin menyelinap masuk di dalam kain segitiga yang begitu mungil itu. "Ahh, oh my god...." pekik Elsa saat merasakan jari Robin masuk ke lembahnya yang hangat dan basah itu.
Robin pun menggeram, apalagi saat merasakan situasi di bawah sana yang sudah begitu licin, mempermudah jarinya untuk bergerak dan menari dengan bebas. Elsa mengerang terus menerus, bibirnya terus terbuka hingga terasa kering. Pinggulnya bergerak liar, terkadang ke kanan ke kiri, terkadang terangkat tinggi, seolah meminta lebih.
Tatapan Robin tak pernah terlepas dari wajah Elsa yang menunjukkan kepuasan atas sentuhannya, membuat Robin semakin semangat dan ia menambah jarinya di dalam sana.
"Agh, oh, Robin. Yeah...." Elsa mulai meracau, bahkan tanpa sadar ia membuka pahanya lebih lebar, membuat jari Robin bergerak lebih leluasa.
Robin menusuk dengan gemas, memutar jarinya di dalam sana, membuat Elsa belingsatan di bawahnya. Ia terus mendessah, melenguh, dan meracau tanpa henti. Robin yang gemas pun langsung membungkam bibir Elsa dengan bibirnya, menghisapnya bahkan menggigit bibir Elsa, membuat Elsa begitu pasrah dan hanya bisa menggeram tertahan.
Saat puncak itu sudah dekat, Elsa mengerang, seluruh ototnya menegang, kepalanya terhempas ke belakang hingga bibirnya terlepas dari Robin. Pinggul Elsa terangkat, dan Robin tahu, wanita di bawahnya ini akan segera sampai, Robin mempercepat gerakan jarinya dan pusat tubuh Elsa semakin berkedut. Hingga jeritan panjang terdengar dari bibir Elsa, memanggil nama Robin dengan begitu seksi.
Tangan meremas seprei sebelum akhirnya tubuhnya mengejang dan terkulai lemas.
Tbc...
***Iklan...
Judul : Adult Man Act Like Children
Penulis : Ramanda
Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.
Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.
"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.
"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.
"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.
"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.
"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.
"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"
"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."
"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya
"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi
"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.
"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."
"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.
Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.
Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.
"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan***."