
"Ah, yeah. Terus, Sayang. Lebih cepat...." Elsa meracau di bawah kungkungan Robin yang sedang memacu dirinya keluar masuk di lembah licin dan hangat miliknya.
Keringat sudah membuat tubuh keduanya mengkilap dan lengket, suara decitan ranjang menambah melodi percintaan mereka yang begitu panas di tengah hari yang juga sangat panas ini. AC yang menyala sama sekali tak berguna untuk keduanya.
"Kau suka, hm? Kau merindukan ini... Ahhh!" Robin menakan lebih dalam, seolah ingin menerobos lembah disana yang sudah sangat banjir dengan cairan kental itu.
"Iya, sayangku. Aku merindukan milikmu yang besar, ah dan ... dan.... Ah, oh." Elsa tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia sibuk mendesah dan menjerit saat Robin bergerak semakin cepat. Tubuhnya sampai terlonjak, kepalanya menekan bantal, kedua tangannya meremas seprei.
"Dan apa, hm?" Tanya Robin yang tiba-tiba memperlambat pergerakannya, Elsa langsung menatap suaminya dengan sendu.
"Sayang, kenapa berhenti? Aku sudah dekat," ucap Elsa dengan suara serak, ia mencoba menggerakkan pinggulnya, memutar dan mendorong namun Robin tak bergeming.
"Jawab dulu, dan apa?" Tanya Robin dengan santainya yang membuat Elsa merasa frustai.
Kedua tangannya memegang bokong Robon dan menekannya, Robin terkekeh, kemudian ia menunduk dan melahap dada Elsa, menyedotnya seperti bayi yang kehauasan.
"Ahh...." Elsa melenguh saat Robin menjetikan lidahnya di ujung benda mungil itu. "Sayang, please!" mohon Elsa yang sudah tak tahan lagi.
"Jawab dulu, dan apa?" Tanya Robin yang mulai bergerak namun sangat pelan, menggelitik, menggoda, membuat Elsa semakin gila.
"Dan panjang, ahh, lebih cepat dong, bocah tengil!" Seru Elsa kesal, bahkan ia memukul bokong Robin dengan keras, Robin menjerit nikmat kemudian terkekeh.
"Tidak sopan, kenapa kamu memukul suamimu sendiri, eh?" Robin mencabut pusakanya itu dari sarangnya yang membuat Elsa melenguh.
"Kenapa di cabut?" Protes Elsa kesal.
"Karena kamu sudah nakal," jawab Robin, kemudian ia turun dari ranjang yang sepreinya sudah tak karuan dan bantal sudah terlempar ke lantai.
"Yah, jangan begitu dong, Sayang. Kita sudah libur selama seminggu gara-gara kamu pergi ke luar kota," rengek Elsa.
Memang benar, selama seminggu ini Robin berada di luar kota, dan baru siang ini ia pulang, sesampainya di rumah, Robin langsung menarik Elsa ke kamarnya dan mengajaknya bercinta karena mereka sudah sangat saling merindukan.
Robin berjalan menuju sofa, kemudian ia duduk di sana, bersender, dan merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa, memamerkan otot-ototnya yang membuat setiap wanita pasti ingin menyentuhnya.
"Kamarilah!" Titah Robin.
Elsa pun merangkak turun dari ranjang, ia berlenggok nakal mendekati Robin. Sementara Robin menikmati pemandangan di depannya ini sambil menjilati bibirnya.
"Ayo, Sayang. Jemput kenikmatan yang kau inginkan," ucap Robin dengan suara yang serak, tatapannya gelap, sarat akan gairah, napasnya memburu, dadanya naik turun.
Namun tatapan Elsa fokus pada senjata sang suami yang mengkilap, berdiri tegak, kokoh, sangat menantang.
Dengan perlahan, Elsa menaiki suaminya, satu tangannya memegang pundak sang suami, sementara tangan yang lain memegang pusaka itu dan Elsa mengarahkan pusaka itu agar kembali masuk ke sarangnya yang sudah lapar.
"Aaggghhh...."
"Ohhh....."
Elsa dan Robin mengerang bersamaan saat kedua benda itu kembali bertemu.
Satu tangan Robin melingkar di punggung Elsa, sementara tangannya yang lain memainkan benda yang menggantung di dada Elsa, Robin meremasnya dengan gemas. Kemudian ia melahap buah yang satunya, dan memainkan ujungnya yang menggoda itu.
Elsa bergerak naik turun, kepalanya mendongak, bibirnya terus mengeluarkan *******, sementara kedua tangannya kini menjambak rambut sang suami yang memberinya kenikmatan di segala sisi.
Keduanya terus mendesah bersama, dan jeritan keduanya semakin lantang seiring semakin cepatnya pergerakan Elsa yang naik turun, Robin pun juga membantu sang istri dari bawah.
"Ah, yeah. Good, baby. Lebih cepat," racau Robin.
"Aku sudah dekat, oh," desah Elsa.
"Aku juga, bersama, Sayang...."
Keduanya sudah hampir gila karena kenikmatan yang menggulung jiwa mereka, jeritan, lenguhan, dan racuan tak bisa berhenti dari bibir mereka. Dan saat keduanya akan mendapatkan puncak itu, tiba-tiba...
"MAMA...."
"PAPA..."
Dorr... Dorr... Dorrr
Terdengar suara cempreng anak mereka dengan pintu yang di gedor-gedor. Robin dan Elsa mengerang frustasi.
"MAMA...! :
"PAPA....!"
"BUKA PINTUNYA!"
"ALJUN MAU MINUM CUCU!"
"Aaghhhh, anak itu!" Geram Robin sembari membanting tubun Elsa hingga terlentang di atas sofa, kini Robin mengambil alih permainan.
Elsa terkekeh, ia mengenal suaminya ini, dan Arjun bukanlah masalah yang bisa menghentikan sang suami menjemput kenikmatannya.
"Ahh...." Elsa melenguh saat Robin bergerak sangat cepat, tidak sabar mencapai puncak.
"PAPA....!" kembali terdengar teriakan anak berusia 4 tahun itu.
"BUKA PINTUNYA!"
"ALJUN MAU MINUM CUCU MAMA!"
"Susu Mama lagi di pakai Papa, Arjun!" Teriak Robin dengan kencang yang membuat Elsa tertawa.
"Yah, terus bagaimana? Aljun haus, Papa. Mau minum." anak itu kembali berteriak.
"Minta sama Oma!" Teriak Robin dan bersamaan dengan itu, ia mengerang lantang karena akhirnya puncak itu datang, dan Robin menyemburkan cairan cintanya dengan sangat deras dan banyak.
"Ahh, panas sekali," lirih Elsa, keduanya saling menatap dan melempar senyum kepuasan.
Sementara di luar, Arjun justru tampak sedih karena ia tidak di berikan susu. Bibirnya mencebik lucu, pipinya sudah mengembung dan saat itu sang Oma pun datang.
"Kan sudah Oma bilang, Sayang? Minta susunya sama Oma saja," ucap Bu Anita yang sudah tahu anak dan menantunya pasti sibuk di dalam sana.
"Kenapa Mama dan Papa mengunci pintu, Oma? Apakah meleka tidak lapal?" Tanya Arjun dengan cadelnya.
"Mereka sedang makan, Sayang," kata Bu Anita kemudian ia menggendong cucunya itu dan membawanya ke dapur untuk di buatkan susu.