After Darkness

After Darkness
Episode 63



Robin membungkam bibir Elsa dengan bibirnya, ia mencium, menghisap bahkan menggigitnya, Elsa hanya bisa menangis karena ia tak bisa lagi menghindar.


Robin melepaskan ciumannya dan ia menghapus air mata Elsa dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih mengunci tangan Elsa.


"Aku mohon jangan lakukan ini, Rob!" pinta Elsa dengan begitu memelas, suaranya tercekat dan ia masih tak berani membuka matanya. Elsa terlalu takut untuk menatap mata Robin yang sudah pasti akan menghancurkan hidupnya.


Robin menatap wajah Elsa dengan begitu sayu, kemudian pandangannya turun pada bibir Elsa yang bergetar akibat isak tangis yang coba di tahan, bibir Elsa basah dan bengkak karena ciuman Robin yang kasar dan entah kenapa Robin justru menyukai hal itu, ia mengusap bibir Elsa dengan jempolnya kemudian.


"Kamu berani mengambil sampel darah Papa?" tanya Robin dengan begitu dingin dan seketika Elsa langsung membuka matanya, menatap Robin dengan terkejut "Aku tahu apa saja yang kamu lakukan di rumah ini, Els." lanjutnya.


"Aku minta maaf," ujar Elsa kemudian dengan suara yang bergetar "Aku janji tidak akan melakukan apa yang membuat mu marah, tapi aku mohon lepaskan aku," ucap Elsa penuh harap namun yang Robin lakukan selanjutnya justru merobek baju Elsa membuat Elsa kembali menjerit histeris .


"Aku benci setiap kali kamu minta di lepaskan," geram Robin dan ia pun melepas kain terkahir yang menutupi dada Elsa dengan paksa, membuat tangis Elsa semakin pecah.


"Aku mohon, Robin!" teriak Elsa di tengah tangisnya sembari mencoba melepaskan diri dari Robin namun kekuatannya tidak ada apa-apanya di bandingkan kekuatan Robin. "Lepaskan aku atau akau akan berteriak!" gertak Elsa kemudian namun Robin justru menanggapinya dengan senyum miring.


"Kamu masih mau melawan, Els," ucap Robin dengan suara rendah kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Elsa yang hampir polos, Robin mengecup rahang Elsa dan Elsa tak bisa menghindar. Kecupan Robin kini beralih ke telinga Elsa, ia bahkan menjilat daun telinga Elsa membuat tubuh Elsa menggelinjang secara refleks, Robin tersenyum miring karena tubuh Elsa merespon sentuhannya Robin pun berbisik sensual di telinga wanita yang ia benci namun juga menjadi candu baginya itu.


Pergerakan Robin begitu cepat, intens, menggebu dan ia tak memberikan celah sedikitpun pada Elsa untuk melawan. Robin bahkan menggigit bibir Elsa dengan kasar hingga membuat bibir Elsa terluka dan mengeluarkan darah segar, namun Robin tak perduli dengan hal itu. Kini ciumannya turun ke leher jenjang Elsa, ia menghisapnya dengan kuat hingga meninggalkan jejak merah disana.


"Robin, ku mohon!" teriak Elsa lagi namun Robin kembali membungkam mulut Elsa menggunakan tangannya sementara tangan yang lain ia gunakan untuk melepas handuk yang ia kenakan. Air mata Elsa semakin deras, kepalanya menggeleng, tatapanya begitu memelas namun Robin seolah tak perduli.


Menggunakan kakinya, Robin memisahkan kaki Elsa kemudian ia menyentak pusat dirinya yang sejak tadi sudah tegang, sejak saat Robin mencium sudut mata Elsa.


"EMmmph..." jerit luka Elsa teredam tangan Robin yang masih setia membungkam mulutnya, air mata kini mengalir lebih deras lagi. Hati Elsa sakit, teriris dan sangat hancur. Harga dirinya telah terkoyak di atas ranjang pria yang baru beranjak dewasa ini. Dalam hati, Elsa mengutuk Robin dengan segala kutukan terburuk di dunia dan ia bersumpah tidak akan memaafkan Robin.


"Agh," sementara Robin justru menggeram saat pusat dirinya memasuki inti tubuh Elsa yang begitu lembut dan hangat. Untuk pertama kalinya, Robin merasakan sensasi yang membuat tubuhnya seperti terbakar, namun juga melayang. Ia merasakan sensasi seperti ada gulungan ombak di perutnya, dan juga sebuah kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Robin bahkan tak mampu melukiskannya dengan kata-kata betapa indahnya rasa yang ia rasakan saat ini.


Namun, di atas kenikmatan yang ia rasakan, ada hati yang hancur, marah, remuk, sakit dan tidak sedikitpun merasakan kenikmatan


"Kamu wanita pertamaku, Els!" bisik Robin di telinga Elsa sembari menggerakkan bagian bawah tubuhnya dengan begitu lembut.