
Elsa mengadu pada Robin kalau Elnaz tidak bisa membawa mobil dengan benar, bahkan beberapa kali Elnaz hampir mena break pengendara di depannya. Karena itulah, Elsa meminta Robin mengantarnya pulang sekalian bertemu dengan orang tua Elsa dan membicarakan masalah mereka dengan kepala yang dingin dan hati yang tenang.
Dan di sinilah Robin sekarang, menghadap orang tua Elsa dengan berani. Bahkan, sekali lagi ia mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Elsa.
Dan kali ini, di saksikan oleh seluruh keluarga Elsa, termasuk Elnaz dan Arfan.
"Aku serahkan semua keputusannya pada Elsa, Rob. Hubungan kalian sudah terlalu jauh, bahkan sudah ada anak sekarang. Jadi aku tekankan pada kalian agar kalian tidak hanya memikirkan diri kalian sendiri, anak kalian harus kalian utamakan!"
"Iya, Tante. Karena itulah aku benar-benar ingin menikahi Elsa, demi kebahagiaan anak kami juga." Robin menjawab dengan tegas.
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu, Rob?" Tanya Bu Isna kemudian.
"Mereka tidak akan menolak kehadiran Elsa, Tante. Karen mereka tahu kebahagiaanku hanya Elsa dan putra kami," jawab Robin yang tentu saja membuat Elsa tersentuh.
"Baiklah, jadi apa kalian benar-benar akan menikah minggu depan? Bukankah itu terlalu cepat? Ada banyak yang harus di siapkan dalam pernikahan," kata pak Malik.
"Aku akan mengurus semuanya, Tante. Bahkan, minggu depan masih terlalu lama bagiku tapi mau bagaimana lagi? Elsa ingin cantik di pernikahan kami," kata Robin sambil melirik Elsa yang saat ini tersipu malu, ia seperti anak gadis yang baru saja di lamar dengan romantis. Ya meskipun dia memang di lamar saat ini, namun itu akan sangat berbeda karena sudah bayi di antara mereka.
"Baiklah, semoga semuanya lancar. Apapun keputusan kalian jika kalian merasa itu yang terbaik, sebagai orang tua kami hanya bisa mendo'akan."
"Terima kasih, Papa, Mama," ucap Elsa kemudian ia memeluk mereka penuh haru.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari luar. "Biar aku yang cek siapa yang datang," kata Arfan.
Ia segera membuka pintu dan tak lama kemudian Arfan kembali bersama Bu Anita yang datang dengan membawa tas besar.
Bu Anita menyapa orang tua Elsa dengan ramah, sementara Elsa justru menatap tajam calon ibu mertuanya itu.
"Apa itu, Ma?" Tanya Robin.
"Oh, okey. Terima kasih, Ma," kata Robin sementara Elsa tak mengucapkan apapun.
Pak Malik kembali membicarakan rencana pernikahan Elsa dan Robin pada Bu Anita, dan Bu Anita menyambut kabar itu dengan senang hati. Robin juga memberi tahu nama cucu mamanya itu dan tampaknya sang mama menyukainya.
"Nama yang benar-benar bagus, makanya juga sangat luar biasa," ucap Bu Anita antusias sambil tersenyum.
"Elsa yang memberinya nama, Ma," kata Robin dan seketika senyum Bu Anita hilang dan sekarang Elsa lah yang tersenyum.
"Bagus 'kan?" Tanya Elsa dengan senyum miring.
"Hem," jawab Bu Anita. "Oh ya, ini sudah malam. Aku rasa aku harus pulang, ayo Rob!" Robin mengangguk, ia memeluk Elsa.
"Besok aku akan kesini lagi, jaga baby Arjun ya," tukasnya.
"Iya," jawab Elsa sambil tersenyum.
...
Jam sudah menunjukkan 10 malam, Elsa masih menyusui bayinya yang tadi terbangun, Elsa mengusap kepala anaknya itu dengan lembut.
"Mungkin mama bisa gila kalau berpisah sama kamu, Sayang." Elsa berbisik lirih.
Ponselnya berdering, Elsa segera menjawabnya dan ternyata itu Robin yang video call.
"Aku kangen sama si kecil," kata Robin. Elsa terkekeh, ia meletakkan ponselnya di meja sebelum akhirnya kembali menyusui anaknya.
Robin tampak tersenyum dan ia memperhatikan calon istri serta anaknya itu tanpa bersuara bahkan sampai mereka tidur.