After Darkness

After Darkness
Episode 93



"Kamu benar-benar mau bekerja ke Jakarta lagi, Sa?" Tanya Pak Malik yang saat ini mendatangi Elsa ke kamarnya. Pak Malik melirik beberapa roti tawar di atas meja, yang membuatnya mengernyit bingung. Apalagi di tempat sampah ada dua bungkus roti tawar.


"Iya, Pa. Kesempatan bagus, kan? Lagi pula gajinya juga lumayan," jawab Elsa sembari merapikan isi lemarinya.


"Hem, iya sih. Tapi apa kamu akan nyaman?" Tanya Pak Malik kemudian.


"Pasti kok, Pa. Doakan saja," lirih Elsa dengan wajah masam.


"Papa selalu doain kamu, Nak," jawab Pak Malik. "Oh ya, Sa. Kenapa kamu membeli banyak roti tawar? Nanti keburu expired lho." lanjutnya.


"Aku malas makan nasi, Pa. Bawaannya mual, jadi aku makan roti saja," jawab Elsa yang membuat pak Malik semakin merasa aneh.


"Kok aneh," gumamnya namun ia mencoba mengabaikan hal itu. "Jadi kapan kamu akan berangkat?" Tanya Pak Malik kemudian.


"Minggu depan, Pa. Kalau aku suda baikan," jawabnya.


"Nanti kamu tinggal dimana?" Tanya Pak Malik lagi.


"Aku akan mencari rumah yang dekat dengan kantor nanti,"


"Papa harap kamu tidak tinggal bersama mantan manager mu itu, Sa! Dan Papa mau, kamu jangan bertemu dengan pria itu, siapa namanya? Jimmy?"


"Tidak akan, Pa. Aku pun sangat membencinya,"


"Baguslah, sebenarnya kami tidak masalah jika kamu ingin berteman dengan siapa saja, asal kamu bisa menjaga diri, Sa. Kalau kamu salah pergaulan, kami yang malu."


"Aku janji akan menjaga diri, Pa!"


Wajah Elsa tentu begitu lesu, tatapan matanya begitu sayu, rasanya pusaran kegelapan dalam hidupnya ini tidak akan pernah bisa ia lewati.


.........


"Mama sudah bisa berdiri sekarang," ucap Robin dengan begitu antusias saat melihat Mamanya yang sudah bisa berdiri sendiri walaupun kedua kakinya masih tampak gemetar.


Sore ini, Robin menemani mamanya yang menjalani terapi berjalan di halaman rumahnya.


"Pasti bisa, Ma. Asal Mama tetap melatih kaki Mama setiap hari, nanti kalau Mama sudah bisa jalan, kita bisa pergi liburan seperti waktu aku kecil dulu. Aku rindu menghabiskan waktu bersama Mama," tutur Robin untuk menyemangati sang Mama.


"Oh ya, kata Joanna, kamu ke Surabaya kemarin, ada pekerjaan apa disana?" Tanya bu Anita yang seketika membuat Robin terdiam.


"Kok malah diam?"


"Bukan apa-apa, Ma. Cuma ada sedikit urusan disana, Mama tenang aja," jawab Robin kemudian dan mamanya pun mengangguk percaya.


"Oh ya, papa kamu..." ucapan bu Anita terhenti saat ponsel Robin berdering.


"Sebentar ya, Ma," ucap Robin kemudian ia menjauhi Mamanya karena yang menelfonnya itu Elsa.


"Ada apa?" tanya Robin setengah berbisik.


"Aku akan berangkat minggu depan, aku mau kamu menyiapkan tempat yang nyaman buat aku!" Tegas Elsa dari seberang telfon.


"Aku akan mengurus semuanya, kamu hanya perlu datang kesini, dan menjaga calon anakku dengan baik, aku akan menjamin kehidupan kamu!"


"Aku tidak mau ada yang tahu kehamilanku, termasuk mama kamu!"


"Aku tahu,"


"Terus, kenapa kamu menjadikan ku sekretaris pribadi kamu? kamu tidak membicarakan itu sebelumnya?"


"Itu hanya formalitas, aku sudah punya sekretaris pribadi."


"Jadi kamu membuat surat kontrak palsu?" Pekik Elsa.


"Itu asli, hanya saja aku punya hak untuk mempekerjakan kamu atau tidak, aku bossnya!" Balas Robin sengit.


"Dasar bodoh, aneh sekali!" geram Elsa sebelum akhirnya memutuskan sambungan Teflon, membaut Robin hanya bisa geleng-geleng kepala.