
Pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan dan perjalanan cinta, melainkan baru awal.
Awal dari perjalanan yang begitu panjang, melelahkan, dengan berbagai macam kerikil dan bebatuan yang pasti akan mencoba menghalangi langkah.
Akan ada perbedaan rasa, pemikiran, yang sudah pasti akan menimbulkan kecemasan, pertengkaran, dan berbagai macam hal yang akan memancing pada perpisahan, dan ada kalanya, itu tak bisa di selamatkan atas nama cinta tapi bisa di selamatkan oleh kedewasaan.
Dewasa dalam menyikapi perbedaan, rasa, maupun kekurangan pada pasangan. Karena bersatunya dua insan dalam pernikahan itu bukan karena kesempurnaan yang di miliki melainkan untuk menyempurnakan diri dari kekurangan yang di miliki.
Malam ini, setelah menunggu satu minggu yang terasa seperti satu tahun bagi Robin, akhirnya apa yang ia inginkan terjadi.
Sebuah pernikahan, terikatnya ia dan sang pujaan dengan janji suci yang di saksikan oleh Tuhan, malaikat-Nya, dan juga orang-orang terdekat mereka.
Acara pernikahan mereka berlangsung dengan lancar dan tentu meriah, memang tak mewah dan tidak banyak tamu yang di undang namun Robin dan Elsa memastikan acara itu berkesan untuk mereka dan keluarga mereka.
Dan saat ini, Elsa dan Robin sedang menerima ucapan selamat serta do'a dari para tamu. Sementara Baby Arjun sedang bersama neneknya.
"Kayaknya Mama akan sangat memanjakan baby Arjun deh," ucap Robin setengah berbisik pada Elsa. Robin memperhatikan bagaimana Mamanya memperlakukan baby Arjun selama ini, dia begitu posesif pada cucu pertamanya itu.
"Aku tidak mau anak kita di manja oleh siapapun, Rob. Anak manja itu tidak baik," kata Elsa yang teringat pada dirinya sendiri.
"Mungkin mama manjain dia karena dia masih bayi, Els. Tidak apa-apa," tukas Robin sambil tersenyum.
Dan tak lama kemudian Rion yang juga menghadiri pernikahan mereka menghampiri mereka untuk memberikan ucapan selamat.
Rion sedikit merasa patah hati karena wanita yang ia incar kini sudah menikah dan bahkan sudah memiliki anak, apalagi Rion benar-benar mengagumi sosok Elsa yang menurutnya akan sangat sulit di temukan wanita seperti itu.
"Kalau kamu memanggil ku pak berarti kamu harus memanggil Elsa Bu, Rion!" Tegas Robin, karena ia merasa cemburu pada Rion yang ia yakini memiliki ketertarikan pada Elsa.
"Baik, Pak Robin," jawab Rion sambil menahan senyum.
Pak Andrew yang sejak tadi duduk di samping mantan istrinya itu terus menatap cucu pertamanya dan itu mengingatkan ia pada saat Robin di lahirkan.
Dulu dia sangat bahagia, merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Namun semuanya hancur saat ia mulai bermain api dengan istrinya apalagi saat sang istri sakit, dan ia sangat menyesali hal itu sekarang.
Pak Andrew mencoba memegang tangan Bu Anita namun Bu Anita langsung menghindarinya, membuat hati pak Andrew seperti di cubit.
"Aku ... aku minta maaf," lirih pak Andrew. "Dan jika boleh jujur, aku ingin sekali kita menjadi keluarga seperti dulu, sempurna, dan bahagia." lanjutnya penuh harap. Bu Anita tersenyum tipis, dan matanya lurus menatap Elsa yang saat ini sedang berbicara dengan Elnaz dan mama mereka. Elsa tampak sangat bahagia, senyum tak pernah hilang dari bibirnya, matanya berbinar. Dan Bu Anita teringat, Elsa lah yang membuat ia sadar akan kebodohannya selama ini.
Elsa lah yang membuat ia sadar, bahwa menderita di atas nama cinta bukanlah cinta tapi kebodohan. Sambil tersenyum, Bu Anita kini menatap mantan suaminya dan berkata.
"Aku memang membuka pintu maaf untukmu tapi itu tidak berarti aku membuka pintu jalan kembali untukmu, Mas. Yang hilang tidak bisa kembali, yang kamu buang tidak bisa kau pungut lagi. Apalagi jika itu makhluk yang sebelumnya punya cinta dan harga diri, seperti seorang istri dan anak."
Pak Andrew terperangah mendengar apa yang di katakan Bu Anita, kemudian ia tersenyum masam dan menerima bahwa semua itu benar.
Bu Anita berdiri dan ia menghampiri Elsa. "Ada apa? Apa dia menangis?" tanya Elsa
"Nggak, mama cuma mau ke toilet," kata Bu Anita dengan lembut kemudian ia memberikan baby Arjun pada Elsa, dan yang membuat Elsa merasa senang, ucapan mama yang terucap dari bibir mama mertuanya itu.
"Baik, Ma," ucap Elsa sambil mengedipkan matanya pada ibu mertuanya dan sang ibu mertua justru memutar bola matanya.