
Baru saja Robin hendak menghubungi mamanya, terdengar suara bel pintu dari luar. Robin mengernyit, berfikir siapa yang datang di jam segini.
Robin membuka pintu dan ia langsung di sambut dengan kurir pizza yang tersenyum. "Selamat sore, Pak Robin. Ini pesanan pizza Anda," ucap kurir itu sembari menyerahkan sekotak pizza.
"Aku?" Tanya Robin heran, karena ia tidak ingat memesan pizza.
"Benar, Pak," jawab kurir.
"Akhirnya, datang juga..." Robin langsung menoleh saat mendengar suara Elsa itu. "Lama bangat, Pak," keluh Elsa kemudian ia mengambil kotak pizza itu dan membawanya masuk, tanpa memperdulikan kebingungan Robin.
"Belum bayar, Pak," ucap kurir itu karena Robin yang diam saja.
"Okey, tunggu sebentar..." ujar Robin, ia segera mengambil uang di dompetnya, sementara Elsa kini justru menikmati pizzanya sendirian.
Setelah membayar pizzanya, Robin duduk di samping Elsa, ia menatap Elsa lekat-lekat. "Kenapa liatin aku begitu?" Tanya Elsa yang bisa merasakan tatapan Robin.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi aku fikir siapa yang datang, dan aku tidak memesan pizza tapi kurir itu meminta uang padaku karena kamu memesan pizza atas namaku," tukas Robin.
"Ya itu memang tugasmu, kewajibanmu memenuhi semua kebutuhanku, kan?" Tanya Elsa yang membuat Robin terkekeh
"Aku fikir kamu marah sama aku," ucap Robin sembari mengambil satu potong pizza dan memakannya.
"Marah kenapa?" Tanya Elsa.
"Karena tadi aku mengajakmu menikah," jawab Robin
"Aku masih marah karena kamu menghamiliku, dan mungkin kemarahan itu akan abadi." Robin hanya tersenyum masam mandengar ucapan Elsa, karena ia tahu, yang paling di rugikan dalam hal ini adalah Elsa.
"Mama..." gumam Robin saat ia melihat nama sang Mama tertera di layar ponselnya, ia pun segera menjauh dari Elsa untuk menjawab panggilan mamanya. "Halo, Ma. Ada apa?"
"Apa kamu tinggal di apartement sekarang?" Tanya bu Anita yang membuat Robin terkejut. "Mama sudah tahu, kamu punya apartement, kan? Kenapa tidak kasih tahu Mama? Dan Joanna juga bilang, kamu membuat surat kontrak kerja dengan Elsa, kerja apa, Rob?" terdengar jelas kemarahan yang tersimpan dalam suara bu Anita, dan itu membuat Robin itu bingung harus menjawab apa.
"Rob, kenapa kamu diam saja? Apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama?"
"Ma, aku ... sebenarnya...."
"Terus, tadi papa kamu datang, dia bilang kamu mau menikah sama Elsa, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu, Rob? Ada apa sebenarnya?" Robin terlihat semakin bingung dengan semua pertanyaan sang ibu yang tentu tak bisa ia jawab.
"Apa jangan ... jangan, kamu memang ada hubungan dengan wanita murahan itu?"
"Ma, Elsa tidak seperti yang Mama kira!" Seru Robin dengan suara lantang hingga terdengar oleh Elsa dan menarik perhatiannya.
Elsa pun diam-diam mendekati Robin dan menguping pembicaraan Robin. "Aku akan menjelaskan semuanya, Ma. Tapi Mama juga harus tahu, Elsa tidak seperti yang kita kira, dia bukan simpanan siapapun!" Tegas Robin, yang entah mengapa tak terima saat Bu Anita merendahkan Elsa.
Elsa yang mendengar apa yang di katakan Robin terenyuh, ia pun tak menyangka Robin akan membelanya seperti ini.
"Kamu berbicara lantang pada Mama demi wanita itu, Rob?" terdengar suara lirih bu Anita dari seberang telfon, dan hal itu membuat Robin menghela napas panjang "Mama kecewa sama kamu, Robin!"
"Ma, bukan begitu..."
"Halo, Ma..."
"Mama..."