After Darkness

After Darkness
Episode 44



"Akan lebih baik jika Nyonya makan di sini, bisa menghirup udara segar, AC alamai, dan yang pasti tidak sumpek karena terus-terusan ada dalam ruangan." Elsa berkata sembari menyusun meletakkan makanan di atas meja yang Elsa siapkan di halaman samping rumah.


Sementara Bu Anita, ia menurut saja saat Elsa mengatakan seharusnya ia tidak hanya berdiam diri di kamar karena Bu Anita pun merasakan bagaimana sumpeknya berada di kamar setiap hari.


"Nah, karena Den Robin menugaskan saya untuk menjadi perawat disini, saya akan merawat kalian dengan baik," kata Elsa lag dengan senyum miringnya.


"Tenang saja, makanannya menu yang sehat dan aman dari racun, karena stok racun dirumah ini sudah habis," goda Elsa yang membuat Bu Anita mendelik. Ia pun menikmati hidangan yang di siapkan Elsa, dan Bu Anita langsung mengernyit saat lidahnya merasakan rasa yang berbeda dari masakan seperti biasanya.


"Ini siapa yang masak?" tanya Bu Anita.


"Aku," jawab Elsa sambil tersenyum "Jangan takut, makan saja, Nyonya. Lagi pula, terlepas dari apa tuduhan kalian terhadap ku, sekarang aku adalah pelayan kalian dan memasak juga kewajiban ku," jawab Elsa santai sementara Bu Anita kini melanjutkan makanannya tanpa mau menanggapi ucapan Elsa.


Elsa berdiri di samping Bu Anita bagaimana layaknya pelayan yang menemani ratu nya, tentu Elsa tak melakukan ini tanpa tujuan.


Sementara di dalam, Bi Sum mengantarkan makanan ke kamar bos besarnya. Dan seperti inilah ia setiap hari, Bi Sum akan merawat Pak Andrew seperti merawat bayi, tentu dengan di bantu oleh kedua dayangnya.


"Oh ya? apa tadi pagi Den Robin memberi Pak Andrew obat?" tanya Bi Sum kemudian dan pertanyaan itu pun atas dasar perintah Elsa. Pak Andrew hanya bisa menggeleng lemah. Kemudian Bi Sum mencari obat Pak Andrew di laci namun ia tak menemukannya.


"Pasti sudah di pindahkan," gumam Bi Sum


.........


Sesampainya Robin dirumah, ia langsung berteriak - teriak memanggil nama Elsa seperti seorang ayah yang memanggil nama putrinya setelah pulang kerja


"Dimana wanita satu itu, Bi?" tanya Robin.


"Di halaman samping, Den. Menemani Nyonya makan siang," jawab Bi Sum yang membuat Robin mengernyit.


"Makan siang di halaman samping bagaimana? Memangnya di dalam rumah tidak ada meja makan?"


"Ya bukan begitu, Den Robin. Cuma kata Elsa, akan lebih baik jika Nyonya sering berada di luar ruangan, biar bisa menghirup udara segar, tidak sumpek juga," jawab Bi Sum panjang lebar dan Robin hanya mangut-mangut.


"Ya sudah, nanti berikan ini pada Elsa. Bilang hutangku sudah lunas," ujar Robin sembari memberikan paper bag kecil yang berisi ponsel pada Bi Sum. Bi Sum pun menerimanya sambil tersenyum manis.


Robin hendak kembali ke kantornya namun ia penasaran dengan apa yang di lakukan Elsa di halaman samping rumahnya, diam-diam Robin pun mengintip Elsa dan Mamanya. Elsa menguping pembicaraan Elsa yang membuat Robin sedikit kesal namun ia juga membenarkan apa yang di katakan Elsa.


"Kalau Nyonya sakit, stres, atau sedih, jangan di pendam sendiri, jangan sok kuat, jangan sok sabar, jangan sok ikhlas, itu bisa jadi bom waktu lho. Kalau marah sama suami, ya lampiasin saja. Katakan marahnya dimana, kenapa, dan maunya bagaimana, jadi wanita tuh jangan mau cuma jadi teman ranjang."


"Kamu berbicara seperti itu seolah kamu wanita benar saja, kamu tahu apa arti pernikahan dan cinta," tukas Bu Anita.


"Belum mengalami bukan berarti tidak tahu," jawab Elsa.


"Aku tahu cinta itu perasaan yang sulit di kendalikan, tapi jangan bodoh juga. Otak itu harus di pakai untuk menjaga hati,"