After Darkness

After Darkness
Episode 167



Pertama, dia datang dan langsung mencium Robin. Kedua, ia menyusui anak itu tepat di depan mata Robin.


"Apa yang kamu lakukan, Els?" tanya Robin akhirnya.


"Manyusui anakku, dia pasti lapar!"


Elsa menjawab dengan penuh haru. Akhirnya, ia bisa menyusui putranya, Elsa bisa menyentuhnya dan menciumnya. Elsa mengecup ubun-ubun putranya, ada perasaan yang tak biasa saat bayinya itu menyedot air susunya, secara fisik, dia merasa geli. Namun ada perasaan bahagia dan terharu di hatinya, apalagi saat Elsa melihat raut wajah anaknya yang bak malaikat mungil itu.


Robin memperhatikan Elsa dengan seksama, dan jangan tanya bagaimana perasaannya sekarang, tentu saja sangat bahagia, seolah ia mendapatkan hadiah terindah dari seluruh dunia dan memang inilah yang ia harapkan, bahkan Robin harus mempercepat pernikahannya dengan Mayra demi mendapatkan Elsa kembali.


Robin tersenyum, namun kemudian ia teringat dengan semua keegoisan Elsa selama ini. Raut wajah Robin berubah dingin, ia mendekati Elsa dan berkata. "Dia anakku dan Mayra!"


Elsa menoleh, melirik tajam pria itu. "Aku yang mengandung dan melahirkannya jadi dia anakku!" Tegasnya, Robin tersenyum miring, mengejek Elsa.


"Kamu lupa? Kamu sendiri yang bilang tidak akan merawat anak ini? Huh?" Elsa mulai geram, emosinya terpancing namun saat ia menatap wajah putranya yang sedang menyusun, emosinya perlahan reda.


"Aku tahu, dan aku menyesali keputusan bodohku itu. Sekarang aku mau anakku kembali!"


"Kenapa kamu begitu egois?" Tanya Robin dengan suara lantang dan itu membuat sang buah hati tampak terkejut.


"Jangan berteriak di depan bayi kita, bodoh! Dia terkejut!" Elsa mendesis tajam dan Robin tentu melongo.


"Jangan berkata kasar di depan anakku, Els!" Robin menggeram tertahan.


"Maaf, Sayang..." Elsa berkata pada anaknya dengan lembut, sementara Robin hanya menaikan sebelah alisnya. "Mama kelepasan, Mama janji tidak akan berkata kasar lagi di depan kamu, hm?" Ia berbicara seolah anaknya itu mengerti.


Robin pun hanya diam, ia mengintip anaknya yang menyusu dengan semangat itu, bahkan seolah anaknya kelaparan padahal tadi sudah minum susu.


"Kamu pasti lapar ya, Sayang. Minum yang banyak, ya. Biar kamu sehat, tumbuh kuat. Maafin Papa karena Papa sudah jauhin kamu dari Mama, dia cuma lagi ngambek aja." Robin langsung menaikkan kedua alisnya mendengar apa yang di katakan Elsa pada putranya itu dan sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum miring.


"Tapi setelah ini kamu akan nyusu rutin ke Mama kok, Papa juga tidak akan merajuk lagi, Sayang."


"Aku tidak ngambek, Els. Kan memang mau kamu anak ini di rawat sama aku dan Mayra, kamu juga mau menikah sama Mayra, kan?" tukas Robin kemudian


"Aku berubah fikiran, ehem ehem" jawab Elsa kemudian ia berdeham karena ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya namun ia mencoba tegar. "Aku ... aku mau kamu nikah sama aku, bukan sama wanita lain!"


Tentu Robin langsung melongo mendengar pernyataan Elsa dan sesaat kemudian ia tertawa hambar.


"Kenapa? Bukannya kamu tidak akan bisa jadi pasangan dan ibu yang baik, huh?" Tanya Robin berusaha memelankan suaranya karena anaknya sepertinya akan tidur, matanya sudah mulai terpejam.


"Aku akan belajar menjadi pasangan dan ibu yang baik," jawab Elsa lirih.


"Mana mungkin? Kamu itu wanita itu yang egois, arogan, keras kepala!" Seru Robin yang dengan sengaja memancing emosi Elsa. Elsa menarik napas, emosinya kembali terpancing namun ia mencoba mengendalikannya.


"Aku itu bukan iblis yang akan selamanya berperangai buruk, aku manusia dan aku bisa berubah, aku mau berubah dan aku janji akan berubah!" Elsa berkata penuh penekanan, bahkan ia berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Tidak puas sampai disana, Robin kembali memancing emosi Elsa dengan hal lain. "Tapi mungkin Mayra lebih cocok jadi ibu dari anakku, dia wanita yang lembut, dan dia orang pertama yang menggendong bayiku!" Darah Elsa mendidih mendengar hal itu. Ia menatap anaknya yang kini sudah memejamkan mata dan melepaskan diri dari sumber kehidupannya itu.


Dengan pelan, Elsa menarik diri kemudian menutup kembali aset berharga yang membuat Robin menelan ludah itu. Elsa juga memakai bajunya dengan sempurna kemudian ia menatap Robin dengan tajam.


"Wanita lain bisa bersikap lembut, tapi tidak akan bisa setulus ibu kandung!" desis Elsa dan jawaban itu membuat Robin tersentuh. "Dan kalau Mayra orang pertama yang menggendong putraku, maka aku adalah ibu yang mengandungnya selama 9 bulan dan dia makan dari darahku!"


Tbc...