After Darkness

After Darkness
Episode 71



Elsa tidak tahu, apakah Olga bisa menjadi pilihan yang tepat untuknya saat ini, namun Elsa benar-benar membutuhkan pertolongan orang lain.


Dan Elsa sangat bersyukur karena Olga masih perduli padanya dan mau membantu Elsa.


"Maaf ya, Ga. Jadi merepotkan," kata Elsa yang saat ini sudah berada di apartement Olga.


"Tidak apa-apa, Sa. Santai saja," kata Olga sambil tersenyum manis, ia memberikan segelas air putih untuk Elsa dan Elsa pun langsung meneguknya.


"Jadi, selama ini kamu kemana saja? Tiba-tiba hilang kabar, Jimmy cari kamu terus lho, Sa." kata Olga yang membuat Elsa langsung tersenyum masam.


"Aku sudah tidak mau berhubungan lagi sama Jimmy, Ga. Dia sudah punya istri dan anak, aku tidak mau menjadi wanita yang merusak hidup wanita lain," ucap Elsa dengan tegas.


"Tapi sepertinya Jimmy sangat mencintai kamu, Sa," ujar Olga lagi yang membuat Elsa merasa risih sebenarnya.


"Laki-laki seperti Jimmy itu tidak mengenal cinta, Ga. Pria seperti itu hanya suka bermain-main, istri dan anaknya saja di abaikan demi kesenangan sesaat, apalagi wanita yang cuma jadi pelampiasan hasratnya." tegas Elsa yang membuat Olga tak bisa lagi berkata-kata.


..........


Robin sampai di kantornya saat jam makan siang usai, dan kini ia di hadapkan pada tumpukan pekerjaan yang membuat kepalanya langsung terasa pening.


Dari masalah Elsa yang kabur, masalah Mama nya yang menganggap Robin telah di pengaruhi oleh Elsa, dan sekarang bertambah lagi masalah Robin, pekerjaan dan kuliahnya.


"Kenapa semuanya jadi serba salah begini," gumam Robin, ia menarik rambutnya dengan frustasi.


Robin melepaskan jasnya kemudian menyampirkan di kursinya, Robin bahkan melepas dasinya yang seolah mencekiknya dan tak lama kemudian terdengar suara Joanna dari luar.


"Masuk!" teriak Robin, Joanna yang selalu berpenampilan seksi kini muncul dari balik pintu, sambil tersenyum manis.


"Ada apa?" tanya Robin dengan nada dingin..


"Sebenarnya am 4 nanti ada pertemuan dengan perusahaan Magenta, Pak. Em tapi beliau ingin memajukan jadwal pertemuannya jam 1, Pak." Robin langsung menggeram kesal mendengar berita yang di bawa Joanna.


"Seharusnya kamu memberi tahuku lebih awal, Jo!" seru Robin marah.


"Sudah, Pak. Sejak kemarin sore," jawab Joanna "Saya sudah kirim pesan, email, terus bahkan saya sudah telfon, tapi tidak ada jawaban." cicit Joanna yang membuat Robin kembali menggeram kesal.


Kemarin sore? Tentu saja Robin tidak akan menjawab telfon siapapun karena saat itu Robin sedang sibuk bercinta dengan Elsa, dan saat malam, Robin sibuk memikirkan Elsa dan ia tenggelam dalam penyesalan yang begitu dalam. Dan pagi ini, Robin sibuk berada argumen dengan sang Mama.


"Batalkan saja!" seru Robin kemudian dengan kesal.


"Tapi, Pak. Jika pertemuan ini gagal, kita bisa rugi banyak." seru Joanna kemudian.


"Astaga!" geram Robin sembari mengangkat lengan bajunya, entah kenapa hari ini Robin benar-benar merasa seperti kepanasan, tercekik, kebingungan dan sebagainya, seolah ia sedang di kurung dalam tempat yang sempit.


"Loh, lengan Pak Robin kenapa?" pekik Joanna yang melihat ada bekas kuku dan gigitan di lengan Robin


"Dimana pertemuannya?" tanya Robin kemudian tanpa mengghiraukan pertanyaan Joanna.


"Pak, saya ambilakan obat dulu ya, takutnya lengan Pak Robin kenapa-napa," kata Joanna yang berusaha memberikan perhatian pada Robin namun rupanya itu membuat Robin justru semakin kesal.


"Lakukan pekerjaan mu dan jangan menggodaku!"