
Di restaurant, Bu Anita menikmati makanan yang di sajikan dengan sangat lahap, begitu juga dengan Elsa dan Robin. Mereka makan sambil membicarakan banyak hal, dari tentang kehidupan Robin, sampai pada rencana masa depan Baby Arjun.
"Kita boleh merencanakan masa depan Baby Arjun, Ma. Tapi kita juga harus memberinya kesempatan untuk memilih jalan hidup seperti apa yang dia mau," kata Elsa dan ibu mertuanya itu tidak menolak pendapat Elsa.
"Tapi Mama mau dia masuk sekolah elit nanti, dan soal ini Mama tidak mau di debat!" Tegas Bu Anita tanpa bisa di bantah. Robin dan Elsa justru tertawa kecil melihat keseriusan Bu Anita dalam merencanakan masa depan Baby Arjun.
"Ma, si bayi jalan saja belum bisa, Mama malah merencanakan sekolah untuknya," kata Robin sembari menatap bayinya yang saat ini masih tidur di dalam trolley-nya.
"Ya harus dong, menjadi orang tua itu harus punya perencanaan yang matang untuk anaknya," tukas Bu Anita.
"Aku ke toilet dulu," kata Elsa yang tiba-tiba merasa ingin buang air kecil, ia pun segera pergi dari sana sementara Robin dan mamanya masih melanjutkan acara makan malam mereka.
Sementara di toilet, Elsa mencuci tangannya setelah ia buang air kecil dan di saat yang bersamaan, ada Mayra yang juga masuk ke toilet.
"Elsa? Kamu sama siapa?" Tanya Mayra yang tampak antusias bertemu dengan Elsa.
"Sama Mama dan Robin, kamu sendiri sama siapa?" Tanya Elsa.
"Aku sendiri, kebetulan saja lewat sini dan perutku keroncongan. Jadi aku mampir untuk makan," jawab Mayra.
"Mau gabung?" Tawar Elsa.
"Aku rasa itu makan malam keluarga, aku tidak ingin mengganggu," ucap Mayra sambil tersenyum. Elsa terdiam sejenak, ia menatap Mayra kemudian berkata.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau melepas Robin." Mayra tersenyum mendengar ucapan terima kasih Elsa.
"Kata Robin, kamu bukan tipe orang yang mudah mengucapkan kata maaf dan terima kasih." Elza terkekeh mendengar hal itu.
"Dia benar, dia mengenalku dengan sangat baik." Mayra hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Gabung saja, May. Tidak enak makan sendiri, kan?"
.........
Sesuai permintaan Elsa, Mayra bergabung di meja Elsa dan ia di sambut hangat oleh Robin dan Bu Anita.
Sambil makan malam, Mayra bercerita tentang kehidupannya waktu kuliah di Amerika yang katanya dia jarang sekali pergi ke luar dan lebih suka di asrama.
Bu Anita tentu terkejut karena cerita Mayra berbeda, sementara Mayra lupa bahwa ia pernah berbohong pada Bu Anita.
"Waktu itu kamu bilang suka pergi ke luar kota," kata Bu Anita yang membuat Mayra melongo namun kemudian ia cengengesan.
"Hehe, waktu itu aku bohong sih, Tante." Mayra menceritakan bahwa semua itu ia lakukan demi menarik perhatian Bu Anita dan juga Robin dan itu sesuai arahan dari Joanna.
Tentu saja mereka semua terkejut, dan Mayra juga menunjukkan foto-fotonya sewaktu kuliah di Amerika. Hanya ada beberapa foto yang menunjukkan ia jalan-jalan, sementara kebanyakan foto yang lain ia sedang berada di perpustakaan, di kamar, di kelas. Mayra juga menceritakan bahwa alasannya benar-benar serius belajar dan bukannya sibuk ikut teman-temannya karena ia tak ingin mengecewakan sang Mama yang sudah mengirimnya kesana agar belajar dan menjadi orang yang sukses.
"Tidak, kecuali di acara tertentu. Kenapa?" Tanya Mayra.
"Terus kenapa waktu itu kamu datar ke kantorku pagi-pagi sekali dengan memakai mini dress?" Tanya Robin lagi.
"Kata Joanna, kamu suka wanita seksi," cicit Mayra yang seketika membuat Bu Anita dan Robin menganga, sementara Elsa justru tersenyum miring.
"Dan dengan bodohnya kamu percaya saja sama wanita ular itu?" Tanya Elsa.
"Ya aku fikir dia sekretaris pribadi Robin, dia pasti kenal Robin," jawab Mayra.
"Bodohnya kamu, Mayra!" Mayra hanya bisa meringis, karena sepertinya apa yang di katakan Elsa benar, kini perlahan ia mulai mengenali karakter Robin dan Robin berbanding terbalik dengan apa yang Joanna katakan.
"Rob, kamu pecat saja lah wanita ular itu, manipulatif dia tuh!" Tegas Elsa.
"Tapi dia bekerja dengan sangat baik, Sayang," jawab Robin namun istri justru melotot.
"Pecat saja, Robin Sayang. Dia bisa bekerja dengan baik tapi dia tidak punya watak yang baik. Bisa saja suatu hari nanti dia malah merugikan perusahaan karena suatu hal. Orang bodoh lebih baik dari pada orang licik, orang bodoh bisa belajar tapi orang licik?"
Robin dan Bu Anita saling menatap, karena selama bekerja Joanna memang menjadi pekerja yang baik. Namun Robin juga sadar, Joanna sering mencoba mendekatinya sejak dulu.
"Baiklah, nanti aku fikirkan hal itu. Karena tidak mungkin kita memecat orang tanpa alasan yang kuat dan jelas!"
Tbc....
Sambil menunggu episode selanjutnya, mampir ke cerita seru milik Author Irma Kirana yang berjudul Terjebak Dendam Suamiku. Ceritainya keren loh, recommended banget pokoknya. Mampir ya, Sayang sayangnya SkySal. 😘
Cuplikan...
Bara tersenyum sinis, dia menaikkan bahu dan alisnya setelah mendengar perkataan Maura, "Hah! Apa kamu bilang? Cemburu? Aku? Apa kamu bercanda? Rasa cemburu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki perasaan cinta, kau tau aku tidak memilikinya untukmu!" Bara memegang kedua pipi Maura dengan keras, kedua kakinya mengunci tubuh mungil Maura yang berontak.
Kekejaman Bara tidak hanya disitu saja, tidak hanya menyiksa tubuhnya. Tapi juga mental dan hatinya, itu yang lebih terluka.
"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa tidak lepaskan saja aku? Apa susahnya?" Tanya Maura memberanikan dirinya. Terlihat dirinya sangat lelah dengan sifat Bara.
Pria yang aku cintai telah berubah, apalagi yang harus dipertahankan? Semua kehangatan itu. Semua cinta yang dia tunjukkan padaku sebelumnya, adalah cinta palsu. Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semuanya. Maura membatin perih dalam hatinya.
Sekuat tenaga gadis itu menahan tangis, dia terisak dengan perlakuan suaminya.
"Beraninya kamu meminta aku melepaskanmu! Sepertinya belakangan ini aku terlalu lembut padamu. Baiklah, akan aku tunjukan betapa dalam aku cinta padamu, kalau kamu ingin tau!" Pria itu tersenyum sinis.