After Darkness

After Darkness
Episode 109



"Els...." lirih Robin sembari mendekap Elsa yang sudah tak bertenaga. Elsa yang merasa butuh pegangan langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Robin dan perlahan matanya turtutup.


"Aku rasa ... aku mau pingsan." racau Elsa sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadarannya yang membuat Robin panik.


"Elsa ... Hey...." Robin menepuk pipi Elsa beberapa kali sambil melihat ke sekelilingnya.


Robin melihat ada suster yang berlari ke arahnya, Robin juga melihat Mamanya yang datang bersama seorang Dokter dan sekarang Robin mengerti apa yang terjadi.


Bu Anita yang melihat Robin memeluk Elsa sangat terkejut, ia pun segera menghampiri Robin dengan tertatih. "Robin...."


"Mama mau membunuh bayi kami?" Tanya Robin tajam dan tentu Bu Anita langsung menggeleng tegas.


"Mama tidak memaksa dia, Robin. Dia sendiri yang mau," kilah Bu Anita membela diri.


"Mau bagaimana, Ma? Dia lari ketakutan!" Sanggah Robin menggeram marah.


"Ya itu karena...."


"Aku kecewa sama Mama," desis Robin kemudian ia menggendong Elsa dan segera membawanya pergi dari sana, tanpa memperdulikan Bu Anita yang terus memanggil Robin dan memintanya berhenti. Kini, kekecewaan Robin semakin besar pada ibunya, dan itu membuat ia semakin sedih, merasa benar-benar tidak di hargai.


Robin memandangi wajah Elsa yang sedikit pucat, sambil berjalan, ia mendekapnya lebih erat, seolah ia sangat takut kehilangan Elsa.


Saat Robin membaca pesan Elsa dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Elsa, Robin langsung bergegas ke rumah sakit tanpa membuang waktu sedikitpun. Dan ia sangat bersyukur karena datang tepat waktu.


.........


Robin menidurkan Elsa di ranjangnya dengan sangat hati-hati, ia melepas sepatu Elsa kemudian menyelimuti wanitanya itu. Robin merapikan rambut Elsa yang tampak menganggu wajahnya, dan ia juga membelai pipi Elsa dengan lembut.


"Terima kasih, Els. Karena kamu mau menjaga anak kita," ucap Robin sebelum akhirnya ia mengecup kening Elsa dengan sayang.


Brian benar dan Robin harus mengakui bahwa ia memang mencintai Elsa.


Robin duduk di sisi Elsa sambil terus menggenggam tangan Elsa, tatapannya tak bisa berpaling dari wajah Elsa hingga ia melihat kelopak mata Elsa yang bergerak-gerak, jari jemarinya juga bergerak membuat Robin menghela napas lega.


"Hey, kamu sudah bangun..." mendengar suara itu, Elsa berusaha mengembalikan kesadarannya yang seolah masih mengambang. "Elsa...." Robin menepuk pipi Elsa pelan.


''Kamu ... sudah pulang? "Tanya Elsa lirih, Robin mengangguk sambil tersenyum." Aku haus," rengek Elsa kemudian sembari berusaha duduk.


"Sebentar, aku akan mengambil air," jawab Robin yang segera bergegas mengambil air.


Sementara Elsa kini hanya bisa memijat keningnya, pandangannya seperti berkunang-kunang.


Robin kembali dengan membawa air, ia langsung membantu Elsa meminumnya.


"Bagaiamana perasaanmu?" Tanya Robin kemudian.


"Kacau," jawab Elsa kemudian ia kembali merebahkan diri karena ia masih merasa sangat pusing.


"Baiklah, kamu istirahat ya..." Robin kembali menyelimuti Elsa namun tiba-tiba Elsa memegang tangan Robin, ia menatap mata Robin dengan intens.


"Kamu dari mana?" Tanyanya, sorot matanya tampak cemas.


"Hanya mengurus sedikit pekerjaan," jawab Robin.


"Pekerjaan apa? Mama sama asisten kamu mencarimu kesini, aku terpaksa memberi tahu mereka kalau aku hamil karena kamu memperkosaku," tutur Elsa yang membuat Robin tampak terkejut, namun kemudian ia tersenyum samar atas pengakuan Elsa.


"Tidak apa-apa, faktanya memang begitu," jawab Robin. "Dan, terima kasih banyak karena kamu mau menjaga anak ini," lirihnya dengan tatapan yang sayu. Elsa terdiam, ia menatap mata Robin.


"Aku tahu, mungkin kamu sangat membenciku dan juga anak ini, tapi aku benar-benar mohon sama kamu, Els. Tolong jaga anak ini setidaknya sampai anak ini lahir, setelah itu, aku tidak akan memaksamu merawatnya atau memilikinya. Anak ini akan menjadi tanggung jawabku," ucapnya panjang lebar, apa yang terlihat di matanya sama seperti apa yang terucap dari bibirnya. Sementara Elsa masih hanya mendengarkan dalam diam, dan ia meringis ngeri saat mengingat ruang persalinan tadi.


"Tapi, bukannya kamu memang ingin menggugurkan anak ini? Lalu kenapa tadi kamu lari. Elsa?" Tanya Robin karena pertanyaan itu terus terngiang di benaknya sejak tadi.


Elsa terhenyak mendengar pertanyaan Robin, karena ia pun bingung kenapa dirinya lari, padahal Elsa sangat ingin menggugurkan kandungannya, Elsa kembali duduk.


Tbc...