
"Nyonya benar-benar yakin kalau aku simpanan Pak Andrew?" tanya Elsa lagi kemudian ia sedikit membungkuk dan berbisik di telinga Bu Anita "Nyonya tidak sakit hati, melihat wanita yang pernah menghangatkan ranjang suami Nyonya kini justru memasak untuk suami dan anak Nyonya?" ucapnya dengan seringai licik di bibir Elsa.
Darah Bu Anita mendidih mendengar apa yang baru saja Elsa bisikan di telinganya, kedua tangannya mengepal kuat, ia menatap Elsa dengan mata memerah dan itu adalah kepuasan tersendiri bagi Elsa.
"Bereskan barang-barang mu dan angkat kaki dari rumahku!!!" seru Bu Anita kemudian yang tentu saja membuat hati Elsa bersorak namun...
"Mama!" seru Robin yang juga terkejut mendengar apa yang di katakan Mamanya.
Robin segera melangkah cepat menghampiri dua wanita beda generasi yang tampak bersitegang itu.
"Ada apa?" tanya Robin setelah ia berada di hadapan Elsa dan Bu Anita
"Robin, Mama mau kamu bawa keluar wanita ini dari rumah ini!" seru Bu Anita dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, rasanya sangat sakit saat mendengar apa yang telah di katakan Elsa.
"Kenapa? Bukannya Mama mau balas dendam sama Elsa?" tanya Robin.
"Tidak, Mama tidak sudi melihat wanita ini lagi!" tegas Bu Anita dan ia pun tak mampu lagi menahan air matanya yang membuat amarah Robin memuncak kala melihat sang Ibu kembali menangis, kemudian Bu Anita mendorong kursi-rodanya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang semakin hancur, meninggalkan Elsa dan Robin yang kini saling memandang dengan tatapan tajam.
"Kamu apain Mama ku, Els?" desis Robin tajam bahkan ia langsung mencengkram lengan Elsa dengan kuat membuat Elsa langsung meringis sakit.
"Aku cuma bilang kenapa dia tahan melihat wanita simpanan suaminya setiap hari," jawab Elsa sejujurnya sembari berusaha menarik lengannya.
"Itu pertanyaan apa pernyataan?" tanya Elsa sekenanya namun sepertinya itu kembali membuat Robin marah, Robin kini mencengkram pipi Elsa membuat Elsa kembali meringis, merasakan tulang pipinya yang seolah akan dipatahkan oleh Robin.
"Dengar ya, Els!" geram Robin yang kini menatap mata Elsa dan Elsa pun dengan berani membalas tatapan Robin "Lihat saja nanti, aku akan menghancurkan hidup kamu, bahkan hidup adik kamu!" geramnya yang langsung membuat pupil mata Elsa melebar.
"Elnaz..." fikir Elsa, fikirannya langsung tertuju pada Elnaz karena Elsa tahu Robin adalah teman Elnaz, bahkan Robin dan Elnaz memiliki hubungan yang baik.
Robin melepaskan cengkramannya dengan kasar, sampai membuat wajah Elsa terhempas ke samping.
Elsa memegang pipinya namun tatapannya masih lurus menatap Robin.
"Mama mu mengusirku, jadi kembalikan ID card ku biar aku bisa pergi detik ini juga!" desis Elsa.
"Jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini setelah kamu membuat Mama menangis, Els!" tegas Robin kemudian ia meninggalkan Elsa yang yang bisa menggeram tertahan.
Robin masuk ke dalam mobilnya dan ia melajukan mobilnya keluar dari rumah dengan amarah yang menggebu.
Sementara Elsa, kini ia mulai tampak cemas. Memikirkan adiknya yang tidak tahu apa-apa bisa saja terkena masalah karenanya.
"Tidak mungkin, Robin tidak mungkin menyakiti Elnaz. Ada Arfan yang melindungi Elnaz," gumam Elsa berusaha menenangkan dirinya sendiri "Tapi Robin itu psycho, bagaimana jika dia benar-benar menyakiti Elnaz?"