
"Tidak ada malam pertama yang ada hanya malam menjaga si kecil sampai mabuk. " Elsa langsung terkekeh mendengar pernyataan dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
Setelah selesai acara pernikahan yang berlangsung dengan penuh suka cita, kini mereka kembali ke kamar pengantin yang di siapkan untuk mereka.
Namun karena mereka bukan pasangan biasa, maka sepertinya tak ada malam pertama di malam pernikahan mereka. Yang ada mereka justru rempong mengurus anak mereka yang sejak tadi rewel, Elsa sudah menyusuinya, Robin sudah memeriksa popoknya dan menggantinya dengan yang baru, namun bayi mungil itu masih terus menangis.
Elsa masih memakai gaun pengantinnya yang di turunkan bagian atasnya hingga pinggang, sementara Robin sudah melepas jasnya dan kini ia hanya memakai kemeja putih dengan kancing atas yang sudah di buka dan lengannya di lipat hingga siku.
"Dia kenapa ya? Aku bingung...." Elsa merengek cemas karena anaknya itu terus menangis, bahkan ia seolah juga akan menangis karena tidak tahu cara menenangkan bayinya.
"Apa kita panggil mamamu saja?" Tanya Elsa kemudian karena yang menginap di hotel itu hanya mamanya Robin sementara mamanya Elsa pulang ke rumah Elnaz setelah acara pernikah selesai.
"Ya juga ya, kenapa tidak kefikiran dari tadi," gumam Robin kemudian ia segera menjemput mamanya.
Tak lama kemudian Robin kembali bersama Bu Anita yang sudah memakai piyama. "Aku rasa dia sakit perut," kata Bu Anita, ia mengambil bayi Elsa dari gendongan Elsa kemudian Bu Anita menidurkannya di ranjang.
"Ambilkan minyak kayu putihnya!" titah nya dan Elsa pun segera mengambil minyak telon untuk bayinya.
Bu Anita mengusapkan minyak itu ke dada dan perut si kecil, ia memberikan pijatan lembut di perutnya. Elsa dan Robin memperhatikan gerak-gerik Bu Anita dengan seksama. Tak lama kemudian perlahan si kecil mulai tenang yang seketika membuat Robin dan Elsa bernapas lega.
"Aku rasa malam ini Baby Arjun akan tidur sama Mama," kata Bu Anita kemudian ia menggendong cucunya itu.
"Jangan!" seru Elsa mencegah namun Bu Anita langsung menatap tajam menantunya itu.
"Kamu urus saja diri kamu sendiri malam ini, lihat bajumu itu!" Elsa langsung menunduk dan ia baru menyadari pakaiannya yang berantakan, Elsa meringis. "Make up mu saja belum di hapus, jadi si kecil biar sama Mama dulu, kalian istirahat saja!"
Elsa hanya bisa menganggukan kepalanya, sementara Robin justru tampak sangat senang. Hatinya bersorak girang, setidaknya di malam pernikahannya ini dia bisa menghabiskan malam dengan Elsa walau tanpa ritual apapun.
Bu Anita segera meninggalkan kamar mereka dan saat pintu tertutup, Robin justru langsung menyerang Elsa tepat di bibirnya membuat Elsa terkejut dan ia mencoba menolak ciuman Robin walaupun sebenernya ia juga menginginkan hal itu.
"Mandi dulu, ya?" bujuk Elsa, Robin terdiam sejenak namun kemudian ia mengangguk.
"Asal mandinya bareng ya!"
.........
Apa yang Robin katakan, maka itu apa yang ia inginkan dan ia akan melakukan apapun yang ia inginkan.
Sesuai keinginannya, ia mandi bersama dengan Elsa. Keduanya tak memakai apapun, berdiri di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuh mereka.
Robin mengambil sabun dan mulai menyabuni tubuh istrinya itu, dari leher, pundak, dada dan Elsa menahan napas saat Robin dengan sengaja menekan di bagian itu, bahkan menyentil pucuk mungil nan menggemaskan yang selalu di sedot putranya itu. Dada Elsa naik turun dan tanpa sengaja ia mengerang lirih saat Robin menarik pucuk itu dengan gemas.
Robin tersenyum puas dan ia seolah bangga saat mendengar suara erangan Elsa, seperti mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya.
Kini tangan Robin bergerak turun dan berhenti di bagian perut Elsa dengan bekas jahitan yang melintang dengan panjang beberapa senti, luka jahitan itu sudah kering karena Robin memberikan perawatan dan dokter yang terbaik untuk Elsa. Robin bahkan sudah membuat janji dengan dokter ahli untuk menghilangkan bekas jahitan itu.
Robin berlutut, kemudian mengusap bekas jahitan itu dengan lembut dan mengecupnya, Elsa menyusupkan jari jemarinya di rambut Robin, napasnya semakin memberat apalagi saat ciuman Robin turun semakin ke bawah dan berhenti di bagian daging tembem nan empuk itu.
Robin mendongak, menatap Elsa dengan sendu seolah meminta izin. Elsa mengangguk tanpa ragu, bahkan ia mendorong kepala Robin hingga akhirnya bibir Robin menyentuh bibir lembah itu.
Tbc...
Ehem ehem....
Sorry, othor kok haus ya? Minum dulu deh, habis itu baru lanjut.