
"Mama mau bicara apa? Kayak penting banget," kata Elsa sembari duduk di sofa didepan ibu mertuanya itu, Robin pun juga bergabung dengannya.
"Tadi setelah Mama fikir-fikir, sebaiknya kalian berangkat saja bulan madu," tukas Bu Anita yang membuat Elsa langsung mengerutkan keningnya.
"Kan kita sudah bahas ini sebelumnya, Ma. Bagaimana kita bisa bulan madu kalau ada si kecil? Kita mau fokus saja rawat si kecil dulu," jawab Elsa.
"Kita bulan bulan madunya bertiga...."
"HUH?" pekik Elsa dan Robin secara bersamaan, meraka saling pandang sebelum akhirnya mereka tertawa dan hal itu berhasil membuat Bu Anita jengkel.
"Kenapa kalian tertawa? Mama itu cuma ingin kita liburan bersama, menghabiskan waktu bersama. Sudah lama Mama tidak pergi liburan juga," kata Bu Anita cemberut.
"Ya itu namanya liburan, Ma," tukas Elsa sambil terkekeh. "Bukan bulan madu, kalau bulan madu itu ya cuma aku sama Robin. Kalau Mama sama si kecil ikut, mana bisa kita bulan madu. Ya, 'kan, Sayang?" Tanya Elsa pada Robin dan seketika Robin pun ikut tertawa.
"Berhenti menertawakan ibu mertuamu, Elsa!" Tegur Bu Anita dan seketika Elsa langsung membekap mulutnya sendiri.
"Memangnya Mama ingin kemana?" Tanya Robin kemudian.
"Kemana saja, ke luar negeri, boleh. Ke luar kota juga boleh saja," jawab Bu Anita.
"Nanti aku lihat dulu jadwalku ya, Ma. Karena akhir-akhir ini aku punya banyak pekerjaan penting," tukas Robin.
"Suruh papamu saja yang handle, Rob. Lagian kamu itu masih muda tapi kamu belum bersenang-senang sedikitpun, malah sibuk ngurus kantor."
"Dan sibuk ngurus istri dan anak," sambung Elsa dan ia kembali terkekeh. "Salah dia sih, Ma. Tidak ada yang melempar tanggung jawab itu padanya, dia sendiri yang menjemput tanggung jawab itu." lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Robin.
"Dasar gadis nakal..." Robin mencubit pipi Elsa dengan gemas.
"Jadi bagaimana? Kita jadi pergi liburan?"
"Iya, tapi nanti. Aku urus dulu semuanya, apalagi kita bawa si kecil," jawab Robin. "Oh iya, malam ini aku mau ke restaurant. Aku sudah lama tidak memeriksanya." lanjutnya.
"Aku ikut!" Seru Elsa sambil cengengesan..
"Jangan seperti anak kecil deh, Elsa! Untuk apa kamu ikut Robin memeriksa restaurant? Lebih baik di rumah, jaga anak!" keluh Bu Anita yang membuat Elsa langsung mencebikan bibirnya.
"Emang apa salahnya ikut suami sendiri, Ma? Aku cuma mau jaga Robin, takut ada yang goda'in disana," ucap Elsa dengan cemberut.
"Ya harus di bawa, Ma. Kalau dia haus dan mau menyusu, bagaimana?"
"Ya sudah, tapi harus sudah di rumah sebelum jam 9!"
.........
Setelah beberapa perdebatan dengan sang ibu mertua, akhirnya Elsa benar-benar di izinkan ikut Robin ke restaurant. Dan malam ini restaurant sangat ramai, bahkan ada beberapa tamu yang hampir tidak mendapatkan kursi.
Elsa menggendong Baby Arjun, sementara Robin membawa tas yang berisi barang-barang bayinya itu.
Mereka memang tidak mempekerjakan baby sitter karena Elsa dan Bu Anita sama-sama tidak memiliki pekerjaan sehingga mereka berdua sepakat akan menjaga baby Arjun bersama.
Robin dan Elsa menemui Rion, Rion pun membicarakan tentang perkembangan restaurant pada Robin.
" Aku rasa kita bisa buka cabang baru, bagaimana menurutmu?" Tanya Robin pada Rion.
"Itu ide yang sangat bagus, saya yakin ini akan sukses," jawab Rion sambil tersenyum, kemudian ia menatap baby Arjun yang tertidur di gendongan Elsa.
"Kenapa kamu melihat putraku begitu?" Tanya Robin dengan dingin.
"Aku masih tidak percaya kalian benar-benar menikah," kata Rion dengan jujurnya.
"Kenapa? Kamu masih mengharapkan aku?" Tanya Elsa dengan bar-barnya yang membuat Rion melongo dan ia langsung menatap Robin dengan takut.
"Pasti masih naksir aku, 'kan? Atau jangan-jangan kamu masih menyimpan nomor telfonku?" lanjutnya yang membuat Rion semakin mati kutu, apalagi saat ia menatap Robin, tatapannya benar-benar tajam seperti singa yang ingin memakan mangsanya.
Tbc...
Beautiful Affair *adakah karya terbaru SkySal. Menceritakan tentang cinta, obsesi, persahabatan, persaudaraan, hingga perselingkuhan.
Penasaran*?