
"Tolong tanda tangan disini ya, Bu...." seorang Suster memberikan sebuah berkas pada Elsa, Elsa pun mengambilnya dan menandatanganinya. Setelah itu, ia dan Bu Anita di arahkan menuju ruang persalinan.
"Kenapa? Kamu gugup?" Tanya Bu Anita karena sejak tadi ia melihat Elsa yang tampak gugup dan terus meremes jari jemarinya. "Tenang saja, Elsa. Ini aman kok, tidak akan menimbulkan masalah di masa depan," bujuk Bu Anita namun Elsa enggan menanggapinya. Bu Anita juga mengambil tas Elsa dan melatakkannya di pojok ruangan, membuat Elsa mendelik kesal.
Tak lama kemudian seorang Dokter pria datang bersama beberapa suster, saat melihat mereka, Elsa semakin gugup, jantungnya beredar, napasnya terasa memberat apalagi saat ia melihat pisau dan gunting operasi di atas meja.
Elsa memegang perutnya, dadanya semakin terasa sesak membayangkan janin dalam rahimnya akan di keluarkan dengan paksa.
"Berbaring, Sa...." Bu Anita hendak membaringkan Elsa namun Elsa justru turun dari bangsalnya.
"Tunggu, aku ... aku mau ke toilet sebentar," ucap Elsa dengan gugup yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bu Anita.
"Jangan banyak alasan, Sa. Operasinya harus segera di lakukan, ini tidak akan sakit," bujuknya setengah menggeram.
"Hanya sebentar, kamu mau aku pipis disini?" Bentak Elsa yang membuat Bu Anita semakin tampak kesal.
"Sus, antarkan pasien ke toilet," ucap Dokter itu dan salah satu Dokter disana langsung menarik tangan Elsa, hendak membawanya ke toilet.
Elsa menurut saja sembari melirik Bu Anita yang kini berbincang dengan Dokter pria itu. Diam-diam Elsa mengambil ponsel dalam tasnya.
"Tunggu di luar saja, Sus. Aku bisa sendiri kok," ucap Elsa kemudian.
Elsa segera menutup toilet dan ia pun langsung menghubungi Robin, namun seperti biasa ponsel pria itu tidak aktif, membuat Elsa menggeram kesal.
"Dimana kamu, bocah tengil?" Geram Elsa, seluruh tubuhnya sudah gemetar membayangkan janinnya akan di keluarkan secara paksa. Setelah beberapa kali gagal menghubungi Robin, Elsa pun hanya bisa mengirim pesan dan berharap Robin segera membacanya.
"Kamu dimana, bocah? Menghilang seperti bodoh, cepat jemput aku di rumah sakit, sekarang juga! Atau bayimu akan musnah dari rahimku!"
...... ...
Merasa sangat lama di toilet, Bu Anita pun segera menyusul Elsa, ia menggedor pintu toilet sembari terus memanggil nama Elsa.
"Aku tidak mau menggugurkan kandunganku," tukas Elsa kemudian yang membuat Bu Anita langsung melotot sempurna, ia menatap Elsa dengan tajam.
"Jangan gila kamu, Elsa. Kita sudah disini!" Tegas Bu Anita namun Elsa menggeleng.
"Aku tidak mau, aku mau pulang!" Seru Elsa dan saat ia hendak melewati Bu Anita, Bu Anita langsung mencekal tangan Elsa.
"Kita sudah sepakat, Sa. Kamu juga sudah tanda tangan surat perjanjian untuk menggugurkan kandungan ini!" Geram Bu Anita namun Elsa justru menghempaskan tangan Bu Anita dengan kasar.
"Aku. Tidak. Peduli." Elsa berkata penuh penekanan yang membuat Bu Anita menggeram marah, ia menatap Dokter itu seolah memberinya perintah. Dan benar saja, para suster itu langsung memegang kedua lengan Elsa yang membuat Elsa terkejut dan secara spontan ia mencoba memberontak namun Elsa tidak berdaya karena ada tiga suster yang memegangnya.
Dokter itu hendak menyuntik Elsa dengan obat penenang yang membuat Elsa semakin terlihat marah, ia menatap Bu Anita dengan tajam, penuh dendam.
"Jangan melakukan pemaksaan atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!" Gertak Elsa namun Bu Anita tampak tidak perduli. "Aku paling benci di paksa, Nyonya Anita! Agh...." Elsa meringis saat merasakan ujung jarum suntik itu menusuk kulitnya. Bu Anita tersenyum puas, namun tiba-tiba Elsa justru menendang bagian Dokter itu yang membuatnya terjungkal ke lantai.
Elsa juga menggigit tangan salah satu suster itu, ia juga terus memberontak hingga akhirnya Elsa bisa terlepas dari tahanan mereka.
"Kamu akan membayar semua ini!" Desis Elsa sebelum ia berlari keluar dari ruang itu.
"Cepat kejar dia!" Titah Bu Anita pada suster itu.
Elsa berlari di lorong rumah sakit, kepalanya sudah pening, pandangannya pun sudah buram dan tubuhnya terasa lemas. Dari jauh, Elsa melihat seseorang berlari ke arahnya. Elsa mengerjap dan ia menggelengkan kepalanya, mencoba tetap mempertahankan kesadarannya hingga pria itu ada di depannya.
"Kamu dari mana saja, bodoh?" Desis Elsa sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri di pelukannya pria di depannya.
"Els...." lirih Robin sembari mendekap Elsa yang sudah tak bertenaga. Elsa yang merasa butuh pegangan langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Robin dan perlahan matanya turtutup.
"Aku rasa ... aku mau pingsan."
Tbc....