
Untuk kedua kalinya, Elsa harus melepaskan pria yang ia cintai. Namun tentu dengan kisah yang berbeda, jika kisah pertama karena kebodohan Elsa, maka kisah yang kedua karena ke naifan Elsa.
Maksud hati ingin membuat sang pujaan hati bahagia, namun pada dasarnya ia justru menambahkan kesedihan di hati masing-masing. Bukankah lebih baik menderita bersama dari pada menderita terpisah?
Jika bersama, setidaknya bisa saling menguatkan, bisa saling menghibur, bisa saling mendukung. Namun terkadang, seseorang memilih menjadi naif demi sebuah perasaan yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Demi sebuah pengorbanan yang sebenarnya justru semakin menyakitkan namun terselip harapan akan ada kisah yang berbeda.
Elsa dan Robin telah memutuskan untuk berpisah bahkan sebelum bersama, kisah mereka di akhiri bahkan sebelum ada yang memulai.
Saat Bu Anita tahu keputusan Robin yang mau menerima Mayra, tentu ia sangat terkejut sekaligus senang. Begitu juga dengan Mayra, saat ia memilih tak ingin lagi memperjuangkan Robin, justru Robin dan mamanya datang padanya dan melamarnya tentu dengan syarat Mayra harus menerima anak Robin nanti. Awalnya Mayra tak ingin menerima lamaran Robin mengingat bagaimana kasarnya pria itu padanya, namun setelah di bujuk oleh sang mama, dia pun luluh dan kabar pernikahan mereka secepat kilat menyebar ke segala arah.
Pak Andrew yang tahu hal itu sangat terkejut karena Robin tak memberi tahu nya padahal ia masih ayahnya, dan pak Andrew juga terkejut karena ternyata Robin tidak memiliki hubungan dengan Elsa.
Sementara Joanna, ia pun tak kalah terkejutnya mendengar berita itu. Susah payah ia mencoba membuat Mayra jelek di mata Robin, berharap Robin membenci wanita itu namun usahanya sia-sia begitu saja.
Sementara Elsa, ia pasrah jika harus kehilangan Robin dan juga anaknya. Setelah melahirkan nanti, Elsa akan pergi sejauh mungkin sehingga kecil kemungkinan ia akan bertemu dengan Robin.
Kedua orang tua Elsa yang kini sudah kembali pulang ke kampung halaman mereka hanya bisa menguatkan Elsa dari jauh, dan mereka berjanji akan menjemput Elsa setelah Elsa melahirkan nanti.
Kini Elsa tak lagi tinggal bersama Robin, Elsa menolak bersama pria itu lagi dan ia meminta Bu Anita agar membiarkan Bi Sum yang tinggal dengannya serta merawatnya.
Bu Anita tak keberatan sama sekali bahkan ia dengan senang hati mengirim Bi Sum karena dengan begitu Robin akan tinggal bersamanya dan itu akan memudahkan ia mengatur pernikahan Robin.
Waktu terus berlalu, dengan berat Elsa lewati hari demi hari apalagi kini kandungannya sudah besar, membuat ia mudah kelelahan, sulit tidur. Namun Elsa berusaha menjalani semuanya dengan hati yang tenang, karena ia mengingat apa kata Dokter Ika. Saat seorang ibu sedih atau stres, maka bayinya juga akan merasakan hal yang sama.
Dan malam ini, Elsa berjalan ke meja makan dengan satu tangan di pinggangnya sementara tangan yang lain di perutnya.
"Sudah lapar, Sa?" Tanya Bi Sum dan dengan cepat ia membantu Elsa duduk di kursinya.
"Iya, Bi. Dari tadi perut aku keroncongan," kata Elsa.
Bi Sum langsung menyajikan makanan untuk Elsa, setelah itu untuk dirinya sendiri dan mereka pun makan malam bersama seperti biasa.
"Bi...." panggil Elsa lirih namun ia tak menatap Bi Sum.
"Kenapa? Mau tanya keadaan Den Robin?" Tanya Bi Sum sambil tersenyum kecut.
Bahkan Robin tak lagi menemani Elsa ke Dokter dan lagi-lagi itu keputusan Elsa, dan lagi-lagi juga Robin mengalah begitu saja.
"Masih sama, Sa. Makin lama makin kurus, raut wajahnya selalu seperti orang baru di putusin pacarnya," kata Bi Sum.
"Tapi dia sehat, kan?" Tanya Elsa.
"Mana ada orang yang sehat setelah di putusin pacarnya," jawab Bi Sum.
"Sebentar lagi dia juga menikah, Bi."
"Iya sih, sebentar lagi mereka menikah, sebentar lagi kamu melahirkannya yang artinya sebentar lagi juga kamu dan Den Robin akan berpisah."
Elsa langsung menahan napas saat mendengar apa yang di katakan Bi Sum namun ia tak bisa apa-apa, karena keputusannya sudah bulat.
.........
Sementara di sisi lain, Robin dan Mayra saat ini berada di butik untuk fitting baju pengantin mereka. Mayra tampak antusias, sementara Robin seperti bunga yang layu.
"Ini fitting terkahir, kan?" Tanya Bu Vany.
"Iya, Bu. Kecuali jika ada yang tidak cocok, atau ada yang perlu di rubah," jawab sang desainer.
"Aku rasa ini sudah bagus kok, Ma," sambung Mayra sembari memutar badannya di depan kaca.
"Menurutmu bagaimana, Rob?" Tanya Bu Anita yang juga menemani mereka.
"Bagus," jawab Robin dingin.
Tbc....
Yang belum mampir ke cerita SkySal yang satu ini, mampir deh. Di jamin nggak akan nyesel. 😘