
Hati Elsa terenyuh mendengar pengakuan Robin itu, ia terharu karena begitu di cintai, mata Elsa sudah berkaca-kaca namun tiba-tiba Elsa melihat Robin akan di serang dari belakang. Tanpa fikir panjang, Elsa berlari dan langsung melindungi Robin. Alhasil pria itu memukul tepat di pundak Elsa yang memeluk Robin dari belakang!
"Aaghhhh...." Elsa mengerang sakit saat pria itu menghantam pundak Elsa.
Robin yang melihat Elsa di pukul tentu saja semakin marah dan lepas kendali, namun saat ia hendak membalas orang itu, tiba-tiba ada mobil yang lewat. Sontak Elsa dan Robin langsung berteriak meminta tolong dan para perampok itu pun lari terbirit-birit apalagi mobil itu berhenti.
"Els, oh Tuhan! Kamu tidak apa-apa?" Tanya Robin panik, padahal dia sendiri babak belur namun Robin seolah tak merasakan hal itu.
"Aku baik-baik saja, kamu yang terluka," kata Elsa sembari menyentuh sudut bibir Robin yang berdarah.
"Agh..." Robin meringis, rasanya perih dan sakit.
"Pak, tolong hubungi polisi, kami di rampok!" kata Robin kemudian pada pria yang baru saja turun dari mobilnya itu. Pria itu tampak terkejut, dan ia pun dengan cepat menghubungi polisi. Setelah itu, Robin juga meminta pria itu agar mengantarnya ke rumah sakit karena Robin harus memeriksa keadaan Elsa.
.........
"Janinnya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan," kata Dokter yang memeriksa kandungan Elsa. Robin dan Elsa sama-sama bernapas lega.
"Dok, tadi dia di pukul di pundaknya, tolong periksa itu juga," kata Robin dengan cemas.
Elsa pun duduk dan pundaknya di periksa. "Hanya memar, tapi harus di obati biar tidak semakin parah," kata Dokter itu.
Saat Elsa berdiri setelah di periksa, tiba-tiba Elsa limbung karena pusing, Robin yang melihat itu langsung merangkul pundak Elsa dengan lembut.
"Ada apa? Kamu sakit? Pusing, hm?" Tanyanya lembut.
"Hanya sedikit pusing," jawab Elsa.
"Kamu di rawat di sini malam ini ya? Biar Dokter bisa memantau keadaan kamu, Els." Elsa menggeleng meskipun Robin tampak sangat cemas.
"Aku ingin menghadiri acara Elnaz, aku sudah janji akan datang," ujarnya.
"Aku sudah janji pada Elnaz, Mama, Papa, aku tidak mau mengecewakan mereka." Elsa menatap Robin dengan tatapan memelas, jujur yang sangat ampuh untuk meluluhkan hati Robin sebenarnya, apalagi Elsa sudah tahu bahwa Robin mencintainya selama ini.
"Tapi, Els...."
"Please!"
.........
Robin memukul setir beberapa kali dengan kesal, rahangnya mengetat dan matanya terus menatap ke luar mobil, seolah menunggu seseorang datang padanya.
Robin melirik arlojinya, kemudian ia berdecak kesal namun Robin mencoba menahan kekesalannya.
Elsa terus memohon agar di izinkan datang ke acara Elnaz, dan di sinilah Robin sekarang, menunggu Elsa.
Robin mengizinkan datang namun dengan syarat hanya sebentar dan setelah itu mereka akan pergi ke hotel yang sudah Robin booking untuk mereka.
Bukannya Robin mau mengekang Elsa, tapi Elsa terlihat tidak sehat setelah di pukul tadi. Robin hanya ingin memastikan Elsa beristirahat dengan tenang.
Tak lama kemudian Elsa kembali, yang membuat Robin bernapas lega namun ia masih menunjukkan sikap dinginnya.
"Lama banget," gerutu Robin.
"Ini acara adikku, Rob," jawab Elsa.
"Aku itu bos kamu, panggil aku Tuan!" ujarnya dingin, namun Elsa tak lagi sakit hati, karena ia sudah mendengar sendiri pengakuan cinta Robin yang secara spontan.
"Baik, Tuan, maaf," jawab Elsa sarkastik namun kemudian ia tersenyum tertahan.