After Darkness

After Darkness
Episode 101



"Aku cuma mau memeriksa suhu tubuhmu, apa kamu masih demam?" Tanya Robin, Elsa terdiam sesaat namun kemudian ia memajukan kepalanya dan mendekatkannya ke Robin, seolah meminta Robin memeriksanya lagi.


Sambil tersenyum, Robin kembali meletakkan punggung tangannya di kening Elsa."Masih panas, habis ini jangan lupa minum obatnya," ujarnya.


"Apa obat itu aman untuk wanita hamil?" Tanya Elsa kemudian.


"Iya, aku sudah memberi tahu Dokter kalau kamu hamil," jawabnya dan Elsa hanya menganggukan-anggukan kepalanya.


"Kamu tidak sarapan?" Tanya Elsa kemudian karena Robin sejak tadi hanya memperhatikan dirinya.


"Aku tidak lapar," jawab Robin.


"Okey," gumam Elsa singkat kemudian ia kembali melanjutkan sarapannya.


.........


"Menikah sama Elsa? Jangan gila kamu, Mas. Mana mungkin Robin mau menikahi wanita simpanan ayahnya!" Seru Bu Anita sambil tersenyum sinis.


"Astaga, Anita! Harus berapa ribu kali aku menjelaskan kalau Elsa itu bukan wanita simpananku!" Balas Pak Andrew.


"Tapi dia tetap wanita simpanan, dia selingkuhan Jimmy, dia itu wanita murahan!" Balas Bu Anita dengan sengit yang membuat Pak Andrew tersenyum masam.


"Aku kesini hanya ingin bertemu denganmu dan Robin, aku tahu kesalahanku sangat fatal tapi aku sangat berharap masih ada ampun untukku. Tapi sepertinya kalian berdua sudah menutup pintu maaf untukku," lirihnya dengan begitu sendu.


"Tentu saja, kamu sudah tidak punya tempat di hati kami, di hidup kami, bahkan di rumah ini. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depan kami!"


.........


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10, seharusnya Robin sudah berada di kantor sekarang apalagi jam 10 ia ada meeting. Namun Robin merasa berat untuk meninggalkan Elsa yang masih sakit.


Joanna bahkan sudah mengirim pesan beberapa kali untuk mengingatkan Robin akan meetingnya. "Aku tidak mungkin meninggalkan Elsa sendirian dalam keadaan seperti ini, bagaimana kalau dia pingsan lagi nanti?" Gumam Robin cemas.


Ia pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Joanna untuk meng-cancel semua jadwalnya hari ini.


.........


Setelah mandi, Elsa merasa sedikit lebih baik. Tak lupa ia meminum obat dan vitamin untuk kandungannya itu.


Setelah berpakaian lengkap, Elsa turun karena ia merasa bosan jika harus berada di kamar terus. Saat menuruni tangga, Elsa melihat Robin yang mondar mandir sambil berbicara dengan seseorang di telfon. "Apa dia tidak bekerja?" Elsa mengggumam sembari terus menuruni tangga.


"Saya tidak bisa menemui Anda hari ini, karena ada urusan mendesak yang tidak bisa saya tunda. Dan untuk pertemuan selanjutnya, nanti akan di jadwalkan kembali oleh asisten saya, Pak Chandra!"


"Baiklah, mohon maaf sekali lagi, Pak."


"Kenapa kamu tidak bekerja?" Robin terlonjak saat ia mendengar suara Elsa yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Hey, kenapa kamu turun? Butuh sesuatu?" Tanya Robin sembari memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Aku bosan di kamar," jawab Elsa kemudian ia berjalan melewati Robin, Elsa menjatuhkan dirinya di sofa, ia mengambil remote tv dan menyalakannya.


"Sudah minum obat dan vitaminnya?" Tanya Robin yang kini duduk di sisi Elsa, Elsa hanya mengangguk malas.


"Baguslah, masih pusing? Atau masih sakit kepala?" Tanya Robin dengan tatapan yang masih tampak mencemaskan Elsa.


"Masih sakit, sedikit," cicit Elsa.


"Tidak usah!" ketusnya. "Kamu tidak bekerja?"


"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian, nanti kamu pingsan lagi seperti kemarin," jawab Robin dan ia tetap mendekati Elsa, Robin langsung memijat kepala Elsa dan tentu Elsa tak menolaknya.


"Els, bagaimana kalau kita menikah saja?"


Tbc...


Mau engga ya? Mau engga neh?


Hem, sambil menunggu jawaban Elsa. Mampir di sini dulu. Cerita yang membuat kalian pasti ketagihan setiap episodenya dan penasaran akan episode selanjutnya.


Cuplikan


"Pengecut!" gumam Gabriel sambil menarik pisau yang masih menancap di perutnya, ia mengerang kesakitan saat merasakan pisau itu tertarik dan Gabriel menjatuhkan pisau itu di sisinya.


Hingga tiba tiba...


"Aggh..." seorang gadis kecil yg berpenampilan bak bidadari masuk ke toilet dan tampak sangat terkejut melihat Gabriel. Gabriel sendiri sudah terbiasa membuat orang histeris dan berlari terbirit terbirit dari nya, ia pun menduga gadis kecil ini akan berlari ketakutan dan mungkin akan menangis mengadu kepda ayahnya.


"Om..." seru gadis itu sambil berjalan menghampiri Gabriel, tidak tampak ketakutan di wajah nya melainkan ke khawatiran. Membuat Gabriel terkejut dan merasa heran.


Gadis itu berjongkok di depan Gabriel dan menatap perut Gabriel dimana kemejanya sudah di penuhi darah "Aduh, Om kenapa? Om jatuh? Kok engga berteriak minta tolong? Darahnya banyak lagi" pekik gadis yg tampak kalang kabut apa lagi melihat Gabriel yg tampak meringis.


"Biar Firda panggil bantuan ya, takutnya Om keburu mati kehabisan darah" celetuknya dan hal itu membuat Gabriel tersenyum samar.


"Jadi nama nya Firda?" batin nya berkata dan bibir nya masih menahan senyum samar apa lagi saat Firda mengatakan takut Gabriel keburu mati kehabisan darah "Apa tidak ada kata yg lebih formal dan sopan dari itu?"


"Jangan" ucap Gabriel kemudian dengan lemas "Aku sudah memanggil bantuan, sebaiknya kamu pergi" titah nya dengan tegas. Namun Firda tak menghiraukannya sementara darah semakin banyak yg mengalir.


Dengan berani, Firda menyingkirkan tangan Gabriel yg sejak tadi menekan perut nya. Membuat Gabriel bingung dengan gadis kecil yg tak takut ini. Firda mengangkat kemeja Gabriel dan Gabriel membiarkan nya saja, merasa tertarik dengan keberanian gadis ini.


"Om, luka nya parah. Ya Allah, kasian nya. Sakit ya, Om?" tanya Firda lagi yg kembali membuat Gabriel mengulum senyum di tengah ia menahan rasa sakit nya.


"Bidadari yg sangat tidak pintar" seru Gabriel dalam hati


"Om, emang Om jatuh bagaimana sampai perut nya yg luka begini? Aduh, ini mah luka sobekan. Bantuan nya mana? Lama amat?" Gabriel terkekeh pelan mendengar celotehan Firda yg tak ada habis nya. Dan ia juga menanyakan bagaiamana bisa gadis kecil ini mengatakan 'bagaiamana bisa seseorang jatuh di kamar mandi dan mendapat luka sobekan di perut nya'. Karena orang terbodoh di dunia pun tak akan berfikir luka itu karena jatuh di toilet.


"Memang siapa yg mengatakan karena terjatuh, Wahai bidadari kecil?"


Gabriel mengambil pisau yg ada di samping nya pelan pelan agar Firda tetap tak menyadari keberadaan pisau itu kemudian ia menyembunyikan pisau itu ke belakang tubuh nya.


Sementara gadis itu tampak memikirkan sesuatu, mencari cara bagaiamana ia menekan luka itu agar tak terus berdarah sampai bantuan datang.


Dan tiba tiba Firda melepaskan pashmina luar nya.


Gabriel semakin bingung melihat Firda melepaskan pashmina nya, dan tanpa di sangka, Firda mengikat pashima nya di perut Gabriel untuk menekan luka nya. Gabriel tertegun melihat apa yg di lakukan gadis kecil didepan nya ini.


"Om, Firda panggil ambulance aja ya, luka Om makin parah tuh" ucap Firda dan ia melihat kedua tangannya yg juga berlumuran darah pria asing ini, namun Firda tak terlihat takut sama sekali. Membuat Gabriel berdecak kagum.


Penasaran?